» » » Media Ciptakan Gaya Hidup sebagai Cerminan Budaya Populer


Di era globalisasi seperti saat ini masuknya budaya asing tidak lagi dapat dielak. Masuknya budaya asing tersebut tentu menimbulkan dampak berupa benturan dengan budaya setempat. Keberadaan budaya baru ini merupakan hasil dari para importir penguasa media, yang sengaja memporak-porandakan tatanan budaya yang sudah mapan selama bertahun-tahun yang menjadi bagian dari identitas bangsa. Pernahkah kalian berfikir ‘seberapa banyak hadirnya “budaya asing” lewat wajah-wajah yang mengatas namakan diri mereka sebagai bagian dari “masyarakat modern” yang bertaburan di sekitar lingkungan tempat kita berpijak?.

Keganjilan lain mengindikasikan bahwa eksistensi  budaya baru ini telah menghegemoni dan memegang kendali dalam realitas kehidupan serta mampu melindas sedikit demi sedikit dan akhirnya menggeser budaya lokal hingga tersudutkan dan terabaikan dari lingkungan masyarakatnya. Sebuah istilah ”Budaya Populer” atau disebut juga dengan ”Budaya Pop”, di mana dalam implementasinya telah mendapat dukungan dari penggunaan perangkat berteknologi tinggi sehingga cepat dan tepat dalam penyebarannya serta mendapat penerimaan dari sebagian besar masyarakat.

Budaya Populer merupakan suatu aktifitas atau praktik-praktik sosial yang bisa menyenangkan orang dan disukai oleh banyak orang. Dalam perspektif kacamata industri budaya, budaya populer juga dinilai sebagai produk kapitalisme yang bersifat massal dan dikelola terus menerus oleh jejaring media di mana jarak jangkaunya hampir tak terbatas dan bahkan bisa menembus batas wilayah suatu negara.

Dalam menjalankan fungsi industrinya, Institusi industri media perlu melakukan penerapan strategi khusus untuk menjaring massa, guna menjalankan ideologinya dalam upayanya bertahan hidup. Seperti halnya, bisnis lain, media menciptakan beberapa kegiatan yang diperkirakan disukai, dan sekaligus dibutuhkan, masyarakat sebanyak-banyaknya, (Sapardi, 2009).

Dalam hakikatnya  media telah memfasilitasi atas tumbuh subur dan berkembangnya budaya populer di tengah masyarakat. Menurut Strinati (2010: 2-5), budaya populer sebagai budaya yang dihasilkan secara massal dengan bantuan teknologi industri. Dipasarkan secara professional bagi publik konsumen dengan tujuan untuk mendatangkan profit. Teori lain menunjukan bahwa budaya pop dimulai setelah akhir masa revolusi industri, di mana pada masa tersebut, masyarakat yang semakin santai membutuhkan banyak variasi hiburan.

Budaya populer mulai berkembang di Indonesia sejak media massa (cetak dan elektronik) berkembang pesat. Budaya populer ini merupakan satu bentuk penjajahan modern yang dilakukan negara-negara maju. Di era globalisasi, ketika batas budaya antara tiap negara kian memudar,  budaya pop kian digemari. Fenomena ini diperparah dengan propaganda media yang merayu setiap individu agar teperdaya dalam trend. Kita seringkali tidak sadar bahwa kita adalah bagian dari budaya pop hal itu disebabkan karena sasaran budaya pop tidak dibatasi oleh apapun,  baik itu usia, gender maupun ras.

Budaya pop  mampu mempengaruhi pola pikir, keputusan, selera bahkan cara berpakaian secara massal melalui propaganda media. Pelan tapi pasti budaya pop mulai memudarkan eksistensi budaya lokal. Disinilah peran media yang menjadikan budaya pop ngetrend dikalangan remaja dan pemuda. Salah satu media yang turut berpartisipasi adalah media televisi.

Dibandingkan dengan media yang lain seperti radio maupun surat kabar, televisi menjadi media massa yang paling di gemari. Keberadaan televisi memudahkan masyarakat untuk mengakses informasi berskala nasional maupun internasional baik itu hiburan, hot issue , film dan lain-lain dalam format audio visual. Berbagai program yang ditayangkan telah berhasil menarik animo masyarakat terhadap konsumsi televisi.  Akan tetapi sungguh amat disayangkan kemudahan- kemudahan tersebut membuat masyarakat terbius dan memasabodohkan untuk menyeleksi program-program yang ada sehingga televisi pun mengalami distorsi fungsi ke arah pembodohan.

Disadari atau tidak,  industri media televisi telah banyak berkontribusi dalam memberikan pengaruh pada manusia, televisi mampu menggiring alam bawah sadar manusia hingga bisa merubah pola hidup, baik bersifat positif maupun negatif. Berbagai macam hal yang ditayangkan televisi akan berimbas pada psikologi manusia yang mempunyai kecenderungan untuk meniru apa saja yang mereka lihat. Media televisi menyasar siapapun , baik itu anak-anak, remaja, eksekutif muda bahkan orang tua , semua bisa termanipulasi dalam ikatannya.

Tanpa disadari dampak tayangan dari televisi kini sudah mulai menunjukan eksistensinya. Hal ini terlihat dengan menjamurnya program tayangan reality show di Indonesia. Reality show yang saat ini mengalami degradasi dari berbagai segi. Banyaknya program reality show yang sebenarnya tidak layak untuk dikonsumsi publik karena sering mengabaikan norma-norma yang ada. Ada sebuah program reality show yang merupakan program acara  yang menjadi tulang punggung sebuah televisi swasta. Dengan durasi tayang kurang lebih 3 jam, acara ini menyuguhkan sebuah komedi dengan kualitas bak peribahasa ‘tong kosong nyaring bunyinya’ guyonan yang sarat akan kecerobohan para pemainnya dalam memainkan dialog, pengabaian norma kesopanan serta narasi yang dangkal dan kering wawasan.

Pada tahun 2016  hingga sekarang, acara ini sering mendatangkan bintang tamu dari negara lain, seperti India yang populer dengan sebutan Bollywood, tidak hanya bintang tamunya saja yang berasal dari bollywood bahkan musik serta cara berpakaian pun juga sering mengadopsi konsep Bollywood. Pernahkah terlintas dalam pikiran kalian bawasanya secara tidak langsung acara ini mempopulerkan budaya India, bukan kah ini keliru? Mengapa mempopulerkan budaya negara lain di negeri kita, mengapa tidak memperkenalkan budaya kita kepada negara lain. Budaya populer dan eksistensi semu acara tersebut membuat masyarakat menggandrungi Bollywood secara gamblang tanpa mampu memfilter budaya tersebut.

Imbas dari tayangan televisi kini telah mulai mendarah daging pada masyarakat. Jika diamati  mutu program dari beberapa stasiun televisi, dewasa ini konsep program acara yang dibuat terkesan kurang mengedukasi, sehingga menimbulkan pengaruh yang cukup besar terutama pada kalangan remaja dan anak-anak. Terkuaklah suatu fakta bahwa terdapat banyak  perubahan pola hidup masyarakat yang semakin meningkat intensitasnya ke arah konsumtif, glamour dan pergaulan bebas yang  tumbuh subur di lingkungan remaja perkotaan.

Dari realitas tersebut dapat di kerucutkan bahwa perubahan pola hidup tersebut adalah wujud plagiasi dari  masyarakat khususnya remaja dan anak-anak terhadap tingkah laku para artis yang menjadi idolanya. Sering muncul di televisi  lewat acara infotainment  inilah para artis mempertontonkan perilaku sembrono  dalam pola kehidupnya. Tidak hanya berhenti disitu, melalui sinetron , media televisi melakukan pembodohan secara terang-terangan kepada remaja Indonesia.

Sinetron  kerap mengambil latar cerita lembaga pendidikan, lengkap dengan seragam, lokasi dan aneka pergaulan di kelas maupuan luar kelas. Menurut KPI banyak sinetron berlatar sekolah tersebut sering bertabrakan dengan norma pergaulan yang ada dan belum sesuai dengan tingkat perkembangan psikologis. Ambil contoh adegan berpelukan dan bermesraan di lingkungan sekolah yang kerap dimunculkan dalam sinetron.

Adegan semacam ini berpotensi menggiring anak-anak untuk  memahami bahwa berpelukan atau berciuman itu sah dilakukan di sekolah. Terlebih menurut psikolog Roslina Verauli pengetahuan remaja akan seks masih sangat kurang sehingga bisa menyebabkan persepsi yang salah. "Para remaja masih belum bisa membedakan antara cinta, seks, dan pacaran. Mereka masih menganggap bahwa seks merupakan manifestasi dari cinta," jelasnya seperti dikutip di laman Kompas.

Remaja  cenderung meniru apa yang mereka lihat di tayangan televisi  atau sering dikatakan para psikolog what they see is what they do, apa yang mereka lihat adalah apa yang mereka lakukan. Sebuah penelitian American Psychological Association(APA) pada tahun 1995 mengatakan “bahwa tayangan yang bermutu akan mempengaruhi seseorang untuk berlaku baik, dan tayangan yang kurang bermutu akan mendorong seseorang untuk belaku buruk”.

Kehadiran televisi Indonesia, membawa masyarakat kepada sesuatu yang membahayakan, kehadiran acara – acara yang dulunya di tayangkan untuk hiburan, saat ini ditayangkan untuk menaikan rating tanpa melihat sisi negatifnya dari tayangan yang telah mereka tayangkan. Selain itu  sinetron  juga turut andil dalam membentuk masyarakat yang konsumtif dan hedonisme. Hal ini disebabkan karena adegan-adaegan dalam sinetron hanya menampilkan glamorisme, pergaulan bebas tanpa memberikan edukasi akibat yang akan ditimbulkan dari gaya hidup yang ditampilkan. Televisi merupakan agen imperialisme yang mencangkokan pemikiran budaya barat melalui tayang-tayanganya.

Selain penyebaran budaya pop melalui televisi, budaya pop juga menjadikan kita hanya sebagai pengikut bukan pemimpin. Eksistensi semu di dunia maya seolah menggiring kita menuju arus utama yang dikukuhkan oleh masyarakat mayoritas. Ada perubahan mindset yang sangat dipengaruhi oleh budaya populer dan benihnya ada pada media sosial. Orang - orang seakan menjadi boneka hidup di mana Budaya populer seolah menjadi tuan untuk mengontrol dan menggiring menuju arus utama yang menjadi trend.

Salah satu peristiwa yang belakangan ini  menjadi trend adalah tentang  pemerintah sedang gencar – gencarnya memblokir berbagai macam berita hoax yang saat ini sedang marak terjadi dengan kecepatan penyebaran berita secepat kilat tanpa ada batasan, yups penyebaran berita melalui media sosial memang efektif dan cepat.

Dalam hitungan detik berita yang baru dipublikasikan melalui media sosial akan segera sampai di mata dan telinga ribuan bahkan jutaan para pengguna media sosial . Jika berita tersebut berkualitas, mendidik serta tidak diragukan kebenarnnya, itu tidak akan menjadi masalah, akan tetapi jika berita yang tersebar adalah berita hoax maka itu akan menjadi permasalahan serius.

Pakar kelirumologi dan pendiri Museum Rekor Dunia Indonesia (Muri), Jaya Suprana, mengatakan hoax atau berita bohong ada karena kebablasan mengartikan demokrasi. Kebebasan berpendapat diartikan oleh sebagian orang sebagai kebebasan berbohong, bahkan membuat fitnah. "Dapat disimpulkan hoax adalah anak haram demokrasi," ujarnya di diskusi Fighting Hoax News, Emporing Cyber-Based Media.

Wiranto juga mengatakan “hoax bisa membuat suasana kehidupan masyarakat yang harmonis terganggu. Hoax juga selalu menampilkan berita yang terkadang sangat tendensius. Berita hoax bisa menanamkan satu kebencian satu dengan yang lain, berita yang memelesetkan, katakanlah, membuat defiasi dari fakta yang ada dan kalau ini terus dibiarkan, sama seperti persekusi, membuat suasana tidak jelas antara mana yang benar dan mana yang salah”, dikutip dari detiknews.

Pada tahun 2017 ini semakin sering muncul berita-berita hoax yang mengandung unsur SARA dan fitnah menjadi sumber pemecah kebhinekaan dan pemicu kebencian diantara masyarakat. Dengan kondisi masyarakat yang latah dan suka ikut-ikutan serta menelan mentah-mentah informasi yang diterima tanpa diverifikasi kebenarannya dimanfaatkan oleh segelintir orang tidak bertanggung jawab dengan menyebarkan berita berita hoax untuk memainkan isu demi kepentingannya.

Hukum media sosial adalah tidak pasti, bergantung pada siapa, untuk tujuan apa, bagaimana, kapan, dan di mana media sosial digunakan. Analoginya saat seseorang menggunakan pisau dapur untuk melukai orang lain, yang salah pasti bukan pisau dapur, melainkan pelaku dan perbuatannya. Kita tidak bisa mengutuk atau mengeluarkan fatwa yang mengharamkan pisau dapur.

Media sosial tidak bisa dihukumi halal atau haram, karena kehalalan atau keharaman tidak ditentukan oleh alat, melainkan oleh pelaku atau pengguna. Saat ini media sosial sudah menjadi milik publik. Jika kehebatan media sosial disalahgunakan, hal itu akan menimbulkan kekacauan di ruang publik.

Maka dari itu gunakanlah kecangihan teknologi dengan bertanggung jawab, jangan gunakan untuk menanam kebencian dan menyebar kebohongan yang bisa menimbulkan perselisihan apalagi hanya demi mengejar eksistensi semu agar kekinian. Dan marilah kita menjadi masyarakat yang lebih selektif dan bijak terhadap budaya-budaya baru yang muncul jangan secara mentah menerima budaya asing maupun budaya baru tanpa menyaringnya terlebih dahulu. Hal ini dimaksudkan agar budaya luhur negeri ini tetap ada dan  bertahan di era globalisasi.



sumber

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply