» » » Satu Nyali Arek Surabaya

Satu Nyali Arek Surabaya

Tanggal 31 Agustus 1945 atau kurang lebih setengah bulan setelah proklamasi kemerdekaan, pemerintah RI menyerukan bahwa mulai 1 September 1945 bendera merah putih dikibarkan di seluruh wilayah Indonesia.

Euforia nasionalisme pun menyebar luas, termasuk di Surabaya. Arek-arek di kota ini memang terkenal pemberani. Maka, ketika pada 19 September 1945 bendera triwarna milik Belanda dikibarkan di Hotel Yamato (kini Hotel Majapahit), para pemuda di Surabaya langsung bergerak.

Hotel Yamato yang dibangun sejak 1910 itu memang menjadi markas sementara bagi tentara Sekutu yang tergabung dalam Allied Forces Netherlands East Indies (AFNEI). Batara Richard Hutagalung dalam Sepuluh November Empat Puluh Lima (2001) mengungkapkan, mereka datang ke Surabaya untuk mengurusi sisa-sisa prajurit Jepang, juga membebaskan tentara Belanda yang masih menjadi tawanan.

Terjadi kericuhan di Hotel Yamato antara kaum muda Surabaya dengan orang-orang asing tersebut. Massa pun berdatangan. Di tengah situasi rumit itu, sejumlah pemuda naik ke atap hotel dan menurunkan bendera Belanda.

Lantaran tidak ada yang membawa bendera Indonesia, maka warna biru di bagian paling bawah bendera Belanda disobek hingga menyisakan warna merah dan putih saja. Bendera merah-putih hasil sobekan inilah yang kemudian dikibarkan kembali.

Akibat insiden itu, pecah konflik bersenjata. Sekutu lalu menawarkan perdamaian yang disepakati pihak Indonesia pada 29 Oktober 1945. Malam harinya, sebagaimana dicatat Pramoedya Ananta Toer dan kawan-kawan dalam Kronik Revolusi Indonesia 1 (2005), Presiden Sukarno menyampaikan hasil perundingan itu melalui Radio Surabaya.

Namun, hanya sehari berselang, yakni 30 Oktober 1945 malam, Mallaby tewas. Mobil jenderal Inggris itu terbakar terkena ledakan granat. Insiden yang terjadi di masa gencatan senjata ini membuat pihak Sekutu, khususnya Inggris, sangat marah, sehingga dikeluarkanlah ultimatum oleh Mansergh.

Menurut Mansergh, seperti dipaparkan Batara Richard Hutagalung melalui buku Serangan Umum 1 Maret 1949 dalam Kaleidoskop Sejarah Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia (2010), orang Indonesia di Surabaya telah melakukan kejahatan atas peradaban (crime against civilization) dan untuk itu Inggris akan memberikan hukuman (hlm. 206).

Mansergh juga menyebutkan dalam ultimatumnya, jika peringatan Inggris tidak dipenuhi, maka bakal meletus peperangan besar. Dan apabila perang benar-benar pecah, para pemimpin Indonesia yang harus bertanggungjawab atas pertumpahan darah yang akan terjadi.

[Sumber]


«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply