» » » 9 Orang Indonesia yang Menjadi Nama Jalan di Belanda - Part 9 (Roestam Effendi)

9 Orang Indonesia yang Menjadi Nama Jalan di Belanda - Part 9 (Roestam Effendi)

Roestam Effendi 

Pada 1935, usai Ratu Belanda Wilhelmina memberikan sambutan, semua orang bersorak: “Leve Oranje!” Di tengah-tengah gemuruh sorak tersebut terdengar pekikan: “Indonesia Merdeka!” Sontak semua orang panik. Petugas keamanan segera menyeret orang Indonesia itu dan menghajarnya sampai babak belur. Adalah Roestam Effendi, seorang pejuang yang tidak mengenal rasa takut di tengah negeri penjajah tersebut.

Dilahirkan di Padang, 13 Mei 1903, Roestam merupakan seorang pemikir yang giat menyuarakan kemerdekaan. Setelah lulus dari sekolah tinggi guru untuk bumiputra di Bandung, ia menjadi guru di Siak Sri Indrapura, Riau. Sebelum pergi ke Belanda, Roestam aktif di dunia politik dan sangat giat menuliskan gagasan-gagasannya melalui berbagai media tulis.

Pada 1920-an, ia pernah menulis sebuah drama sajak berjudul Bebasari yang dicekal oleh pemerintah Belanda. Isinya dianggap memprovokasi rakyat untuk melawan. Sehingga ketika akan dipentaskan oleh mahasiswa kedokteran di Batavia pemerintah kolonial buru-buru mengeluarkan larangan.

Di Belanda, Roestam aktif bergerak di Perhimpunan Indonesia (PI) pimpinan Mohammad Hatta. Ia dipercaya mengurus majalah perhimpunan tersebut, sekaligus menjadi penghubung antar organisasi di Belanda. Roestam dikenal sebagai seorang radikal. Tampak dalam tulisan-tulisannya yang dimuat majalah-majalah kiri, seperti Links Socialist, De Opbouws, De Anti Muiliteristi, dan De Branding.

Roestam adalah orang Hindia Pertama yang menempati jabatan anggota Majelis Rendah Belanda mewakili Partai Komunis Belanda. Saat itu umurnya 30 tahun, termuda di antara seratus anggota yang ada. Di Parlemen, Roestam dikenal lantang berbicara. Ia tidak takut dengan posisinya sebagai orang Hindia yang sedang dijajah negeri itu.

Roestam pulang ke Indonesia pada 1947. Ia telah dikenal luas sebagai penyambung lidah rakyat Indonesia di negeri Belanda. Di Indonesia, dirinya masih sering menulis pemikiran-pemikirannya di koran, dan dikenal sebagai sastrawan.

[sumber]

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply