» » » Pemuda Harus Berbenah untuk Masa Depan Bangsa

Pemuda Harus Berbenah untuk Masa Depan Bangsa

Masyarakat pada umumnya dikenal sebagai kelompok hidup yang saling membutuhkan satu sama lain (simbiosis Mutualisme) kehidupan masyarakat sangat tergantung pada sekitarnya maka dari itu istilah Gotong Royong menjadi sangat Populer saat masyarakat memahami aspek kebutuhan hidup tiap individu lainnya dan adapun diantara problematika masyarakat kita mengenal kehidupan pada sisi pola kebiasaan , beberapa diantaranya masih berfikir tradisional, semi Modern dan Modern. Perbedaan dari pola kebiasaan ini berdampak pada pola tingkah laku realitas sosial atau bahkan dapat menimbulkan strata sosial yang biasa disebut Class Social hal ini biasanya berujung pada kasus gejala penyakit masyarakat yaitu Kesenjangan Sosial.

Perbedaan tinggah laku sering dikaitkan dengan adanya tingkat kecenderungan ideologis atau sudut Pandang yang menjadikan arah kehidupan bermasyarakat tidak semua sama, begitu pula dalam melihat fenomena kebangsaan, politik, ekonomi, sosial terlebih budaya dan tradisi tiap individu memiliki arah pandang pada setiap fenomena yang terjadi di sekitarnya. Seperti itulah realitas sosial masyarakat Indonesia yang benar-benar tercerminkan secara realistis di seluruh kota maupun pelosok Nusantara.

Dalam menanggapi persoalan-persoalan tersebut sangat dibutuhkan peranan sekelompok atau sebahagian dari masyarakat itu sendiri ialah Kaum Muda,  pada sisi lain kehidupan bermasyarakat kita mengenal Istilah Pemuda yaitu individu yang bila diamati secara biologis sedang mengalami pertumbuhan dan secara psikologis sedang mengalami perkembangan Emosional, atas dasar itu Pemuda menjadi sumber daya pembangunan masyarakat ataupun bangsa baik saat ini maupun masa depan.

Keikut andilan  Pemuda sangat diharapkan dalam menjawab berbagai tantangan kondisi masyarakat maupun kondisi kebangsaan di negara ini, pemuda menjadi sangat penting sebagai kelompok Pembaharu, pelopor dan sebagai kelompok cendekia bijaksana untuk membendung besarnya problematika yang terjadi, dari hal ini dapat kita meneropong lebih jauh mengenai Eksistensi pemuda masa kini seperti 2 Contoh konteks kehidupan Pemuda berikut :

* Pemuda Aktif 

Pemuda aktif dikategorikan sebagai pemuda ideal yang mengikuti perkembangan  aspek kehidupan sosial sebab mereka lebih condong berfikir kedepan bukan hanya berfikir untuk hari ini, mereka cendrung Kritis pada setiap Aspirasi yang dikemukakan baik lewat Aksi maupun Literasi, perihal untuk memelihara karakteristik semangat membangun banyak diantara pemuda ikut berpartisipasi aktif mengawal proses Perpolitikan, ikut andil memecahkan problematika bangsa, merumuskan masa depan bangsa dan lain-lain. Pemuda aktif kerap kali melibatkan diri dalam berbagai Organisasi Kepemudaan, ormas ataupun  LSM mereka berperan sesuai dengan bidang-bidang yang digeluti.

Pada sisi lain sebahagian tubuh kepemudaan kita mendapati  Mahasiswa sebagai kaum akademisi di perguruan tinggi, mereka aktif merumuskan program Kerja yang bertolak ukur kepada pengembangan SDM bangsa ini, setiap tahunnya dari semua perguruan tinggi mengalumnikan jutaan Mahasiswa dan berharap mampu menjadi Potensi baru dalam memajukan perkembangan Ekonomi, Pendidikan, dan kemajuan kebudayaan nusantara. Dari hal itulah Pemuda dan Mahasiswa aktif  seyognyanya mampu menjadi Ujung Tombak  kelangsungan Cita-cita Bangsa.

* Pemuda Apatis

Apatis ialah karakter yang sering kali menjadi ruang lingkup pembahasan gejala Pemuda dan Mahasiswa, istilah ini biasa disebut Apatisme paham acuh, bermasa bodoh terhadap berbagai hal yang terjadi, ketika kita mengamati perkembangan Publik sangat banyak ruang fasilitas menggantikan ruang-ruang sebelumnya, pemuda yang dulunya menjadikan Buku sebagai Pustaka Pengalaman, menjadikan diskusi kajian sebagai ruang aktualisasi Retorika dan wawasan kini semua hal itu telah terganti dengan kecendrungan baru yaitu menghabiskan waktu pada tempat-tempat berbuansa Non-Edukasi.

Apatisme mengakibatkan kurangnya kepekaan terhadap gejala Masyarakat dan bisa jadi menciptakan paham baru yaitu ego Individualisme. Ketika sikap apatisme dibiarkan begitu saja dan tidak ada perhatian khusus hal ini dapat berdampak pada merosotnya nilai atau bergesernya nilai Kebudayaan masyarakat nantinya. Re-edukasi terhadap pemuda sangat dibutuhkan hari ini dan kedepannya sebab masing-masing masa menginginkan berjalannya bangsa ini sebagaimana mestinya.

Bangsa ini sedang mengalami kemerosotan Karakter dalam Konteks Kepemudaan. Maka dari hal tersebut perlu kiranya ada pengenalan kembali atau semisal Sosialisasi Kepemudaan, agar kedepannya Pemuda lebih memiliki Integritas dan Kredibilitas yang dapat melampaui Kualitas Pemuda masa Kini.





[sumber]

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply