» » » Pemuda Tanpa Nilai Kepemudaan


Sejarah dunia tentang rentetan perubahan, entah itu perubahan sosial, budaya dan lain sebagainya senatiasa ditandai oleh aksi (gerakan) segelintir orang. Dalam skala nasional atau kebangsaan kita, dapat dilihat dari hanya sebagian kecil individu atau kelompok yang memikirkan nasib bangsa.

Semua itu lahir dari suatu perenungan yang mendalam akan kehidupan sosialnya. Dari satu upaya untuk mengungkapkan makna-makna yang tersembunyi di balik setiap fenomena yang ada. Tentu semua itu memerlukan kesadaran diri, dipahami sebagai satu panggilan jiwa untuk melakukan suatu perubahan.

Sebagaimana dipahami pula bahwa suatu perubahan tidak lahir dari suatu ruang kosong, dari suatu keadaan yang tercipta dengan sendirinya. Sebab segala hal memiliki proses kelahirannya masing-masing. Itu artinya bahwa setiap perubahan memerlukan sebab-sebabnya sendiri.

Pada masa kini, kebanyakan dari kita dalam melihat sesuatu lebih kepada kulit ketimbang isi yang ada di dalamnya. Bagaikan durian yang berduri di luarnya dan lezat isinya. Apalagi sikap yang demikian itu dilatarberlakangi oleh cara berpikir yang kolot lagi jahil. Memang, tidak semua demikian, namun lebih banyak yang begitu.

Yang disayangkan adalah mereka-mereka yang baik dan terbuka cara berpikirnya tidak berkumpul dan memikirkan nasib pergerakan pemuda, bangsa dan negara Indonesia pada waktu kini agar lebih baik lagi di waktu yang akan datang. Sebagaimana prinsip yang sudah terkenal bahwa kejahatan yang sisitematis dan terkoordinir akan mengalahkan kebaikan yang tidak sistematis atau terkoordinir dengan baik.

Artinya kita butuh suatu koordinasi antara sesama kita. Satu konsensus kaum pemuda pergerakan jika memang betul pemuda itu agen perubahan. Sedangkan kita ketahui bahwa perubahan sosial itu tidaklah instan. Perubahan sosial membutuhkan berbagai instrumen dan sumber daya manusia dari segi kualitas maupun kuantitas.


Menjamurnya Aktivis Musiman

Pada era reformasi sekarang ini, kita sering kali mendapatkan gerakan kepemudaan yang saban hari berteriak lantang tentang perubahan. Entah apa yang mereka maksudkan tentang perubahan itu.

Hampir setiap saat banyak sekali gerakan pemuda yang melakukan aksi massa sebagai satu bentuk kritik sosial, namun perubahan sosial yang dituntut tak kunjung tercapai. Pertanyaannya adalah di manakah letak kekeliruan daripada setiap kritik sosial tersebut? Ini adalah pertanyaan yang wajib kita jawab bersama.

Kita harus melihat ke dalam daripada gerakan pemuda yang ada. Apakah memang betul mereka yang mengatasnamakan gerakan perubahan itu ialah gerakan perubahan sesungguhnya?

Apakah mereka-mereka yang mengaku para pemuda generasi bangsa memanglah berjalan dalam relnya gerakan pemuda yang telah di gariskan oleh sejarah sejatinya? Ternyata tidak! Sebab, sebagian besar dari setiap gerakan itu dihuni dan di nahkodai oleh para aktivis musiman.

Lalu apakah aktivis musiman itu? Aktivis musiman itu ialah aktivis gadungan. Aktivis yang ada ketika adanya momentum tertentu. Aktivis yang kiprahnya ditentukan oleh ada atau tidaknya keuntungan pribadi atau kelompok yang diperoleh dari suatu proyek gerakan perubahan.

Aktivis musiman itu ialah mereka yang berteriak dengan tujuan mengenyangkan perut mereka. Yang melakukan aksi massa untuk sekadar gaya-gayaan agar dikenal sebagai seorang pemuda gerakan. Ini adalah kondisi empiris yang kita temui di sebagian besar gerakan-gerakan saat ini. Lalu kita masih berbicara perubahan sosial yang sesungguhnya? Omong kosong jika kondisi lapangan masih demikian adanya.


Krisis Identitas Kepemudaan

Pemuda pergerakan bukanlah satu istilah tanpa makna. Dalam sejarah dunia, pemuda pergerakan senantiasa mengambil peran begitu penting dalam melakukan suatu perubahan. Tak terkecuali pergerakan kemerdekaan bangsa indonesia.

Pemuda pergerakanlah yang memberikan sumbangsih begitu besar pada kemerdekaan bangsa ini sebagaimana termaktub dalam preambule UUD 1945 alinea ke-3 dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentausa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

Kondisi para pemuda saat ini bagaikan dua orang yang berjalan menuju satu warung untuk membeli alat tulis (pulpen) di mana keduanya membeli pulpen dengan warna yang berbeda. Pemuda yang satu memilih pulpen berwarna merah, dan biru oleh yang lainnya. Kemudian keduanya saling meledeki, bahwa pulpen yang lain buruk sedangkan miliknya lebih baik dan lebih indah.

Begitulah pertentangan itu. Namun mereka lupa bahwa tujuan dari pulpen dan fungsi dari pulpen itu ialah untuk digunakan menulis, menulis apa saja. Tidakkah mereka berpikir untuk lebih baik mereka gunakan pulpen itu untuk menorehkan tinta-tinta pulpen itu di atas lembaran-lembaran hikmah peradaban ketimbang saling mengkerdilkan berujung sikap prejudis. Bukankah pilihan itu adalah persoalan selera yang tidak perlu untuk diperdebatkan!

Imbas dari masalah-masalah di atas ialah lahirnya satu keadaan di mana para pemuda mengalami krisis moral dan etika yang seharusnya dijadikan standar dalam interaksi pergerakan. Akhirnya, sebagian dari kita tidak mampu menyelesaikan setiap persoalan dengan kepala dingin dalam berorganisasi.

Bagaimana ketika berhadapan dengan pihak yang berbeda pemahaman dengan kita tanpa menghilangkan nilai-nilai moral dan etika yang di sepakati bersama. Pada akhirnya pula kita sering kali menggunakan cara-cara yang tidak elok lagi elegan di mana tindakan-tindakan tersebut tidak menggambarkan identitas kita sebagai kaum terpelajar. Kita mengaku kaum terdidik tapi sering kali berperilaku seperti orang-orang yang hidup di jalanan.

Bahkan terkadang orang yang hidup di jalanan itu lebih terdidik sikap dan perilakunya ketimbang sebagian dari kita yang mengaku kaum intelegensia.

Semua permasalahan tersebut bagi penulis bermuara pada satu titik: semakin berkurangnya pemahaman serta pemaknaan tentang nilai-nilai kepemudaan. Memahami serta memaknai identitas kita sebagai pemuda itu sangatlah penting. Sebab, sebagaimana diketahui bahwa barang siapa tak mengenal dirinya maka tentu ia tidak akan pernah mengetahui dari mana ia berasal.

Barang siapa yang tidak mengetahui darimana ia berasal, sudah barang tentu pula mereka tidak memiliki pijakan awal dalam gerak kehidupannya.

Bukankah kita ketahui bersama bahwa dalam pergerakan kemerdekaan Indonesia kaum pemuda mengambil peran yang begitu besar dalam melawan kaum penjajah? Maka, itu artinya sejarah memang menetapkan satu standar bagi relnya pergerakan kaum pemuda.

Pemuda pergerakan senantiasa ditakdirkan untuk mengambil peran dalam suatu perubahan sebagai agen perubahan. Karena kita adalah pelopornya, penggeraknya satu perubahan, dan akan seperti itu adanya di tengah-tengah mereka yang sibuk bersenggama dengan dunia yang hina lagi fana. Kita sebagai pemuda harus mampu mengatakan salah terhadap hal yang salah, pula tidak semestinya berkompromi dengan segala bentuk kezhaliman.

Kita sering kali berbicara berdaulat di atas tanah air sendiri, sedangkan begitu banyak bahkan tak tersisa kekayaan alam kita dikuasai oleh asing. Apalagi memimpikan kehidupan yang adil dan makmur.

Bagaimana kita bisa bersatu untuk mewujudkan cita-cita luhur itu, jika di sana-sini kita masih saja saling menyalahi dan menjatuhkan sesama pemuda pergerakan yang tergabung dalam organisasi kepemudaaan yang berbeda-beda namun tak disadari bahwa kita memiliki satu tujuan.

Last but not least, hal itu disebabkan minimnya pengetahuan akan identitas kepemudaan. Faktor penting lainnya ialah: pertama, kurangnya budaya baca, diskusi serta kajian keilmuan karena kebanyakan pemuda saat ini terjerembab ke dalam selokan hedonisme yang dalam.

Sebagian besar pemuda saat ini malas membaca karena beranggapan bahwa membaca itu membosankan. Kita malas berdiskusi karena di tempat-tempat diskusi biasanya hanya sedikit yang hadir.

Pertanyaannya kemudian, apakah kita adalah bagian dari yang sedikit itu? Jika tidak, maka tidak pantas kita mengatakan seperti itu. Tapi katakanlah jika yang datang lima orang maka aku salah satunya, jika yang datang tiga orang maka aku di antara yang tiga. Bahkan jika yang datang hanya satu orang maka katakanlah akulah orang itu. Sikap seperti inilah yang mesti ditanamkan dalam benak kita kaum pemuda masa kini.

Kedua, perilaku hedon yang kian menjamur di seantero negeri pada era milenium sekarang ini semakin memperparah kondisi kepemudaan Indonesia masa kini. Anak-anak muda lebih mementingkan bentuk luar daripada kedalaman ilmu yang dimiliki, serta perilaku konsumtif yang hampir mengakar dalam kehidupan kita yang semakin memperparah keadaan.

Karena itu, untuk membangun nilai-nilai kepemudaan, yang dengan nilai, semangat dan militansi itu kita dapat mengusahakan perwujudan peradaban bangsa Indonesia di abad ke-21.

Kita harus membuang segala macam sifat dan sikap kolot, picik, kerdil lagi jahil yang selama ini menjadi virus dalam tubuh kita dan membersihkan pikiran dan orientasi materi, hedon dan kenyamanan yang akan semakin melemahkan, bahkan juga membuat kita tak berdaya dalam setiap gerak pikir dan tindakan gerakan kita. Sekian. Salam Peradaban.



sumber

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply