» » » Pendapat


Proses Terciptanya sebuah Pendapat

Pendapat adalah buah pemikiran kita (manusia) mengenai suatu hal (KBBI 2018). Hal yang dimaskud di kalimat sebelumnya adalah apa saja.

Apa saja? Ya, apasaja, semuanya. Hal yang dimaksud di sini tentunya adalah segala yang mampu dirasakan oleh kelima indra yang dimiliki manusia. Jadi, manusia yang diberikan kenikmatan oleh Tuhan untuk hanya bisa menikmati kurang dari 5 indra, pastinya tidak akan mampu memberikan pendapat mengenai sesuatu hal berdasarkan indra yang tidak dimilikinya tersebut.

Untuk menciptakan sebuah pedapat mengenai hal yang kita dapat dari kelima indra, kita membutuhkan lebih dari sekadar indra yang sehat dan mampu menerima rangsangan. Hal lain yang perlu ada dan sehat adalah sesuatu yang bisa mengolah rangsangan tersebut menjadi sebuah pendapat, yakni otak. Namun, kelima indra kita tidak menempel langsung ke otak kita sehingga pesan (rangsangan) yang kita dapat membutuhkan media yang mengantarkannya menuju ke otak.

Saya akan memberikan contoh dan perumpamaan. Mata, hidung, telinga dan lidah kita berada di kepala bersama-sama dengan otak, namun kulit kita tidak hanya terdapat di kepala. Hampir seluruh permukaan tubuh kita ditutupi kulit. Seperti yang kita tahu, kelima indra tersebut tidak hanya berada di daerah kepala, bahkan ada yang melapisi seluruh bagian tubuh. Bahkan, mata, hidung, lidah dan telinga kita berada beberapa cm dari otak.

Semua indra kita memiliki ruang dan jarak untuk sampai ke otak. Ruang dan jarak tersebut akan membuat pesan (rangsangan) tidak akan sampai ke otak, sehingga kita tidak akan mampu menghasilkan pendapat. Oleh karena itu, tubuh kita memiliki jaringan yang berfungsi mengantarkan pesan (rangsangan) tersebut dari indera menuju ke otak, yaitu syaraf.

Pesan (rangsangan) yang telah diterima oleh otak selanjutnya akan diolah dan menjadi sebuah nilai. Pemandangan yang kita lihat melalui mata, aroma yang tercium melalui hidung, suara yang kita dengar melalui telinga, makanan yang kita rasakan dengan lidah dan suhu udara yang kita rasakan melalui kulit adalah contoh pesan yang dapat kita nilai apabila rangsangan yang kita terima melalui kelima indra diteruskan ke otak melalui jaringan saraf yang ada di seluruh tubuh dan telah diolah di otak kita.

Nilai yang dihasilkan oleh otak ada yang dapat langsung menjadi sebuah pendapat dan ada pula yang tidak. Seperti yang kita tahu, setiap aksi pasti ada reaksi sesuai dengan Hukum III Newton. Reaksi dari rangsangan dapat diungkapkan atau ditunjukkan secara langsung maupun tidak langsung (ada pengolahan lanjut dari nilai yang dihasilkan). Secara umum, pendapat diungkapkan melalui lisan. Namun, ada kondisi tertentu yang menyebabkan rangsangan yang diterima langsung mendapat respon dari tubuh kita.

Tubuh kita dapat mengungkapkan pendapat mengenai suatu hal tanpa perlu persetujuan dari kita. Hal ini karena tubuh merespon rangsangan yang dinilai sangat ekstrim dan berusaha untuk menanggapi rangsangan yang diterima. Otak kita secara otomatis mengategorikan rangsangan mana yang perlu respon langsung atau dapat “dipertimbangkan” terlebih dahulu.

Saya akan memberikan masing-masing satu contoh pada kelima indra untuk rangsangan yang dikategorikan oleh otak untuk direspon langsung. Mata kita saat melihat sesuatu yang sangat menyilaukan akan secara otomatis menutup matanya. Kita akan segera menutup hidung atau menahan nafas saat mencium bau yang sangat busuk, seperti bau kotoran. Kita akan segera menutup telinga apabila mendengar suara yang sangat keras. Kita akan menjulurkan lidah apabila minum air yang sangat panas secara langsung. Kita akan menggigil apabila merasa kedinginan.

Berdasarkan penjelasan di atas, secara tidak sadar, kita sudah mengeluarkan sebuah pendapat mengenai segala hal yang ada di sekitar kita melalui respon-respon yang dibentuk secara langsung oleh tubuh kita. Respon-respon diatas menunjukkan bahwa tubuh kita secara otomatis ingin mendapatkan suasana yang membuat tubuh kita berada dalam kondisi yang ideal. Tubuh kita mirip sebuah sistem komputer yang sudah dimasukkan kode-kode khusus sehingga akan langsung melaksanakan perintah sesuai kode yang dimasukkan. Kode-kode khusus tersebut adalah salah satu grand design yang diciptakan oleh Tuhan.


Pendapat yang Paripurna

Kita sudah mengetahui bahwa tubuh kita mampu mengeluarkan pendapat tanpa perlu kita perintah dan tanpa perlu persetujuan dari kita untuk diungkapkan. Namun, bagaimana pendapat yang dapat kita pertimbangkan terlebih dahulu?

Secara umum, berpendapat dapat kita artikan proses kita menilai sesuatu dan diungkapkan secara lisan. Namun, kita juga dapat berpendapat tanpa mengungkapkannya secara lisan. Maksudnya, kita dapat berpendapat mengenai sesuatu dengan media lain seperti menulis. Bahkan, kita dapat berpendapat dan hanya diri kita dan Tuhan yang tahu (diam/tidak diungkapkan).

Rangsangan yang sampai di otak akan dikelola dan menjadi sebuah respons. Beberapa respon ada yang harus diungkapkan secara langsung, namun ada pula yang dapat kita “pertimbangkan” terlebih dahulu. Respon yang harus diungkapkan secara langsung sudah saya jelaskan pada bab sebelumnya. Selanjutnya, saya akan menjelaskan respon yang dapat kita pertimbangakan terlebih dahulu.

Meskipun suatu respons dapat kita pertimbangkan, kita sebenarnya sudah menciptakan pendapat. Namun, pendapat tersebut sifatnya masih setengah matang atau barang setengah jadi. Mengapa pendapat tersebut masih setengah matang? Hal ini karena pendapat yang sudah kita hasilkan dapat diolah kembali menjadi sesuatu yang lebih bernilai tinggi.

Saya akan memberikan sebuah perumpamaan. Sebatang pohon yang ada di hutan kita anggap sebagai suatu barang mentah. Setelah pohon tersebut mencapai ukuran tertentu, kita dapat melakukan pemanenan untuk mendapatkan kayunya. Kayu yang dihasilkan biasanya dipotong dengan ukuran tertentu untuk memudahkan dalam pengangkutannya.

Kita dapat menganggap kayu tersebut sebagai produk. Namun, nilai dari kayu tersebut masih bernilai kecil. Dengan kata lain, kita dapat menganggap kayu tersebut adalah barang setengah jadi. Kayu tersebut dapat diolah kembali untuk dijadikan barang seperti barang-barang mebel, gitar, ukiran kayu atau yang lainnya. Barang-barang tersebut memiliki nilai guna dan nilai jual yang lebih tinggi daripada hanya sebuah kayu yang dipotong dengan ukuran tertentu.

Manusia adalah mahluk yang diciptakan dengan sempurna oleh Tuhan. Hal ini karena manusia dibekali dengan otak dan hati. Apa bedanya dengan hewan? Hampir semua mahluk hidup dari Kingdom Animalia memiliki otak dan hati. Secara biologis, manusia pun masuk dalam kingdom ini. Namun, mahluk bernama latin Homo sapiens ini dibekali akal dan nurani dalam otak dan hati mereka. Hal inilah yang membedakan manusia dengan mahluk Tuhan lainnya.

Akal digunakan untuk memberikan beberapa pilihan dalam pemecahan suatu masalah. Apa bedanya dengan insting pada hewan? Insting pada hewan dapat membuat kehidupan mereka berkembang secara kuantitas, namun tidak dapat membuat hewan tersebut berkembang secara kualitas. Insting digunakan hanya sebatas untuk mempertahankan hidup dan keturunan mereka.

Pada manusia, Akal digunakan untuk membuat kualitas dan kuantitas hidup mereka lebih baik. Manusia cenderung meninginkan kehidupan yang lebih baik dan tidak pernah merasa puas terhadap apa yang sudah dimilikinya.

Manusia sudah dapat menjadi “seorang manusia” dengan menggunakan akalnya, baik untuk kebaikan maupun keburukan. Hal ini karena Tuhan memang memberikan manusia kebebasan untuk memilih jalan yang kelak akan membawanya ke surga atau ke neraka.

Namun, dengan mengikuti nuraninya, manusia dapat menjadi “manusia yang berperikemanusiaan”. Mengapa saya menggunakan kata mengikuti? Hal ini karena setiap manusia pasti menggunakan nuraninya. Namun, manusia juga memiliki nafsu yang mampu mengambil alih akal manusia

Sebuah pendapat yang tercipta dalam otak pertama kali itulah pendapat yang paling jujur dalam diri kita. Kita bebas mengungkapkan pendapat tersebut atau menyimpan untuk diri sendiri. Pendapat yang disimpan dalam benak kita sendiri tidaklah menjadi masalah. Hal ini karena kita telah menciptakan sebuah pendapat menurut sudut pandang kita dan kita tidak mengungkapkannya.

Permasalahannya adalah pendapat yang akan diungkapkan, baik secara lisan maupun tulisan. Saat kita akan mengungkapkannya, sebuah Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) tercipta dalam tubuh kita. Konferensi tersebut dipimpin oleh akal, sedangkan nurani dan nafsu akan saling berdebat satu sama lain. Pihak (nurani atau nafsu) yang paling unggul dan mendominasi pada saat tersebutlah yang akan mempengaruhi akal. Hasil dari konferensi tersebut dapat menciptakan sebuah pendapat yang paripurna dan siap untuk diungkapkan ke publik.


Kebijaksanaan Berpendapat

Berpendapat dikenal sebagai salah satu hak manusia. Hal ini dapat kita lihat, dengar dan ketahui dari pernyataan mengenai kebebasan berpendapat. Kata kebebasan berarti tidak ada sesuatu yang menghalanginya. Namun, bagaimana praktik kebebasan pendapat yang kita ketahui selama ini?

Hak dapat diartikan sesuatu yang dapat diambil ataupun tidak. Biasanya, hak beriringan dengan kewajiban. Selain itu, hak bisa didapatkan apabila telah memenuhi kewajiban. Oleh karena itu, kebebasan berpendapat dapat kita dapatkan apabila kita telah melaksanakan suatu kewajiban yang berhubungan dengan kebebasan berpendapat. Lalu, apa kewajiban yang harus dilaksanakan tersebut?

Sebelum menjawab pertanyaan di atas, saya akan membawa anda melihat praktik kebebasan berpendapat di sekitar kita. Bebas dapat kita artikan juga merdeka, atau dengan kata lain Berdikari (Berdiri di Atas Kaki Sendiri). Hal ini berarti pendapat kita seharusnya memiliki kedaulatan sendiri, mampu menciptakan pendapat pribadi, dan lain sebagainya.

Namun, manusia adalah mahluk sosial yang saling berinteraksi setiap harinya dengan manusia lain. Mereka dapat saling bertukar pikiran saat berinteraksi satu sama lain. Seseorang dengan cara pandang yang terbatas terhadap dunia akan mudah diombang-ambingkan oleh informasi yang diciptakan demi kepentingan tertentu.

Seperti yang kita tahu, media saat ini banyak yang ditunggangi berbagai kepentingan. Salah satu yang paling sering kita dengar adalah politik. Namun, bukan berarti politik adalah sesuatu yang jelek. Segala hal yang dijalankan dengan kejujuran akan berbuah kebaikan, begitu juga sebaliknya.

Oleh karena itu, kita sebagai masyarakat juga harus menjadi masyarakat yang cerdas. Cara pandang kita terhadap informasi tidak boleh seperti cara pandang kuda yang dijadikan hewan penarik delman. Kuda tersebut hanya memiliki sudut padang yang sempit karena terhalang oleh penutup mata yang diberikan oleh sang kusir (supir delman). Kuda tersebut hanya menuruti apa yang diperintahkan menurut kendali dali sang kusir karena terikat oleh gerobak. Kuda tersebut membawa sang kusir dan penumpangnya untuk membawa mereka ke tempat tujuan yang mereka inginkan.

Hal di atas menggambarkan bagaimana seseorang yang pemikirannya mudah sekali dikendalikan oleh media-media yang sekarang banyak memberikan berbagai macam informasi. Kita tidak boleh seperti kuda tadi yang terikat dalam zona nyaman dan memiliki sudut pandang yang sempit.

Kita jangan hanya duduk manis dalam sofa empuk kita, lalu membaca sebuah informasi dan serta merta ikut membanjiri media sosial dengan komentar-komentar yang kurang cerdas. Jangan biarkan emosi dalam diri kita dikendalikan demi sebuah kepentingan yang akhirnya dapat memecah-belah kehidupan berbangsa dan bernegara. Kita harus bergerak dan melihat secara utuh suatu peristiwa.

Saya tidak menganggap pembaca dan seluruh masyarakat memiliki pola pikir seperti kuda diatas. Namun, saya hanya mengajak anda semua untuk tidak menjadi seperti kuda diatas, sehingga kehidupan kita tidak hanya diisi oleh kritik yang tidak membangun dan caci-maki, namun diisi dengan kasih sayang antar sesama manusia.

Sekarang, bagaimana dengan kebebasan dalam berpendapat? Apabila kita menggunakan kata kebebasan berarti kita boleh melakukannya dengan sesuka kita karena hal ini merupakan bagian dari hak asasi manusia. Kita dapat memuji, mengagumi, mengkritik, mengomentari, memaki dan lain sebagainya. Hal ini dapat dimaklumi apabila kita hidup dalam Negara liberal. Pujian maupun kritikan dalam bentuk apapun dianggap sebagai hak asasi manusia.

Namun, Indonesia tidak se-liberal itu. Landasan dalam berkehidupan di Indonesia adalah Pancasila. Pancasila mengatur bagaimana kita berketuhanan, berkemanusiaan, berkesatuan, berkerakyatan dan berkeadilan. Hal tersebut menjadikan kita tidak sepenuhnya bebas, namun terikat pada norma-norma, unggah-ungguh, tata krama, budaya, adat istiadat dan yang lainnya. Oleh karena itu, frasa yang tepat bukanlah kebebasan berpendapat, namun “Kebijaksanaan Berpendapat”.

Mengapa saya menggunakan frasa “Kebijaksanaan berpendapat”? Hal ini karena kita tidak boleh mengeluarkan pendapat secara sembarangan. Saya tidak mengartikan bebas berarti sembarangan.

Namun, kebebasan berpendapat sering kali disalahartikan bahwa kita dapat menyatakan pendapat secara blak-blakan kepada siapapun, kapanpun dan dimanapun. Padahal, sesuatu yang dimaksud dalam makna kebebasan adalah boleh. Namun, saya sekali lagi menuliskan bahwa kita hidup berlandaskan Pancasila. Oleh karena itu, saya merasa kebijaksanaan lebih tepat digunakan daripada kebebasan.

Menjawab pertanyaan pada paragraf 2, kewajiban kita sebelum mendapatkan hak untuk berpendapat adalah berpikir. Berpendapat bukan hanya menyampaikan apa yang ada di pikiran kita. Tindakan tersebut terlalu polos dan jujur. Jujur merupakan tindakan yang baik, Lalu, apakah kepolosan adalah sesuatu yang salah? Tidak, saya sama sekali tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang salah. Kejujuran dimiliki oleh setiap orang yang pemberani. Sedangkan, kepolosan dimiliki oleh setiap manusia pada saat pengetahuan yang dimiliki masih sangat terbatas.

Jadi, berpikir hanya dapat dilakukan oleh manusia yang memiliki pengetahuan akan hal tersebut. Hal ini karena manusia yang memiliki pengetahuan mengenai suatu hal, belum tentu menggunakannya untuk berpikir. Hasil dari suatu pemikiran dapat dijadikan indikator dari kualitas diri seseorang

Saya sangat menyukai ungkapan dari salah satu filsuf Prancis yang bernama Rene Descartes. Salah satu ungkapan yang sangat saya suka adalah Cogito, ergo sum yang bermakna “Saya berpikir, karena itu saya ada”.



sumber

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply