» » » 9 Orang Indonesia yang Menjadi Nama Jalan di Belanda - Part 3 (RM. Soewardi Soerjaningrat)

9 Orang Indonesia yang Menjadi Nama Jalan di Belanda - Part 3 (RM. Soewardi Soerjaningrat)

RM. Soewardi Soerjaningrat

Berbeda dengan Tan Malaka, RM Soewardi Soerjaningrat alias Ki Hadjar Dewantara memiliki cara sendiri dalam melakukan perlawanan terhadap kolonialisme Belanda. Dilahirkan di Yogyakarta, 2 Mei 1889, Soewardi dianggap sebagai tokoh pemikir yang tenang, namun tulisannya dapat mengusik kekuasaan Belanda di tanah jajahannya.

Seperti tulisan singkatnya, “Als ik eens Nederlander was” (Andai Aku Seorang Belanda), yang mengkritisi perayaan 100 tahun Negeri Belanda lepas dari cengkraman Prancis. Baginya beban finansial perayaan yang dibebankan kepada masyarakat di Hindia Belanda merupakan “ sebuah ironi masyarakat jajahan yang harus membiayai pesta kemerdekaan para penjajah”.

Berselang sepekan dari kritiknya itu, Soewardi kembali membuat tulisan, “Een voor Allen, Allen voor een” (Satu untuk Semua, Semua untuk Satu), diterbitkan De Express 28 Juli 1913. Geram dengan tulisan-tulisan Soewardi, pemerintah Belanda segera bergerak untuk menindaknya.

Soewardi berserta koleganya, Tjipto Mangkunsumo  dan Douwes Dekker, lantas ditangkap dan dipenjarakan. Pada 18 Agustus 1913, hakim memutuskan tiga serangkai itu diasingkan ke Bangka, Banda Neira, dan Kupang. Namun mereka menolak. Ketiganya lebih memilih luar negeri sebagai tempat pengasingannya. Akhirnya diputuskan bahwa mereka dikirim ke Belanda.

Perjuangan lain Soewardi adalah mendirikan sekolah Taman Siswa pada 3 Juli 1922 di Yogyakarta, buntut dari kegelisahannya akan pendidikan di Hindia Belanda yang diskriminatif. Ia ingin semua orang dapat memperoleh pendidikan, tidak peduli status sosialnya. Namun halangan dari pemerintah kolonial kembali dilakukan.

Mereka memberlakukan peraturan yang memberatkan pelaksanaan sekolah pribumi tersebut. Akhirnya Soewardi mengancam akan melakukan pembangkangan. Karena tidak menggubris ancamannya, Soewardi akhirnya tetap menjalankan pendidikan dan terus mengembangkan Taman Siswa menjadi model pendidikan rakyat yang baik di masa kolonial Belanda.

[Sumber]


«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply