» » Pemuda Indonesia Memilih Belajar ke Negeri Sakura

 Pemuda Indonesia Memilih Belajar ke Negeri Sakura

KEMENANGAN militer Jepang atas Rusia dalam Perang Tsushima pada 1904-1905 mengerek citra Jepang sebagai negara maju. Ekspansi ekonominya juga mencengangkan. Ribuan gerai “Toko Jepang” yang melegenda tersebar di Hindia dan menyediakan kebutuhan barang-barang dengan harga murah. Banyak orang Indonesia pergi ke Jepang untuk belajar dari kemajuan ekonomi Jepang.

Menurut Peter Post, karena terancam, pada 1933, pemerintah Hindia meninggalkan kebijakan “politik terbuka” dan mulai campur-tangan dalam masalah ekonomi. Proteksi diberlakukan untuk melindungi industri tekstil dan perusahaan dagang Belanda yang besar. Sebaliknya, karena kebijakan proteksi itu mengancam pondasi ekonominya, Jepang menyerukan Pan-Asia.

“Seruan ini jatuh di tanah yang subur dan dijemput gerakan nasionalis,” tulis Peter Post dalam pengantar buku The Encyclopedia of Indonesia in the Pacific War.

Sejumlah tokoh nasionalis Indonesia mengarahkan perhatian ke Jepang. Beberapa di antaranya berkunjung ke Jepang. Salah satunya Parada Harahap, redaktur koran Batavia Bintang Timoer.

Pada November 1933 hingga Januari 1934, Parada memimpin delegasi perdagangan dan industri berkunjung ke Jepang. Dalam memoar perjalanannya Menoedjoe Matahari Terbit yang terbit pada 1934, dia memuji kemajuan Jepang. Dia juga menyeru para pelajar Hindia supaya mengalihkan perhatiannya dari pendidikan Eropa ke Negeri Sakura.

“Ke mana mestinya kita pergi belajar? Ke Jepang tentu!” tulis Parada.
Salah seorang pemuda yang turut serta dalam rombongan Parada adalah Sudibjo Tjokronolo, lulusan Algemeene Middelbare School atau setara sekolah menengah atas di Batavia. Semula Sudibjo berangan-angan melanjutkan sekolah ke Belanda sebagaimana kebanyakan golongan terpelajar Hindia lainnya. Karena kurang biaya, Sudibjo mengalihkan pandangannya ke Jepang.

“Saya nilai Jepang cukup memadai untuk sekolah di sana. Bukankah Jepang bisa menang perang dengan Rusia, satu negara Barat. Bukankah orang Jepang digolongkan setaraf dengan bangsa Eropa,” tulis Sudibjo Tjokronolo, termuat dalam Suka Duka Pelajar Indonesia di Jepang, ditulis tim Persada Senior, organisasi alumni pelajar Indonesia yang pernah sekolah di Jepang. “Jepang punya semangat nasional yang bisa dipelajari dan dicontoh.”

Kala itu Jepang menawarkan biaya sekolah yang lebih murah ketimbang Belanda. Pernah terdengar desas-desus di lingkungan cendekiawan Indonesia bahwa kehidupan di Jepang di zaman itu bisa cukup dengan 50-80 Yen sebulan. Jika di Belanda, bisa tiga sampai empat kali lipat.

Segala hal yang berbau Jepang bukan tak mendapat perhatian pemerintah Hindia Belanda. Dalam laporan yang terbit pada 1942, pemerintah Hindia menyebut adanya “aktivitas subversif” orang-orang Jepang, dari turis hingga ilmuwan, dari perwakilan dagang hingga mata-mata, selama satu dekade. Mereka menggerakkan kampanye Pan-Asia melalui penerbitan, dukungan keuangan maupun distribusi barang murah, hingga mendorong orang Hindia belajar di Jepang dengan biaya murah. Tujuannya: agar kaum bumiputera melawan pemerintah Hindia.

“Beberapa lusin pemuda tertarik, dengan murahnya pendidikan yang ditawarkan kepada mereka dan dukungan keuangan yang dijanjikan kepada orang-orang yang bahkan tidak bisa membayar biaya yang rendah ini, pergi ke Jepang,” tulis Biro Informasi Belanda dalam Ten Years of Japanese Burrowing in the Netherlands East Indies.

Laporan itu juga menyebutkan, setiba di Jepang, para pemuda yang siap untuk bertindak sebagai alat propaganda Jepang dibantu secara finansial. “Mereka sering diundang untuk menghadiri pertemuan kelompok Pan-Asia. Pada kongres mereka diajukan sebagai ‘orang Indonesia’ dan pemimpin dari ras yang telah bangkit melawan penindas Belanda,” tulis laporan itu.

Bagi Jepang sendiri, penguasaan atas negara-negara Selatan merupakan kewajiban sesuai doktrin politik yang disusun Asosiasi Asia Raya (Dai Ajia Kyokai), sebuah organisasi berpengaruh di Tokyo yang didirikan pada Januari 1933. Dipertegaskan lagi dengan pernyataan Pangeran Konoye yang bertindak selaku perdana menteri pada Februari 1938 bahwa Jepang bertanggungjawab mendirikan sebuah era baru di Asia Timur, yakni persemakmuran Rakyat Asia Merdeka.



[sumber]

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply