» » Pemuda Menggerakkan Bangsa

Pemuda Menggerakkan Bangsa
Perubahan bangsa Indonesia menuju kemajuan sangat ditentukan oleh para pemuda di negeri ini. Pemuda yang peduli dengan nasib bangsa saat ini dan ke depan, pemuda yang beraktivitas untuk kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadinya, dan pemuda yang memberikan sumbangsih dan kontribusi positif bagi bangsa dalam bidangnya masing-masing.

Anak-anak mudalah yang menjadi pelecut dan pemicu munculnya Sumpah Pemuda. Tiga poin penting yang menjadi titik utama perjuangan mereka dalam konteks saat itu adalah persatuan satu Tanah Air, satu Bangsa, dan satu Bahasa: Indonesia. Tiga poin penting ini menjadi penggerak perjuangan kaum muda yang merasa gemas melihat situasi krisis ketika itu yang tengah dialami pemerintah Hindia Belanda. Sehingga diperlukan suatu perubahan, dan perubahan itu tidak mungkin terjadi tanpa persatuan.

Bung Hatta pernah mengatakan: “Bagi kami, Indonesia menyatakan suatu tujuan politik, karena dia melambangkan dan mencita-citakan suatu Tanah Air pada masa depan dan untuk mewujudkannya, setiap orang Indonesia akan berusaha dengan segala tenaga dan kemampuannya.” Melalui Sumpah Pemuda, mengutip Yudi Latif (2011), kaum muda dengan kesadaran baru menerobos kelembaman solidaritas etno-religius melalui “penemuan” politik (the invention of politics). Bukan itu saja, hingga awal abad ke-20, bahasa Melayu-Indonesia tidak memiliki kata yang spesifik untuk “politik”, tetapi yang lebih penting pemuda-pelajar pada akhir 1920-an mulai merumuskan konsepsi baru ideologi politik perjuangan. Perjuangan politik untuk menjelmakan suatu nation of citizens yang dapat menyatukan pelbagai keragaman posisi, determinasi, dan aliran kultural ke dalam suatu blok nasional, kebangsaan Indonesia.

Konsep “persatuan” yang digagas Sukarno dalam pidato 1 Juni 1945 yang merupakan bagian dari Pancasila, bukanlah sesuatu yang lahir tanpa landasan filosofis dan historis. Persatuan erat sekali dengan kebangsaan (nasionalisme). Mustahil membuat perubahan di tengah masyarakat Indonesia yang heterogen atau plural tanpa persatuan. Sosrodiningrat mengatakan, “Persatuan berarti bebas dari rasa perselisihan antara golongan, menyingkirkan diri, dan golongan sendiri.”

Wiranatakoesoema mengatakan, “Dalam…mengejar perkokohan, persatuan, harus memerhatikan dan menghargai bermacam-macam corak yang mungkin menjadi sifat luhur Negara Indonesia yang akan dibentuk. Dalam hal itu, kita wajib memberi kesempatan hidup pada pelbagai corak itu asal saja tidak menjadi gangguan bagi seluruhnya.” Woerjaningrat mengingatkan, “Kita telah pernah mempunyai kemerdekaan yang luas, yaitu pada zaman Mojopahit dan zaman Sinuhun Sultan Agung Mataram. Pun telah mengalami jatuhnya kemerdekaan, jadi sebenarnya kita telah sadar kesalahan-kesalahan kita. Sumber kesalahan tidak lain ialah dari kurang rukun sebab mementingkan badan atau golongan sendiri.”

Pemuda untuk Bangsa

Era Hindia Belanda berubah menjadi era Indonesia karena digerakkan antara lain oleh orang-orang muda, seperti Sukarno, Hatta, Sjahrir, Tan Malaka dan seterusnya. Mereka adalah generasi yang tidak hanya berpolitik praktis, tetapi juga para idealis yang sangat mencintai Indonesia, mencintai perubahan menuju kemajuan, yang mereka saksikan telah gagal di bawah rezim kolonial. Mereka orang-orang terpelajar, tetapi memanfaatkan keterpelajaran mereka untuk melakukan perubahan bangsa.

Biarpun mereka secara pemikiran dan gerakan berbeda, tetapi mereka bersatu dalam cita-cita untuk negeri: merdeka, lepas dari kolonialisme, berdaulat, mandiri dan bergerak dan berubah mencapai kemajuan. Kuncinya adalah sumber daya manusia yang diikat dengan jiwa persatuan dan tujuan yang sama. Di bawah rezim kolonial, hanya sebagian golongan masyarakat yang mendapatkan pendidikan. Tujuannya pun sekadar untuk memenuhi kebutuhan pegawai di kantor-kantor pemerintah. Secara umum, hamper tidak ada gairah untuk “mencerdaskan” masyarakat jajahan, karena mereka lebih bergairah mengeruk sumber daya alam Indonesia.

Saat ini, akses terhadap pendidikan bukan lagi menjadi masalah, meski masih banyak juga masyarakat di daerah-daerah pedalaman dan terpencil, jauh dari pusat-pusat kota, yang belum mendapatkan akses pendidikan yang memadai. Negeri ini punya banyak sekali para cerdik pandai yang bersekolah di luar negeri. Bahkan sebagian dari mereka tidak kembali ke Tanah Air dan bekerja di negara-negara tempat mereka menimba ilmu. Negeri ini pun tidak kekurangan orang-orang terpelajar. Namun yang kurang adalah semangat persatuan untuk mencapai tujuan kemajuan, bagi negeri ini. Betapa pun banyaknya orang-orang terpelajar, jika tidak ada semangat ini, rasanya bangsa ini tidak akan pernah bergerak. Kalaupun bergerak, tetapi pelan.

Era atau masa pastinya berbeda, tetapi masalah yang dihadapi bisa jadi sama secara substansi. Sukarno pernah mengatakan, “Berilah saya sepuluh pemuda, maka akan aku guncang dunia!” Yang beliau maksud tentu saja pemuda-pemuda terpelajar yang punya semangat dan cinta terhadap Tanah Air, serta punya visi progresif untuk kemajuan Indonesia, bukan pemuda-pemuda sebaliknya atau pemuda-pemuda terpelajar tetapi bermental sama dengan penjajah: kemaruk harta, mengeruk kekayaan negara untuk kepentingan pribadi dan golongan, lewat korupsi atau perilaku lainnya yang merugikan negara.



[sumber]

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply