» » » Organisasi Itu Tidak Penting?


"Organisasi itu enggak penting. Mending fokus kuliah aja. Lalu menjadi orang besar dari belajar kuliah itu. Dan kita capek pulang malam bukan karena rapat-rapat yang enggak penting, tapi buat ngehasilin hal besar."

Dan komentar-komentar serupa. Tetapi bagi saya, argumen-argumen tersebut benar tapi salah.

Benar. Mengapa benar? Memang sih sebagian kata-katanya ada yang benar. Ya benar, kita datang kuliah untuk belajar. Untuk lulus. Untuk menunaikan amanah dari orang tua. Dan harus menjadi orang besar dari kuliah itu.

Lalu di bagian manakah salahnya? Siapa bilang organisasi itu tidak penting? Banyak ilmu yang dapat kita dapatkan dari sebuah organisasi. Dan tidak hanya ilmu, banyak hal yang bisa kita dapatkan darinya. Namun, semua itu tidaklah instan. Apa enaknya kita sedikit-sedikit mendapat yang instan? Cuma hambar rasanya. Apa enaknya makan makanan instan terus? Lebih baik kita makan makanan rumah. Dan sama seperti sebuah organisasi. Mau dapat banyak hal dari sebuah organisasi? Sabar dulu, semua ada prosesnya.

Semua berawal dari niat. Apa niat saya ikut organisasi? Apa niatmu ikut organisasi? Apa niat kita ikut organisasi? Hanya untuk keuntungan pribadi sajakah? Atau mungkin ada niat lebih mulia dibalik itu? Jika memang benar kita ikut organisasi hanya untuk mendapatkan keuntungan pribadi saja, kita pasti akan sangat kecewa berat saat tahu bahwa organisasi tersebut tidak memberikan apa yang kita harapkan. Lalu apa jadinya? Nge-down. Kita merasa telah memberikan segalanya, telah mengorbankan segalanya—entah itu harta, tenaga, maupun waktu—pada organisasi tersebut, tapi apa yang kita dapatkan sebagai timbal baliknya?

Tak sedikit memang orang yang masih berpikiran pragmatis terhadap sebuah organisasi. "Jangan tanyakan apa yang agamamu berikan padamu, tapi tanyakanlah apa yang kamu berikan pada agamamu." Kalimat itu adalah sebuah kalimat bijaksana dari Ali bin Abu Thalib r.a, salah satu shahabat Nabi Muhammad SAW. Mari kita simak makna kata-katanya. Bukan timbal baliknya yang kita harapkan, tapi perjuangan dan pengorbanan kita untuknya. Seperti itulah Islam. Bukan balasan dunia yang kita harapkan, karena kita yakin pasti akan ada balasan lain dari Allah yang akan kita terima tanpa kita meminta sebelumnya.

Tahu tidak kita ikut organisasi itu tidak hanya sendiri. Organisasi itu sebuah wadah orang-orang yang mempunyai satu visi. Pasti terdapat beragam karakter manusia di dalamnya. Ada yang sangat dewasa, ada yang masih suka manja, ada yang egois, ada yang dan lain-lain. Dan pasti ada seorang pemimpin yang mengkoordinasi mereka semua. The leader. Apalagi organisasi di tingkatan kampus. Dengan jadwal agenda kesibukan yang berbeda-beda. Dengan latar belakang keluarga, agama, dan budaya yang berbeda-beda. Hingga dengan jurusan, bahkan fakultas yang berbeda-beda. Di sinilah sebenarnya tantangannya. Tidak asik jika kita hanya ada di organisasi tingkatan RT, cuma teman-teman sepermainan sekitar rumah kita saja yang akan kita kelola. Terlalu mudah untuk mahasiswa cerdas seperti kita.

Selain itu, di dalam organisasi, skill seorang manajer diasah di sini. Menentukan jadwal rapat yang tepat agar semua dapat hadir. Mengelola orang-orang yang masing-masing memiliki latar belakang disiplin ilmu yang berbeda. Sangat menyenangkan bukan? Namun, hal ini tidaklah selalu berjalan mulus. Sama seperti sebuah ombak. Pasti ada saatnya dimana kita harus naik. Dan ada saatnya dimana kita harus turun. Itulah dinamika kehidupan. Seperti sebuah roda yang terus berputar. Jika kemarin kita sukses melakukan suatu kegiatan, mungkin besoknya kita akan ada sedikit kekendoran. Dan inilah yang harus selalu kita koreksi. Fungsi evaluasi memainkan perannya di sini. Itulah mengapa filosofi tangga naik dibutuhkan dalam sebuah organisasi. Agar untuk menjaga kualitas organisasi tersebut, dan harus ada peningkatan, minimal tetap, dan jangan sampai turun.

Tahu sistem kaderisasi berjenjang dalam sebuah organisasi di tingkatan kampus? Yaitu sebuah sistem di mana angkatan teratas di organisasi tersebut mengemban amanah tertinggi. Mungkin itu ketua, atau wakil, atau sekretaris, dsb. Lalu angkatan terbawah memegang amanah tingkat bawah. Bukan berarti mereka tidak berkompetensi. Mereka punya, tetapi perlu bimbingan dari kakak tingkatnya untuk membantu mereka mewarnai hidup mereka. Jadi ada yang dituakan sebagai tempat konsultasi, atau istilah kerennya SC (Steering Commitee) dan juga ada proses transfer ilmu.

Dan jangan lupa, di organisasi, kita semua sama-sama belajar, entah itu ketuanya, wakilnya, staffnya, atau siapapun, kita semua sama-sama belajar. Jadi jangan heran jika terkadang ada kesan kurang professional. Tapi itu semua harus sama-sama kita hilangkan karena itu adalah tanggung jawab semua orang di organisasi tersebut. Tidak hanya satu orang. Kita jangan hanya mengeluh atas ketidakprofesionalismeannya organisasi tersebut. Dimana aksi real kita untuk mengubah itu semua? Talk less do more. Mulailah dari diri kita sendiri sambil mengintrospeksi diri.

Banyak orang bilang bahwa seorang aktivis pasti IPK-nya Nasakom. Nasakom di sini bukan Nasakom—Nasionalis Agama Komunis. Bukan! Tapi "Nasib Satu Koma". Dan juga seringkali aktivis tersebut sering mengkambinghitamkan masalah organisasi sebagai jalan mulus untuk mendapatkan nilai jelek, bahkan hancur, atau mungkin mengulang. Bagi saya dia bukanlah seorang aktivis, tapi hanya seorang pecundang yang ­sok-sokan ingin disebut aktivis. Aktivis sejati bisa menjaga nilai-nilai agar selalu baik, bahkan terbaik. Prestasinya juga tak kalah menarik, kejuaraan-kejuaraan tingkat nasional maupun internasional dia ikuti, walaupun tak selalu menang. Mendapatkan beasiswa bukan barang asing lagi baginya, itu sudah menjadi makanan sehari-harinya. Bahkan jika mau, bisa memulai merintis bisnis untuk biaya hidupnya sendiri. Mungkin orang-orang akan heran dan merasa mustahil, memangnya ada mahasiswa seideal itu? Ada. Dan banyak. Pasti setiap universitas memilikinya. Coba saja cari, pasti mahasiswa seperti itu sangat mudah ditelusuri. Lalu pertanyaannya, siapkah kita menjadi seorang aktivis sejati seperti itu? Sudah sematang apakah visi hidup kita, kita rencanakan? Sudah sejauh manakah usaha kita untuk merealisasikan misi-misi tersebut? Tanya diri kita masing-masing.

Mungkin orang awam berpikir sebuah organisasi kerjaannya hanya bikin eveeeeennnntt terus. Yah namanya juga orang awam. Mereka belum begitu mengerti filosofi atau makna dari sebuah organisasi. Sebuah organisasi tidak sembarangan menjalankan sebuah proker, pasti ada goal-nya. Dan goal­-nya itu memiliki filosofi yang mendalam. Hanya orang-orang dengan kemampuan intelektual tinggi seperti mahasiswa yang mampu mengkonsepnya dengan baik dan bijak. Seperti misal, sebuah organisasi pasti memiliki bidang yang menaungi hal pengkaderan. Dalam bidang pengkaderan, sebuah proker bukanlah proker sembarangan dan main-main. Ada filosofi yang mengakar di dalamnya. Ada tujuan besar di baliknya. Organisasi itu beda dengan sebuah EO (Event Organizer) yang hanya mengorganisasi sebuah event untuk dilaksanakan tanpa ada feel-nya, karena yang mereka kejar hanya deadline, bukan filosofi. Ingat, sebuah organisasi itu memiliki sebuah visi yang dijunjungnya. Dan lagi proker sebuah organisasi tidak terus-terusan hanya diisi dengan mengorganisasi sebuah event, mungkin ada sebuah proker yang lebih mendasar. Bahkan jika kita semua tahu, sebuah lembaga birokrasi di universitas pun juga menggunakan sistem yang sama seperti layaknya sebuah organisasi.

Seorang organisator dituntut untuk dapat melakukan banyak hal dalam waktu yang bersamaan. Saat ini sedang ada proker, sedangkan sebentar lagi deadline tugas dikumpul. Hal inilah yang mendesak seorang organisator untuk dapat mengelola waktunya dengan baik, dan tidak ada waktu yang terbuang sia-sia. Beda halnya dengan mahasiswa luntang-lantung yang mondar-mandir kampus kantin kos, hidup seperti tidak bermakna. Tidak terstruktur dengan baik. Dalam pikiran mereka, jalani hidup seperti air yang mengalir, tidak ada arahan yang jelas, maka tunggu sajalah kau akan diseret ke arus yang deras lalu jatuh ke air terjun.

Inilah yang menjadi nilai plus seorang organisator. Dia memiliki kompetensi untuk menentukan arahan hidup yang jelas. Terbiasa untuk mengatur hidupnya sendiri, sehingga akan lebih mudah untuk mengatur orang lain dalam amanah sebagai pemimpin, sehingga tidak heran jika orang besar berawal dari orang-orang yang mempunyai visi hidup yang jelas. Mungkin jika kesibukan kita di perkuliahan hanya sekedar belajar mata kuliah perkuliahan, kita tidak akan menjadi seburuk mahasiswa luntang-lantung tersebut, tapi mungkin akan sedikit lebih baik. Berkutat-katit dengan perkuliahan saja tanpa ada kompetensi di bidang lain hanya akan menambah jajaran jumlah pengangguran di Indonesia saja.

Mengapa saya bilang begitu?

Coba kita sama-sama pikir. Jika ada dua orang lulusan sarjana yang pertama memiliki IPK 3.0,lalu yang kedua memiliki IPK 3.5 tapi yang pertama memiliki pengalaman memimpin dan mengelola sebuah organisasi, sedangkan yang kedua sedikitpun tidak memiliki kompetensi dalam bidang pengembangan diri, yang ia miliki hanya kemampuan hard skill, maka yang manakah yang akan diterima untuk bekerja? Pasti yang pertama bukan? Kemampuan IQ bukanlah prioritas penentu dalam kesuksesan hidup seseorang. Masih ada dua faktor yang lain ,yaitu EQ dan SQ. Bahkan sampai-sampai pernah ada teman saya yang mengatakan bahwa kuliah itu hanya fasilitas. Dan lagi pengajaran yang kita dapat dari kuliah tidak 100% kita gunakan di dalam dunia kerja. Tidak sampai seperempatnya. Sebab yang dibutuhkan di dalam dunia kerja tidak lain dan tidak bukan adalah kompetensi soft skill.

Ikut organisasi itu tidak dibayar lho. Lalu mengapa ada saja orang yang mau ikut dengannya? Karena bukanlah orang-orang sembarangan yang bisa ikut di dalamnya. Hanyalah orang-orang dengan jalan pemikiran maju dan mementingkan kepentingan masyarakat luas yang bisa ikut di dalamnya. Bukan orang-orang dengan pemikiran pragmatis dan hanya mementingkan dirinya sendiri yang dalam otaknya hanya ada kata 'aku', 'aku', dan 'aku'. Seorang organisator bukanlah mahasiswa yang nilainya tinggi menjulang tapi lupa dengan nasib orang-orang sekitarnya. Seorang organisator bukanlah mahasiswa yang terus menerus mengikuti kejuaraan tapi lupa dimana ia berpijak. Seorang organisator bukanlah mahasiswa yang selalu ingat dengan visi pribadinya tapi lupa dengan visi bangsanya. Seorang organisator adalah mereka yang walaupun terbang tinggi ke angkasa tapi mereka selalu ingat darimana mereka berasal. Kacang tak lupa akan kulitnya. Itulah peribahasa yang cocok digunakkan oleh seorang organisator.

Terdapat empat kompetensi seorang mahasiswa: Sosial Politik, Akademis dan Riset, Minat dan Bakat, dan Religius. Keempat kompetensi ini haruslah seimbang, tapi ada satu yang paling menonjol dibandingkan dengan yang lain, maka yang paling menonjol itulah terdapat kompetensi kita. Masing-masing kompetensi terdapat organisasi yang dapat menyalurkan kompetensi kita tersebut. Misal Sospol, maka ikut dengan organisasi politik seperti BEM dan Senat Mahasiswa. Jika Akademis dan RIset, maka ikut dengan forum-forum studi atau riset. Jika Minat dan Bakat, kita dapat menyalurkan bakat di UKM-UKM olahraga. Jika Religius, kita dapat menyalurkannya di UKM-UKM Rohani. Namun dari semua kompetensi tersebut yang paling utama adalah kompetensi religius, karena ini adalah yang paling dasar dan harus ditanamkan dalam-dalam ke dalam hati, pemikiran, dan akhlak kita. Oleh karena itu, kompetensi religius harus memiliki tingkatan kompetensi yang tinggi.




Dari akun Facebook Reza Dwi Utomo

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply