» » » Pemuda Indonesia Harus Aktif Berpolitik, Dituntut Bantu Arahkan Negara

Pemuda Indonesia Harus Aktif Berpolitik, Dituntut Bantu Arahkan Negara

Para pemuda Indonesia telah membantu mendorong negara mereka maju pada saat-saat kritis dalam sejarahnya yang bergejolak, dan mereka harus sekali lagi menunjukkan kekuatan politik mereka untuk membantu memetakan arah bangsa selama periode perubahan global dan ketidakpastian

“Ketidaktahuan politik di kalangan pemuda akan merugikan dalam jangka panjang,” kata Agus Harimurti Yudhoyono, putra mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yang berusia 39 tahun.

Ia menyampaikan ceramah di Marina Mandarin Singapore yang diselenggarakan oleh S. Rajaratnam School of International Studies.

Agus Harimurti Yudhoyono mengutip sejarah, dan menceritakan bagaimana mahasiswa memicu gerakan Reformasi yang menyebabkan berakhirnya 30 tahun rezim Orde Baru Suharto yang kuat. Sekelompok intelektual muda juga telah mendirikan gerakan politik pertama negara itu, Budi Utomo, yang menandai dimulainya nasionalisme modern Indonesia. Beberapa dekade kemudian, pada tahun 1945, para aktivis muda itu lagi-lagi menekan para pendiri bangsa untuk memproklamasikan kemerdekaan.

“Kaum muda di Indonesia selalu berada di garis depan perubahan, dan mereka selalu hadir pada saat-saat kritis dalam sejarah kita,” kata Agus, yang merupakan Direktur Eksekutif The Yudhoyono Institute, sebuah wadah pemikir yang bertujuan untuk mengembangkan generasi muda Indonesia.

“Inilah mengapa saya mendorong lebih banyak pemuda Indonesia untuk berpartisipasi dalam politik negara, di berbagai tingkat,” katanya, dan menambahkan bahwa hal ini bisa dilakukan melalui pemungutan suara, bergabung dengan partai politik, atau melangkah maju sebagai kandidat.

Para pemuda tidak hanya harus menghadapi tantangan di bidang ekonomi—termasuk persaingan ketat dan ekonomi dunia yang berubah—tetapi juga harus menghadapi ancaman terhadap tatanan sosial negara, seperti munculnya ujaran kebencian dan politik identitas.

Agus juga menunjukkan bahwa para pemuda sudah menjadi kekuatan utama dalam pemungutan suara, di mana hampir 52 persen pemilih yang berhak di Indonesia berusia antara 17 hingga 35 tahun.

Dia mengatakan bahwa para politisi muda dapat berhasil dengan “pendekatan, energi, dan stamina baru” dalam pemilihan regional bulan Juni lalu, mengutip contoh dari Emil Dardak (33 tahun), seorang alumni Raffles Institution, yang berpasangan dengan veteran, Khofifah Indar Parawansa, dan menang di Jawa Timur.

Sebagai seorang mantan mayor Angkatan Darat, Agus sendiri meninggalkan karir militernya yang tinggi pada September 2016 untuk mengikuti Pemilihan Gubernur di Jakarta. “Saya ingin memberi contoh bagi kaum muda untuk secara aktif menggunakan hak politik mereka,” katanya. Perjalanan politik Agus tidak berhenti setelah upaya yang gagal untuk jabatannya pada tahun 2017.

Awal tahun ini, ia diangkat sebagai ketua satuan tugas bersama Partai Demokrat untuk pemilihan 2019, dan sekarang diperkirakan menjadi calon kandidat untuk pemilihan presiden tahun depan.

Agus juga menjelaskan bahwa para pemuda tidak perlu hanya berkontribusi di arena politik.

“Patriotisme di abad ke-21 memiliki makna yang berbeda daripada di masa lalu. Patriotisme bukan berarti mengangkat senjata atau berperang,” katanya.

“Ada banyak jalan untuk berkontribusi… Saya memiliki harapan dan keyakinan yang tinggi bahwa generasi muda Indonesia akan dapat berkolaborasi dan bekerja sama menuju masa depan yang lebih baik.”





sumber

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply