» » » Pemuda sebagai Penerus dan Pelurus Politik


Politik. Satu kata dengan dua sisi makna yang dapat tertafsir bertolak belakang. Satu kata yang juga mampu mengundang hasrat untuk berpikir dengan mendalam. Bagi masyarakat Indonesia, istilah politik tidak menjadi hal asing yang lalu lalang diterima dan di proses indra pendengaran. Hampir semua media massa dan media cetak menempatkan ruang khusus untuk mengupas tuntas permasalahan aktual dalam politik.

Tidak heran jika begitu banyak opini muncul dan menggeser makna, hakikat, dan tujuan sebenarnya keberadaan politik dalam sendi kehidupan umat manusia. Berbagai kalangan masyarakat terutama kalangan muda ikut tergerus pandangan miring tersebut. Pada akhirnya, sikap apatis menjadi corak utama pandangan dan sikap kalangan muda terhadap permasalahan politik negeri ini.

Dewasa ini, politik dianggap sebagai muara sisi buruk. Bagaimana tidak, pergeseran makna sesungguhnya dari politik tersingkirkan oleh opini-opini miring sebagai bentuk salah tafsir dalam masyarakat. Dalam kaidah bahasa, hal ini dikenal dengan peristiwa penyempitan makna dari suatu kata. Ketika mendengar kata ‘politik’, pemikiran mayoritas masyarakat Indonesia akan tertuju pada jutaan permasalahan kekacauan dalam lembaga pemerintahan.

Mulai dari politik uang, pejabat bermewah-mewahan, korupsi, kolusi, hingga nepotisme. Apabila ditelaah lebih jauh kebelakang, secara etimologis politik berasal dari bahasa Yunani “Politeia”, yang akar katanya adalah polis dan teia. Kata polis ini memiliki arti kesatuan masyarakat yang berdiri sendiri, yaitu negara. Adapun kata teia memiliki arti urusan. Maka, kata politik bisa diartikan sebagai urusan kehidupan negara. Sebuah makna mulia yang mengajarkan bagaimana mestinya bersikap bijak mendahulukan kepentingan Negara di atas kepentingan individu atau perorangan.

Dari makna ini, analisis secara dangkal atau mendalampun akan ditemukan kenyataan bahwa pandangan-pandangan buruk masyarakat muncul sebagai akibat dari sempitnya objek penilaian tentang politik. Masyarakat cenderung menjadikan individu bermasalah dalam lembaga pemerintahan sebagai tonggak utama dalam menilai dan menafsirkan makna politik secara luas.

Padahal politik dan pemeran dalam dunia politik adalah dua hal berbeda yang tidak dapat disamakan. Pemeran dalam dunia politik tidak selalu menggambarkan wajah dan isi dari makna politik. Sebab peran buruk atau baik yang diemban tergantung pada si pemeran.

Partai politik juga memegang peran penting dalam aspek penilaian masyarakat terhadap makna, eksistensi dan faedah politik. Partai politik sebagai salah satu implementasi kehidupan berpolitik dan pencetak kader pemeran-pemeran kehidupan politik suatu negara terkadang menunjukkan sikap fanatisme berlebihan. Berbagai cara terutama politik uang dihalalkan untuk melicinkan pencapaian kekuasaan dalam lembaga pemerintahan.

Atas nama nasionalisme, janji-janji manis diumbar-umbar dengan corak untuk kepentingan Negara. Tak sedikit juga yang mengeluarkan kalimat-kalimat menjatuhkan terhadap partai politik yang lain demi mencuatkan dan menanamkan citra positif dalam benak dan pandangan masyarakat.

Dari permasalahan ini, muncul arti politik yang baru. Yaitu tipuan, strategi, dan kekuasaan. Pola kepentingan Negara seolah menjadi pola kepentingan kelompok. Korban lainnya tentu saja partai-partai perintis yang benar-benar memiliki tujuan mulia untuk kepentingan Negara.

Selain itu, kurangnya sosialisasi pemahaman yang baik juga menambah rentetan daftar penyebab buruknya pandangan masyarakat terhadap politik. Hal ini menjadi alasan lain sikap apatis kalangan muda terhadap urusan politik negeri. Penuangan pembelajaran politik di sekolah sebagai bentuk sosialisasi belum menjadi hal yang efektif dikarenakan pembahasannya seputar lembaga pemerintahan dan pengangkatan sisi buruk praktik kehidupan berpolitik individu-individu dalam lembaga pemerintahan. Pembahasan ini melekatkan memori buruk tentang politik. Hal ini berujung pada timbulnya pandangan-pandangan buruk tanpa diimbangi dorongan perubahan yang dapat dilakukan generasi muda.

Berbagai permasalahan yang muncul akibat salah tafsir harus dibenahi. Dalam hal ini, pemuda menjadi pemeran paling tangguh dan efektif untuk melakoninya. Usia produktif serta sikap berani dan kritis pemuda adalah modal besar. Pandangan-pandangan buruk politik yang tersimpan dalam memori harus dimusnahkan sedini mungkin. Pemuda harus berpikir cerdas, memilah, dan menelaah pandangan yang baik dan benar yang beredar dalam masyarakat.

Setelah pemikiran tertata dengan baik, sikap berani pemuda dituangkan dalam terjun ke dunia politik melalui partai politik. Seperti yang sudah disebutkan di awal, partai politik merupakan kader pencetak pemeran-pemeran kehidupan politik suatu Negara. Sehingga partai politik adalah jalan paling efektif untuk masuk ke dalam dunia politik dan meluruskan praktik-praktik yang semakin lama semakin menyimpang dari tujuan awal. Pengangkatan topik aktual politik dalam penuangan pembelajaran di sekolah juga dapat menjadi jalan perbaikan.

Dengan cara ini, generasi penerus bangsa akan sadar betapa besar potensi peran yang mereka punya. Metode ini juga dapat memunculkan diskusi yang berujung pada solusi dan motivasi perbaikan serta menghindari semakin tumpang-tindihnya pandangan buruk pemuda tentang politik. Sehingga muncul inovasi-inovasi pelurusan dari generasi muda.

Bonus demografi statistik jumlah pemuda tak boleh disia-siakan. Pemuda memiliki potensi besar untuk mejadi aktor dan aktris terbaik dunia politik. Pengalaman dan sejarah buruk yang tersirat dalam cerita politik negeri tidak boleh mengusik asa pemuda untuk menjadi generasi penerus dan pelurus. Saatnya pemuda tampil di barisan terdepan. Membasmi penyakit-penyakit menahun yang menjangkiti dunia politik.

Mengganti dan menggeser pandangan buruk tentang politik yang melekat dalam ingatan dan benak mayoritas masyarakat Indonesia. Tak ada lagi sikap apatis. Tak ada lagi memori pandangan buruk. Tak ada lagi keluhan-keluhan tanpa solusi. Hanya boleh ada rasa mantap dan siap untuk menapaki cerita dan babak baru politik terbaik di bawah kendali pemuda.



sumber

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply