» » Pemuda di Era digital dan kontribusi untuk Negeri

Pemuda di Era digital dan kontribusi untuk Negeri

Bangsa yang bersejarah adalah gambaran bangsa yang memiliki nilai-nilai perjuangan pada masa lampau. Tak terlepas dari momen 28 Oktober 1928 adalah sebentuk komitmen para pemuda di masa itu untuk maju dan terlibat dalam kemerdekaan republik Indonesia. Sumpah Pemuda sebagai peristiwa kebangkitan pergolakan rakyat di abad 20 yang telah dijajah dan ditindas sejak abad 17 serta menjadi inspirasi bagi revolusi agustus 1945. Sehingga layak memposisikan momentum Sumpah pemuda 1928 menjadi bagian dari sejarah panjang perjuangan rakyat Indonesia melawan penindasan kolonial asing beserta tuan tanah lokal di Indonesia. 88 tahun silam sumpah itu diikrarkan, momen yang terhitung memasuki usia matang bila disandingkan dengan usia manusia tapi nyatanya bukan penjamin pula untuk kematangan berpikir dan bertingkah pola manusia dewasa ini.

Pemuda-pemudi Indonesia adalah aset berharga yang perlu dipelihara positif, bukan disuguhkan tontonan perebutan kursi politik atau sinetron yang naik rating. Bukan pula pemuda konsumtif tidak produktif, pemuda apatis masalah sosial atau ujungnya pandai berpikir namun tanpa realisasi, pemuda yang dalam dirinya tidak mengejar tapi dikejar atau bahkan kadang menolak keyakinan, pendidikan agama, dan pendidikan moral karena takut dianggap buta modernitas. Dalam hal ini, peranan lembaga pendidikan, media pers, masyarakat (terutama keluarga), dan pemerintah sangat diperlukan, terutama sebagai poros, pemberi stimulus, dan pengalaman.

Salah seorang sahabat Soekarno, Tokoh Revolusi dari Kuba, Che Guevara pernah berkata, “Aku enggan untuk berjumpa dengan anak muda yang hanya mengandalkan titel, keperkasaan, dan kelincahan berdebat. Aku ragu apakah mereka mampu atau sanggup memperbaiki negara ini”. Jika kita renungkan pernyataan ini adalah sebuah sindiran cerdas untuk mengobarkan api semangat para pemuda agar dapat bertindak tidak sekedar beretorika semu, namun harus mampu memberi kontribusi untuk bangsa dan negaranya. Para pemuda masa kini seharusnya tidak perlu mengeluh kesulitan hidup karena sudah menikmati berbagai fasilitas di era digital yang serba canggih tentu segala yang diinginkan mudah diakses.

Sesungguhnya, momen ini bukanlah hal yang kedudukannya sekedar menjadi selebrasi setahun sekali. Selain mengingat, memaknai adalah proses yang tak kalah penting. Proses memaknai menjadikan sistem nilai dalam diri individu akan terbentuk. Sistem nilai inilah yang menjadi penuntun hingga manusia dapat mencapai kematangan yang sebenar-benarnya matang dalam berpikir dan bertingkah kelak. Memaknai Sumpah Pemuda, bukan sekedar tiga baris pengakuan yang "satu". Sumpah Pemuda dan setiap butirnya membulatkan makna bahwa Bhineka tunggal Ika adalah mutlak pemersatu bangsa. Pemaknaan hingga penerapan nilai haruslah diresapi dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, tidak cukup hanya satu hari saja kita berseru.

Kontribusi bagi negeri tidak harus melakukan hal-hal besar yang mengguncang Indonesia, lakukan apa saja yang kita bisa sesuai dengan bakat, kemampuan, pendidikanmu dan bidang kerja yang kita geluti. Boleh saja kita melemparkan kritikan untuk menilai kinerja pemerintah dan politik Indonesia, tetapi segala bentuk kritikan itu harus dilandasi argumen yang kuat dan fakta yang akurat serta kita mampu memberi solusi yang tepat dan efektif. Menjelang esok hari, mari pemuda-pemudi, bakarlah semangat kita tidak hanya satu hari perayaan tetapi untuk hari-hari selanjutnya menata diri, menata masa depan bangsa agar menjadi bangsa yang bermartabat dan disegani oleh bangsa asing.


[sumber]

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply