» » » HARI PAHLAWAN: PEMUDA, MAHASISWA, DAN KITA

HARI PAHLAWAN: PEMUDA, MAHASISWA, DAN KITA

Setelah Indonesia mendeklarasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, Belanda masih ingin kembali menjajah Indonesia. Rakyat Indonesia, tentu saja tidak akan tinggal diam karena sudah susah payah berjuang untuk kemerdekaan. Pada tanggal 10 November 1945, terjadilah salah satu perang terbesar yang pernah terjadi di Indonesia. Dalam perang ini, banyak pejuang kemerdekaan yang gugur. Oleh karena itu, peristiwa 10 November diperingati sebagai hari pahlawan.

Pemuda, punya peran yang besar dalam perjalanan sejarah Indonesia. Kita kenal Chaerul Saleh, Wikana, Soekarni, dan pemuda-pemuda lainnya. Mereka mendesak Soekarno dan Hatta untuk membacakan Proklamasi Kemerdekaan. Begitu juga dengan mahasiswa, tahun 1995-1996 mahasiswa punya peran yang penting dalam penurunan rezim Soekarno. Rezim Soeharto pun, ketika sudah begitu korup, tahun 1998 rezimnya bisa diturunkan oleh aksi mahasiswa. Ketika keadaan negara sudah begitu kacau, mahasiswa akan selalu datang membawa perubahan.

Pergerakan Mahasiswa

Ada yang menarik dari artikel Arief Budiman, seorang aktivis demonstran pada tahun 1996. Artikel yang berjudul Mahasiswa Indonesia dan Ilusi-Ilusinya ini dimuat di koran Sinar Harapan pada tahun 1969. Mahasiswa, menurutnya sejak penumbangan Soekarno pada 1966, dihinggapi semacam penyakit yang dia namakan “penyakit pahlawan”. Mahasiswa selalu ingin ikut campur dalam segala bidang, terutama bidang politik, dan berpretensi menjadi juru selamat (Budiman, 1969). Mahasiswa, pada saat itu, terkena ilusi sebagai “juru selamat” sepanjang masa.

Arief Budiman juga menjelaskan, pada saat itu mahasiswa membalikkan fungsi sekundernya menjadi fungsi primer. Mahasiswa mau menjadi kekuatan sosial di antara kekuatan-kekuatan sosial lainnya, seperti partai-partai politik (Budiman, 1969). Fungsi primer mahasiswa adalah belajar di perguruan tinggi. Fungsi sekundernya bisa menjadi seniman, olahragawan, ataupun aktivis pergerakan di bidang politik.

Berikut hasil wawancara reporter dari Kopi dengan dua mahasiswa tentang hari pahlawan:

Bagaimana cara kita (sebagai mahasiswa) memaknai hari pahlawan?
Dalam sejarah Indonesia, mahasiswa pernah menjadi pahlawan. Apakah saat ini mahasiswa masih berstatus sebagai pahlawan?
Banyak mahasiswa yang mengartikan, pergerakan mahasiswa saat ini adalah turun ke jalan. Haruskah seperti itu? Lalu apa tugas mahasiswa saat ini?
Menurut Adelia (Mahasiswa FEB Unpad) mahasiswa harus menjadi tumpuan bagi masa depan suatu bangsa, dia menilai seorang mahasiswa tidak boleh melupakan nilai-nilai kepahlawanan hal itu merupakan suatu cara bagi seorang mahasiswa untuk memaknai hari pahlawan. Menurutnya, mahasiswa merupakan pahlawan pada saat ini. Mengapa? karena mahasiswa merupakan tumpuan utama bagi bangsa dalam menyampaikan aspirasi rakyat. Lalu, tugas mahasiswa itu apa? Belajar! sehingga mahasiswa dapat melakukan aksi dalam memperjuangkan aspirasi masyarakat. Karena pemuda merupakan tumpuan sebuah bangsa.

Sulthon (Presiden BEM Kema FEB Unpad) berpendapat bahwa cara memaknai hari pahlawan adalah dengan turut merawat Indonesia dan ikut serta dalam gerakan-gerakan komunitas, organisasi kampus, ormas, sehingga dapat membumikan ilmu yang didapat, dan kebermanfaatannya dapat dirasakan oleh masyarakat. Jika perjuangan dahulu adalah menentang rezim politik, maka perjuangan mahasiswa saat ini adalah kesejahteraan rakyat.

Menurutnya juga aksi turun kejalan bukanlah satu-satunya definisi pergerakan mahasiswa, tapi bisa setuju apabila dikonsep dengan teknis dan tujuan yang baik. Peran dan tugas mahasiswa adalah menjadikan dimensi keilmuan yang dipelajari sebagai landasan pergerakan untuk mengabdi.

Mahasiswa, memang pernah jadi pahlawan dalam masyarakat Indonesia. Mungkin Arief Budiman benar, mahasiswa masih harus lebih rajin menghadiri kuliah-kuliah para profesornya. Cara yang pada masa lalu bisa tepat, belum tentu saat ini juga bisa tepat. Yang terpenting adalah, sebagai mahasiswa, penting untuk mengingat dan merenungkan kembali apa fungsi utamanya. Lakukan apa yang kita yakini benar.

Aplikasi Dalam Kehidupan Sehari-Hari

Tidak perlu jauh-jauh berbicara tentang pahlawan yang gagah berani membela negara, perubahan bisa kita lakukan dari hal-hal kecil di sekitar kita. Siapa yang tidak suka dengan jalanan banjir? Selain menjadi penghambat di jalanan banjir juga bisa menjadi sumber penyakit dan sumber masalah panen. Pertanyaannya adalah, apakah kita bagian dari solusi atau bagian dari masalah ini? Jawabannya ada pada diri kita sendiri. Pernahkah kita membuang sampah sembarangan? Kalau pernah berarti kita termasuk orang yang berkontribusi dalam masalah ini.

Siapa yang tidak kesal dengan para koruptor yang menggunakan hak-hak rakyat kecil untuk kepentingan dirinya? Pertanyaannya kembali lagi pada diri kita, apakah kita juga melakukan “korupsi” di kampus? Contohnya kita sering menitip absen dengan teman ketika kita tidak bisa hadir kuliah. Ketika ujian kita juga mencontek jawaban milik teman. Korupsi selalu dimulai dari hal-hal kecil, termasuk di kampus. Begitu juga ketika kita melanggar peraturan lalu-lintas, apakah kita menyogok polisi yang menilang dengan memberi “uang damai”?

Kalau kita kesal dengan banyaknya konten negatif di internet, mulailah dengan mengisi akun sosial media kita dengan hal-hal yang positif. Bisa juga dengan membuat blog dan menulis postingan yang bermanfaat.

Sebenarnya banyak hal-hal positif yang bisa kita lakukan. Dimulai dengan melakukannya untuk diri sendiri, lalu menyebarkannya kepada keluarga, teman-teman terdekat, dan seterusnya. Dalam jangka pendek, mungkin tidak akan terlihat signifikan. Bukankah perubahan-perubahan besar selalu dimulai dari satu langkah kecil?

(Iqbal & Rafika)




[sumber]

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply