» » » Suara Hati Anak Negeri Yang Patah Hati


Hari ini…

Orang sudah tak malu lagi berebut kuasa. Sikut sini sikat sana. Terang-terangan disorot di media. Yang ada kok seperti biasa-biasa saja, ya? Bukan malu malah makin menjadi-jadi yang ada.

Maling berdasi terang-terangan mencuri, tapi masih saja dihargai, malah diberi grasi, bahkan kebal dari masuk bui. Padahal pantas dihukum mati. Aduh aduh aku sungguh tak mengerti.

Negeri ini sudah tak jelas dipimpin siapa. Apa mau dikata, pencitraan saja jelas tak bisa buat bangsa ini digdaya.

Hukumnya sendiri dikebiri. Kejantanan penegak hukum hilang sebab nyali sudah terbeli. Politik busuk atau uang berpeti-peti, ini yang jadi kata kunci.

Rupiahnya semakin tak berharga, apa harus ‘nol’-nya ditambah jadi berapa? Kaya sih kaya, alamnya. Tapi rasanya masih seperti dijajah saja. Ibu Bapak di desa makin susah cari uangnya. Mungkin yang di kota juga sama. Harga-harga melonjak semua. Penguasa kita sudah terbiasa berkilah ini bukan urusan saya.

Katanya mental orang-orang disini mau direvolusi? Mana nih kok belum jadi? Keteladanan bisa mengawali, tapi aku pun masih mencari-cari. Dan belum kutemui. Padahal ini yang paling kutunggu dari Jokowi. Sebentar lagi masyarakat ekonomi asean sudah dimulai, tapi ya masih begini. Katanya bonus demografi. Tapi, mental dan kualitas penduduk usia produktifnya belum diurus pak menteri.

Oh iya, sumber daya alam kita kan kaya. Tapi katanya kita masih belum mampu mengelola. Ah masa iya? Mau menasionalisasi blok mahakam saja susahnya tak terkira.

Kawan, Aku ingin bisa sombong sebagai seorang Indonesia. Tapi apa yang bisa kusombongi kalau terus begini? Negara carut marut tak keruan. Krisis sudah menunggu di depan. Sementara arus globalisasi semakin deras menghantam. Aku hanya bosan dengan janji-janji. Aku hanya ingin segera jadi tuan di rumah sendiri, bukan babu.

Ini bukan pesimisme, Kawan. Orang bijak bestari bilang, daripada mengutuk kegelapan, lebih baik kita nyalakan lilin. Tapi buatku sekarang, untuk negeri sebesar Indonesia, kegelapan tak bisa terus dibiarkan. Kegelapan harus  disingkirkan!

Keluh kesahku malam ini setidaknya memantikmu untuk ikut menyingkirkan kegelapan yang lain, atau lebih baik kau nyalakan cahayamu. Mengutuk kegelapan atau menyalakan lilin, tak ada yang salah antara keduanya. Yang salah adalah diam dan mendiamkan.

Kawan, Sampai jumpa di Indonesia yang kita rindukan!



sumber

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply