» » » Zero Waste; Gaya Hidup Kekinian

Tumpukan sampah plastik di Tempat Pembuangan Akhir (TPA)

Beberapa tahun belakangan, kita selalu dikejutkan tentang adanya pemberitaan di media bahwa terdapat banyak paus  yang mati di lautan karena dalam perutnya terdapat sampah plastik dan  limbah laut lainnya. Tak hanya paus, ternyata penyu dan biota laut lain pun banyak yang mengalami kejadian serupa. Hewan perairan di lautan itu mati karena sampah plastik yang mencemari laut. Tentu jika kondisi ini dibiarkan terus-menerus, hal tersebut tidak hanya mengancam lingkungan, tetapi juga keberlangsungan hidup hewan dan biota laut lainnya.

Kenapa sampah plastik mengancam lingkungan serta keberlangsungan makhluk hidup? Alasan mendasarnya adalah karena sampah plastik sulit terurai dibandingkan jenis sampah  yang lain seperti sampah organik dan kertas. Sampah organik sendiri, semisal seperti sisa buah-buahan dan sayur-sayuran dapat terurai dalam jangka waktu 1-2 bulan. Sedangkan untuk sampah kertas masa terurainya antara 2-5 bulan.

Berbeda dengan sampah plastik, dimana memerlukan waktu bertahun-tahun untuk dapat terurai dengan waktu yang cukup variatif. Hal ini tergantung dari komparasi material yang menyusunnya. Sebagai contoh, untuk kantong plastik membutuhkan waktu 10-20 tahun, sampah sedotan plastik 200 tahun, sampah sikat gigi 400 tahun, sampah popok sekali pakai 450 tahun bahkan untuk sampah styrofoam dan tisu basah tidak dapat terurai. Sampah plastik jika terus dibiarkan akan menyebabkan pencemaran lingkungan, termasuk pencemaran tanah.

Menurut data Statistik Potensi Desa (PODES) Tahun 2018 yang diterbitkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), ada sekitar 2.200 desa/kelurahan di Indonesia yang terdampak pencemaran tanah. Walaupun termasuk jumlah yang sedikit dibanding pencemaran air dan udara, tetapi hal tersebut tidak bisa diabaikan begitu saja. Masalah sampah yang ada, tidak lepas dari faktor bertambahnya jumlah penduduk, pertumbuhan ekonomi, dan pola konsumsi masyarakat yang makin meningkat. Pesatnya pertumbuhan industri juga merupakan faaktor meningkatnya pendapatan rumah tangga dan makin beragamnya pola serta jenis konsumsi masyarakat. Kondisi tersebut menyebabkan bertambahanya volume, beragamnya jenis dan karakteristik sampah dan limbah, termasuk sampah plastik yang dihasilkan dari aktivitas konsumsi tersebut. Dan faktor melimpahnya sampah plastik ditengarai akibat kemajuan teknologi yang menawarkan serba instan dan mudah dalam hal kemasan plastik.

Perilaku Peduli Lingkungan Hidup

Bencana yang diakibatkan oleh penumpukan sampah bisa ditekan jika ada kesadaran masyarakat untuk berperilaku peduli terhadap lingkungan. Salah satunya dengan memilah sampah yang organik maupun anorganik.

Sebenarnya kepedulian terhadap sampah bisa dilihat dari cara pengelolaan sampah yang dilakukan rumah tangga, namun data di lapangan menunjukkan belum sepenuhnya masyarakat Indonesia sadar akan lingkungannya. Data BPS tahun 2014 mencatat bahwa di Indonesia sebanyak 8,75 persen rumah tangga memilah sampah dan kemudian sebagiannya dimanfaatkan, sebanyak 10,09 persen rumah tangga memilah sampah kemudian dibuang, sedangkan persentase sisanya menunjukkan bahwa sebagian besar rumah tangga tidak memilah sampah.

Hasil Survey Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) BPS menunjukkan hanya 1,2 persen rumah tangga yang melakukan daur ulang. Yang perlu mendapatkan cukup perhatian adalah rumah tangga yang membakar sampah mencapai 66,8 persen. Padahal kita ketahui, bahwa pembakaran sampah dapat menyebabkan polusi udara dan berbahaya untuk pernapasan.

Sejalan dengan data di atas, kepedulian masyarakat tentang sampah plastik masih rendah dan dapat dilihat dalam aktivitas berbelanja. Hal ini dapat dilihat dari data hasil Survey Indeks Perilaku Ketidakpedulian Lingkungan Hidup (IPKLH) BPS tahun 2017 yang menyatakan bahwa hanya ada 18,6 persen rumah tangga peduli sampah plastik ketika berbelanja.

Kepedulian terhadap sampah plastik ini ditunjukkan dengan cara menolak plastik kemasan dan atau membawa tas belanja sendiri. Hasil Survey Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) Modul Ketahanan Sosial (Hansos) BPS di tahun yang sama, menunjukkan bahwa terdapat 54,8 persen rumah tangga yang tidak pernah membawa tas belanja sendiri. Hanya 8,7 persen yang selalu membawa tas belanja sendiri ketika berbelanja, selebihnya 26,5 persen menyatakan kadang-kadang, dan 9,9 persen menyatakan sering membawa tas belanja ketika berbelanja. Kedua fakta ini menunjukkan masih rendahnya kesadaran masyarakat Indonesia terhadap kepedulian lingkungan.

Zero Waste Lifestyle, sebuah solusi

Dewasa ini perilaku peduli terhadap lingkungan hidup tidak cukup hanya dengan membuang sampah pada tempatnya. Pada tempat yang kita tempati bersih dari sampah, tetapi menjadi sampah tersebut menjadi masalah di tempat lain, salah satunya tempat pembuangan akhir, pasalnya sampah hanya berpindah tempat. Belum lagi, sampah plastik sulit dan bahkan ada yang tidak bisa terurai. Dengan begitu, perlu diadakan program gaya hidup minim sampah atau bahasa kekiniannya di masyarakat yaitu Zero Waste Lifestyle.

Zero Waste Lifestyle adalah sebuah tren gaya hidup positif yang meminimalisir penggunaan bahan-bahan yang dapat mencemari lingkungan dan menolak pemakaian bahan sekali pakai dalam kehidupan sehari-hari. Tujuan akhirnya adalah tanpa sampah sama sekali. Dalam pengertian yang lain, Zero Waste Lifestyle berisi prinsip yang dijadikan gaya hidup untuk memperpanjang siklus hidup sumber daya sehingga menjadi produk yang dapat dipakai kembali (www.zerowaste.id). Namun bukan berarti kita lantas latah mengikuti tren ala anak muda, jika tren Zero Waste Lifestyle hanya sekadar pemakaian sedotan stainless, totebag, dan tumbler, dengan memiliki beraneka macam produk, gonta-ganti, hal tersebut justru mencirikan gaya hidup konsumtif pula. Pola pikir ini justru salah kaprah, walaupun hanya bagian usaha kecil untuk menekan angka pemakaian sampah plastik dan produk sekali pakai.

Selain itu, Zero Waste Lifestyle juga menjauhi single use plastic atau plastik yang hanya sekali pakai. Tujuannya agar sampah yang sulit terurai tidak dikirim ke TPA. Konsep Zero Waste Lifestyle bukanlah suatu hal yang baru. Banyak negara sudah memulainya sejak lama. Beberapa negara seperti Amerika, Australia, Selandia Baru, Swedia, dan beberapa negara Eropa lainnya telah menerapkan konsep tersebut untuk menjadi solusi konkret pengelolaan sampah.
Di Indonesia, gagasan Zero Waste Lifestyle belum dicanangkan secara nasional, namun beberapa kota sudah memulainya dalam bentuk program Zero Waste Cities. Sebagai contoh, di Provinsi Jawa Barat ada 3 kota yang ditargetkan menjadi kota percontohan penerapan konsep Zero Waste Cities, yaitu Kota Cimahi, Kota Bandung, dan Kabupaten Bandung. Yang terakhir adalah Pemkot Semarang yang mencanangkan gerakan “Semarang Wegah Nyampah” akhir tahun 2019 kemarin dimana Pemkot Semarang mengajak masyarakat menstop penggunaan plastik sekali pakai agar Kota Semarang tambah bersih, moncer, dan tambah hebat tanpa sampah plastik.

Walaupun demikian, kita bisa memulainya dari diri sendiri, keluarga dan lingkungan kita. Dimulai dengan menerapkan prinsip-prinsip Zero Waste Lifestyle melalui gerakan 5R yang dipopulerkan oleh Bea Johnson, yaitu Refuse, Reduce, Reuse, Recycle dan Rot atau dalam Bahasa Indonesia berarti Menolak, Mengurangi, Menggunakan Kembali, Mendaur Ulang, dan Membusukkan.

Pertama, Refuse (Menolak), kita bisa menolak kantong plastik  nonbiodegradable saat berbelanja. Tentu kita pun harus mempersiapkan kantong belanja sendiri dari rumah.

Kedua, Reduce (Mengurangi), kita dapat menghindari pemakaian dan pembelian produk yang menghasilkan sampah dalam jumlah besar. Selain itu, kita bisa menggunakan produk yang dapat diisi ulang.

Ketiga, Reuse (Menggunakan kembali), kita dapat menggunakan kembali wadah/kemasan dengan fungsi yang sama secara berulang-ulang. Contohnya menggunakan baterai recharge, menggunakan plastik bekas minyak goreng sebagai pengganti polybag.

Keempat, Recycle (Mendaur ulang), kita dapat menggunakan produk dan kemasan yang dapat didaur ulang dan mudah terurai. Selain itu, kita juga dapat melakukan penanganan sampah organik menjadi pupuk kompos. Serta melakukan penanganan sampah anorganik menjadi barang yang bermanfaat.

Terakhir, Rot (Membusukkan), kita dapat membusukkan sampah organik menjadi pupuk kompos. Salah satunya dapat dilakukan dengan cara membuat lubang biopori. Hal ini tentu saja dapat mengurangi beban TPA secara signifikan.

Ke depan, untuk mendukung gerakan 5R dan menumbuhkan Zero Waste Lifesyle ini perlu adanya kolaborasi dari semua pihak, baik pemerintah, swasta, dan terutama masyarakat sebagai penyumbang dan penerima ekses negatif pencemaran. Namun, tanpa harus menunggu kita bisa menyadari arti penting menjaga lingkungan dengan memulai Zero Waste Lifestyle dari diri kita dan lingkungan terkecil kita.

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply