» » » Menghidupkan Gerakan Mahasiswa Cinta Menulis


Menulis dalam kehidupan sebuah bangsa adalah sebuah tradisi yang mampu mempengaruhi kehidupan sosial-politik sebuah bangsa. Dengan menulis, seseorang dapat melawan atas segala kebijakan yang bertentangan dengan hati nurani. Itu mengapa, seorang Napoleon Bonaparte mengakui, dirinya lebih takut kepada pena seorang penulis dibandingkan melawan ribuan tentara di medan perang. Kondisi ini melukiskan, pena merupakan senjata ampuh yang mampu merubah kehidupan masyarakat menuju arah kehidupan yang lebih baik.

Selain menjadi senjata ampuh perlawanan, menulis adalah ladang yang baik untuk bertransaksi gagasan. Proses ini dirasakan penting mengingat semakin hari, bangsa ini semakin miskin gagasan segar. Bangsa ini seperti disibukkan tradisi bicara (oral-pen) berkepanjangan, budaya konsumtif dan kehabisan waktu menonton televisi yang terkadang menampilkan acara kurang edukatif dan tak mendidik. Maka, sudah waktunya menulis menjadi sebuah pilihan utama untuk memperkaya gagasan anak bangsa sebagaimana pernah digulirkan para founding fathers Indonesia.


Miskin Tradisi Menulis 

Namun, faktanya sekarang ini sedikit sekali manusia indonesia yang memiliki keterampilan menulis dan mau mengabdikan pikiran serta pengetahuannya dalam bentuk karya tulis.Berdasarkan Survei UNDP 2013 yang menyatakan, Indek Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia tahun 2012 menduduki peringkat 121 dari 187 negara dengan skor 0,629. Sementara untuk ASEAN IPM Indonesia masih di bawah Malaysia, yang menempati peringkat 64 dengan skor 0,769, Singapura 18 (0,895), Thailand 103 (0,690) dan Brunei Darussalam di posisi 30 (0,855). (Sindonews.com, 18/9/2013)

Sementara itu, menurut Data Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (PDII LIPI), di mana jumlah jurnal ilmiah (cetak) di Indonesia hanya sekitar 7.000 buah. Dari jumlah tersebut, hanya 4.000 jurnal yang masih terbit secara rutin, dan sedikitnya hanya 300 jurnal ilmiah nasional yang telah mendapatkan akreditasi LIPI. Sedangkan data dari Scimagojr, Journal and Country Rank tahun 2011 menunjukkan selama kurun 1996-2010 Indonesia telah memiliki 13.047 jurnal ilmiah. Dari 236 negara yang diranking, Indonesia berada di posisi ke-64. Sementara Malaysia telah memiliki 55.211 jurnal ilmiah dan Thailand 58.931 jurnal ilmiah. (Kompas.com, 7/2/2012).

Hasil survei itu memang sangat memiriskan hati kita, namun seharusnya tak mengendurkan semangat anak bangsa untuk terus mempopulerkan budaya menulis di kalangan masyarakat luas. Survei dan data itu sudah selayaknya menjadi tantangan bersama semua kalangan untuk meningkatkan gairah, semangat dan potensi menulis manusia Indonesia. Jika Indonesia ingin menjadi negara maju, maka penduduknya harus terus membiasakan menulis dalam kesehariannya.


Mahasiswa, Ayo Menulis 

Yasraf Amir Pilliang (2011) menjelaskan dunia akademik tidak dapat dipisahkan dari dunia literasi, khususnya dunia tulis menulis. Meskipun demikian, ada yang mengatakan menulis itu susah, meskipun ada juga yang tidak mengalami kesulitan. Ada yang mengatakan menulis itu perlu bakat, tetapi ada pula yang mengatakan bisa dipelajari. Ada yang menghindarkan diri dari tugas menulis, tetapi ada pula yang mencari kesempatan menulis. Menulis memang merupakan business yang kompleks, khususnya di dalam dunia akademik. Menulis tidak saja merangkai kata-kata, tetapi menciptakan sebuah dunia.

Sebenarnya persoalan menulis adalah sebuah kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari. Ketika sudah terbiasakan menulis, maka segela keluh kesah seperti malas, menulis itu susah, menulis perlu bakat dan lainnya akan mampu hilang dengan sendirinya. Untuk itu, seorang pemikir bijak pernah mengatakan “anda adalah apa yang anda pikirkan, ketika akan berfikir tak bisa, maka selamanya anda tak akan pernah mampu dan bisa melakukan pekerjaan itu. Dalam kalimat bijak lain diterangkan, “Suatu pekerjaan (termasuk pekerjaan menulis-pen) akan bisa karena biasa”

Maka sudah waktunya setiap mahasiswa meniatkan menulis sejak sekarang juga. Meminjam prinsip KH Abdullah Gymnastiar, menulis dapat dimulai dari diri sendiri, dimulai dari yang paling kecil dan dimulai sekarang juga. Setiap mahasiswa Indonesia harus mulai menulis dari masing-masing pribadinya. Tak terbayangkan tentunya misalkan UNJ memiliki 4000 ribu mahasiswa, maka terdapat 4000 tulisan yang dapat dihasilkan kampus hijau ini setiap harinya. Diumulai dari yang paling kecil, setiap mahasiswa UNJ dapat membiasakan menulis dari blog, catatan facebook dan diary. Jika sudah terbiasakan, dapat mulai belajar menulis cerpen, puisi, opini dan ragam tulisan lainnya. Terakhir, mulai sekarang juga artinya jangan ragu lagi, setelah membaca tulisan ini, segera ambil pena atau laptopmu, mulailah menulis apa yang ada di pikiranmu.



sumber

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply