» » » Sumpah Pemuda: Sebuah Refleksi


Bagiku, hal terbaik yg pernah dunia tawarkan adalah waktu. Waktu telah memberiku kesempatan untuk bertemu dengan manusia-manusia hebat, manusia-manusia yang rela mati demi kelangsungan hidup manusia lainnya.

Manusia-manusia jenis ini tak sulit ditemukan pada masa bangsa ini belum 'merdeka'.

90 tahun waktu berlalu, sejak Sugondo Joyopuspito, Muhamad Yamin dan Amir Syarifudin, bersama pemuda Indonesia lainnya, bersepakat untuk merevolusi diri, dari manusia yang terjajah menjadi manusia-manusia muda yang memahami potensi kemudaannya untuk bersama-sama mempertahankan tanah dan air milik mereka dari jajahan kolonial Belanda.

Aku mendengar banyak kisah tentang mereka, tentang kongres pemuda pada 28 Oktober 1928. Aku mendengar kisah tentang perjuangan bangsa yang parsial dilebur dalam semangat persatuan oleh para pemuda dalam kongres yang sama. Aku mendengar sejarah tentang "Indonesia Raya", yang dikumandangkan untuk pertama kalinya kala mereka bersumpah merdeka disana dalam bahasa yang sama. Sejarah bangsa yang dikenang dalam satu tema; Sumpah Pemuda.

Adakah yang luput dari pendengaranku tentang mereka?

Manusia dan wataknya telah berkembang bersama waktu. Manusia kini berlomba-lomba bertahan hidup dengan--sadar tidak sadar--menghisap manusia lainnya. Tertawa ria setelah menguliti manusia lainnya.

Para pemudanya bangga menjadi sarjana setelah 4 tahun dimotivasi semangat persaingan, lalu mengantri untuk mengabdi sebagai properti pengusaha, menerima gaji diatas standar terendah, ditambah sedikit insentif buah dari kemauannya untuk diperintah. Berkumpul dan bersosialisasi bersama masyarakat borju lainnya, menikah muda, dan mulai mencibir aksi massa baik buruh maupun mahasiswa, menekan panjang klakson mobilnya sambil bergumam; "Bikin macet saja!". Tak jarang mereka luapkan emosinya di sosial media melalui gawai terbarunya.

Waktu telah menerbangkan bangsa ini, bangsa yang pernah disatukan oleh sumpah, ke masa yang penuh ketidakpastian. Masa-masa sulit yang diperparah dengan ketidakpedulian kaum mudanya.

Pada titik ini aku terheran, apa memang waktu telah gagal mendewasakan pemuda? atau para pemuda yang terlena dengan dongeng bambu runcing kemerdekaannya?

Aku masih mencintai waktu. Bagiku, hal terbaik yang pernah dunia tawarkan adalah waktu. Waktu telah memberiku kesempatan untuk mendengar kisah manusia-manusia hebat, manusia-manusia yang rela mati demi kelangsungan hidup manusia lainnya. Manusia-manusia jenis ini semakin sulit ditemukan dalam tatanan masyarakat kapitalistik yang buas dan tak berbelas kasih.

Aku berada di penghujung mudaku. Di hadapanku, masa tua menunggu. Ya, kemudaanku bukan tanpa batas. Waktu juga yang akan mengantarku ke masa tua itu. Oh, bukan hanya aku. Tapi juga pemuda lainnya. Tak baik jika habis mudaku dengan mencurahkan semua di dunia maya. Selain karena tak banyak yang mau membaca, sayang juga sisa kuota.

Kuakhiri dengan sebuah refleksi: 90 tahun adalah waktu yang lama. Belum terlambat bagi pemuda untuk merubah nasib bangsanya, membaca sejarah, melihat realita, lalu memanifestasikan semangat Jong Java, Jong Celebes, Jong Papua dan jong-jong pemuda lainnya kedalam jiwa pemuda mahasiswa Indonesia.

Hari lahir Sumpah Pemuda adalah tonggak lahirnya gerakan nasional. Selamat bersumpah para pemuda! Semoga persatuan bisa menemukan wujudnya, baik di dunia maya maupun nyata.



sumber

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply