» » » Organisasi Metode Perkembangan


Pendapatan terhadap suatu bidang keilmuan atau penambahan ilmu pengetahuan dalam aktivitas berorganisasi tidak harus terlihat dari berapa sering adanya suatu agenda yang diselenggarakan oleh organisasi tersebut. Akan tetapi, bagaimana para anggota organisasi mampu menemukan suatu sudut pandang baru yang rasional terhadap suatu persoalan yang sedang dibahas maupun persoalan lainya dalam perkumpulan organisasi.

Terlebih lagi bagi kader-kader yang sedang menjalani tahap awal dalam sebuah organisasi. Tentu dituntut agar bisa menjadi pribadi yang intelektual serta komprehensif terhadap ilmu pengetahuan, sosial, dan budaya.

Berdasarkan paham ini, maka tulisan ini saya upayakan dikarenakan adanya beberapa individu yang ikut dalam sebuah oraganisasi dan mengatakan bahwa perkumpulan dalam organisasi itu hanya sedikit yang bisa mereka rasakan manfaatnya serta tidak mampu mencukupi kebutuhan individual mereka.

Bisa saya katakan, mereka ini ialah orang yang hanya mencicipi luarnya saja, tetapi tidak mencoba menyelam di dalammnya sehingga dia tersesat dan tak tahu sedalam dan seluas apa proses dalam berorganisasi.

Orang yang berorganisasi ibaratkan orang yang mendayung perahu di tengah luasnya lautan dan dia mencoba menyelam di dalam lautan itu. Dengan demikian, dia akan sadar bahwasanya lautan itu tidak hanya luas, tetapi juga dalam. Begitu dalam berorganisi, perjalanannya tidak singkat dan dangkal, tetapi jauh dan dalam.

Sebulum saya masuk ke dalam pembahasannya, perlu saya klarifikasikan terlebih dahulu tentang suasana dalam sebuah perkumpulan (tentunya dalam keorganisasian).

Memang tidak bisa kita elakkan bahwa setiap adanya perkumpulan tentu ada hal yang perlu disampaikan oleh pengelengara kegiatan, ada hal yang akan dibahas bersama, atau adanya sebuah persoalan yang akan dicari akar masalah, jalan keluar/pemecahan terhadap persoalan itu. Juga, selain daripada itu, tidak terlepas juga dari yang namanya bincangan pribadi atau canda serta curhatan.

Hal ini didorong oleh adanya perasaan individual yang perlu mereka uraikan dan didukung dengan pertemuan antara teman pergaulan (kenalan). Lalu beranjak dari definisi di atas, tentu pendapat terhadap manfaat perkumpulan (organisasi) itu tidak seharusnya diuraikan kalaupun hanya beralasakan tidak adanya sesuatu yang (wow/amazing) yang memang bisa tertanam dalam diri pribadi.

Terlebih lagi kalau yang beranggapan demikian itu adalah kader. Realitasnya, kalau tanggapan seperti ini mulai muncul terhadap para kader, maka yang terjadi tidak heran kalau kader nantinya akan menurun minatnya untuk menghadiri atau ikut pada agenda-agenda yang diadakakan ke depannya. Dan pengaruh terhadap perkembangan organisasi sendiri akan menurun.

Tentu dalam meminimalisasi hal ini, kita harus menumbuhkan kesadaran terhadapat diri dan tujuan kita berorganisasi, baik secara pribadi maupun universal. Karena organisasi bukan hanya untuk mendapatkan label bahwa kita tergolong dalam organisasi tersebut atau kita merupakan salah satu anggota organisasi tersebut, akan tetapi bagaima kita mampu menghidupkan organisasi itu dengan cara terus aktif dalam setiap agenda dan acaranya serta mampu berintelektual, menemukan gagasan-ggasan baru dan bagus dengan mengatasnamakan organisasi.

Sebagaimana yang pernah dikatakan (kakanda Nabil) bahwasanya dalam organisasi tidak ada hal yang bisa kalian cari (jangan mencari) atau yang bisa organisasi berikan, akan tetapi dalam berorganisasi kalianlah yang memberikan atau yang memasukkan hal-hal yang membangun yang mampu mengembangankan proses dan pertumbuhan organisasi tersebut.

Rasionalnya, jika seseorang ingin masuk organisasi dengan tujuan tertentu, maka dia akan kecewa jika tidak mendapatkan tujuannya. Jika dia mendapatkan tujuannya, maka dia akan terhenti berjuang karena tujuannya sudah tercapai. Inilah konsepsi yang salah dalam berorganisasi.

Sedikit saya tarik kembai tentang faktor saya menulis ini ialah berusaha meluruskan adanya anggapan yang mengatakan tidak ada sesuatu yang (greget) yang bisa dirasakan oleh beberapa orang dalam sebuah Organisasi. Seharusnya kita menyelam dalam dunia organisasi ialah ingin mengorientasikan atau mengaktualisasikan tujuan organisasi tersebut.

Kalau kita inginkan manfaat, tentu tidak semudah yang kita pikirkan dan tidak harus dapat kita tarik dalam satu waktu sehingga menghasilkan atau menjadikan diri kita berpemahaman luas, tetapi kitalah yang harus mengembangkan pemikiran kita dan menjadikan itu untuk landasan perkembangan diri dan organisasi. Hal itupun harus melalui tahap demi tahap, proses dan usaha perjuangan yang panjang.

Jadi, paham dan definisi negatif seperti ini tidak seharusnya terucapkan oleh para agent of change yang aktivis di bidang organisasi. Sebab pada realitas/hakikatnya, perkembangan diri itu sangat menonjol melalui perkumpulan berorganisasi karena di dalamnya organisasi mampu memotivasi, memberikan fpham, gagasan, serta metode agar kita mencapai sebuah pemahaman dan pengetahuan yang baru dan luas.

Contoh: dalam perkumpulan membahas tentang generasi instan dan budaya literasi yang menurun serta kuatnya pengaruh budaya kolonial yang melekat pada era modernisme. Membahas persoalan politik. Responsif terhadap isu kontemporer serta banyak hal lainnya. Dalam pembahasan ini pasti akan dipaparkan problem-problem yang berkiatan dengan pembahasan tersebut, seperti:

  1. Apa itu generasi insan, kenapa dikatakan generasi instan, dan seperti apa/siapa itu generasi instan.
  2. Apa itu budaya literasi, seperti apa proses dan perkembangan budaya literasi, dampak yang timbul karena menurunnya budaya literasi, dan bagaimana cara menekan turunnya budaya literasi.
  3. Seperti apa budaya kolonial, bagaimana hubungannya dengan era modernisasi dan praktik di era modernisasi yang sama dengan budaya kolonial.
  4. Bagaimana kita merespons isu-isu kontemporer.

Dari contoh ini, tentu perkumpulan sudah menanamkan paham terhadap anggotanya yang berkaitan dengan hal yang dibahas. Sehingga memunculkan karakter yang berpengetahuan dalam diri dan anggota organisasi. 

Terkait dengan manfaatnya, kita harus terlebih dahulu mengetahui bahwa tiada perkumpulan yang tidak berdampak. Entah itu positif maupun negatif bagi anggotanya, tergantung dari segi pembahasan dan tindakan perkumpulan itu sendiri.

Juga, bagian terpenting dari adanya suatu perkumpulan terutama dalam sebuah organisasi ialah silaturahim yang di mana silaturahim ini merupakan awal atau faktor utama untuk mendalami suatu hubungan, baik itu hubungan manusia antarmanusia dan manusia dengan lingkungan sosial. 

Dan dari silaturahim ini, juga natinya akan muncul pembahasan-pembahasan yang memang pada dasarnya sudah ditentukan maupun tidak disadari (tentukan). Sehingga kita dapat menarik berbagai hal dan manfaat dari persoalan yang dibicarakan.

Terlepas dari itu, kalau anggotanya mampu menalarkan persoalan, maka dia akan mampu menciptakan sebuah karya yang bisa memberikan pengaruh dan efek terhadap lajunya perkembangan organisasi, sehingga organisasi makin kental rasanya yang bisa dinikmati masyarakat.

Berdasarkan dari contoh dan definisi di atas, maka bisa kita simpulakan bahwa anggota yang beranggapan tidak koheren dengan/terhadap perkumpulan sebuah organisasi merupakan anggota yang enggan hadir dan hidonis serta pasif pada agenda-agenda yang pernah diselenggarakan oleh organisasi, sehingga tidak ditemukannya sesuatu yang (wow/amazing) dalam agenda tersebut.

Dari hal yang demikian, maka sangat perlu kita secara pribadi menghadirkan/menimbulkan rasa semangat serta menunjukkan keaktifan atau militan terhadap setiap kegiatan yang diadakan agar kita bisa meraskan gregetnya berorganisasi.

Ikuti arahnya, maka kau akan tahu ke mana tujuannya. Hadiri kegiatannya, maka kamu akan tau pembahasannya. Dengarkan pembahasannya, maka kamu akan dapat manfaatnya. Dari kata ini, sebenarnya haram bagi orang yang mengatakan dirinya aktivis tapi masih menanyakan gambaran kegiatan dalam agenda yang akan dia adakan.

Apakah memang diperlukan atau tidak? Apakah akan menghadirkan sesuatu yang bermanfaat atau tidak?

Kalau pertanyaan ini dilontarkan, maka hanya akan menimbulkan pertanyaan lainnya: di mana jiwa aktivis yang selalu siap dalam setiap kegiatan? Di mana semangat aktivis yang katanya unggul dalam pergaulan? Dan di mana aktivis yang komprehensif dalam intelektual?



sumber

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply