» » » Bencana dan Budaya Permisif


“Janganlah kau terjatuh di tempat yang sama untuk kedua kalinya,” kurang lebih seperti itu pesan yang selalu teringat dalam kepala kita. Dengan kata lain, kita diharuskan untuk “eling lan waspada”. Akan tetapi, imbuaun tersebut hanyalah slogan semata yang harus menempel pada jargon tradisi budaya, sedang dalam penerapannya, hal tersebut hanyalah angin lalu.

Kita akan lebih ingat dengan jargon-jargon politik iklan/sponsor sebuah produk yang massif disiarkan ditelevisi. Sehingga wajar jika kita harus jatuh pada lubang yang sama bukan hanya untuk kedua kalinya, melainkan berkali-kali.

Hal ini akan terlihat pada saat kita mengalami bencana. Korban selalu banyak berjatuhan dan penanganannya (proses rehabilitasi dan konstruksi) selalu mendulang berbagai permasalahan. Risiko dan kerentanan terhadap bencana yang dihadapi merupakan produk dari situasi sosial serta lingkungan fisik, sehingga hal ini berkolerasi dengan kemampuan mereka untuk menghadapi bencana dan pulih darinya.

Kekuasaan, jaringan sosial, pengetahuan dan ketrampilan, budaya, peran gender, komunikasi dan lokasi, kesemuanya mempunyai kolerasi pada risiko dan kerentanan terhadap bencana dan kapasitas untuk meresponsnya.

Indonesia adalah wilayah rawan bencana, di mana satu bencana alam dapat menimbulkan bencana lainnya, entah di daerah yang sama (susulan) maupun didaerah yang lain. Akan tetapi dengan melihat kejadian yang terjadi hingga saat ini, kita belumlah dapat mengurangi jumlah jatuhnya korban. Kontruksi budaya permesif telah berhasil melembaga dalam pola pikir dan prilaku masyarakat indonesia.

Selain itu, budaya ketergantungan, menjadi faktor pendukung dari budaya permesif tersebut, sehingga tidaklah aneh jika banyak bermunculan orang kaya baru pasca bencana, dengan meminjam judul novel yang ditulis oleh Sutan Sati yakni, “sengsara membawa nikmat”, adagium inilah yang pada akhirnya muncul pasca bencana.

Di sisi lain, proses rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana menjadi sebuah permasalahan tersendiri, dimana dalam setiap penanganannya selalu melahirkan permasalahan lain yang jauh lebih kompleks, seperti permasalahan psikologis, distribusi bantuan yang tak sampai, informasi, komunikasi dan koordinasi yang simpang siur, dan lain sebagainya, sehingga yang terjadi pembuangan energi secara maksimal dan kelambanan.

Dengan melihat perundang-undangan yang kita miliki mengenai penanggulangan bencana, seperti UU No 21 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana; UU No 22 Tahun 2008 tentang Pendanaan dan Pengelolaan Bantuan Bencana, UU No 23 Tahun 2008 tentang Peran Serta Lembaga Internasional dan Lembaga Asing Non-Pemerintah Dalam Penanggulangan Bencana;

Perpres No 8 Tahun 2008 tentang Badan Nasional Penanggulangan Bencana; sampai kepada Peraturan Menteri dalam negeri menyangkut hal-hal yang berkaitan dengan bencana; secara eksplisit kesemua perundang-undangan itu tidaklah memasukan peran serta masyarakat dalam proses rehabilitasi dan rekonstruksi.

Pada dasarnya  masyarakat mempunyai kemampuan dalam merehabilitasi dan merekonstruksi, akan tetapi dengan adanya pengingkaran tersebut, masyarakat hanyalah dipandang sebagai objek, bukanlah sebagai subjek.

Menurut Warren dalam fear dan schwarzweller mengkonseptualisasikan komunitas masyarakat sebagai kombinasi dari lokalitas (kawasan) dan unit-unit sosial (manusia dan kelembagaan sosial) yang membentuk keteraturan di mana setiap unit-unit sosial menjalankan fungsi-fungsi sosialnya secara konsisten sehingga tersusun sebuah tatanan sosial yang tertata, (fear dan schwarzweller: 1985).

Dengan demikian maka peranan unit-unit terkecil dalam masyarakat, yakni komunitas memegang peranan penting dalam proses rehabilitasi dan rekonsiliasi pasca bencana.


Memori Kolektif dan Konstruksi Sosial

Dalam makalahnya yang berjudul Records Disaster Management sebagai konstruksi sosial, Azmi menyatakan bahwa datangnya bencana alam tidaklah dapat diprediksi secara tepat, bencana alam bisa saja datang tiba-tiba tanpa diketahui sebelumnya (unpredictable).

Namun, risiko fenomena alam ini dapat diatasi dengan melakukan mitigasi, mengurangi kerugian yang akan ditimbulkan melalui kesiapsiagaan masyarakat (termasuk peran besar pemerintah) dalam menghadapi bencana alam. Azmi menekankan pada proses penyelamatan dokumen-dokumen kearsipan negara, tidaklah menekankan pada cara kerja memori dalam pembentukan memori kolektif yang masyarakat sehingga dapat menekan jumlah korban.

Adalah smong, sebuah tradisi lisan yang tetap terjaga hingga kini pada masyarakat Simeulue, Nangroe Aceh Darussalam.

Pada tanggal 26 Desember 2004, dini hari, bencana gempa bumi dan Tsunami menerjang propinsi tersebut, akan tetapi masyarakat Simeulue yang juga terkena bencana tersebut sangat tanggap dengan kedatangan bencana.

Dengan adanya sebuah kearifan lokal yang disebut sebagai smong, sebuah tradisi tutur yang menginformasikan dan  mengkomunikasikan kedatangan bencana tersebut, sehingga masyarakat yang tinggal di pulau tersebut dapat menyelamatkan diri, alhasil jumlah korban dapat diminimalisir.

Smong merupakan sebuah solusi dalam menghadapi bencana tsunami dan menekan jumlah korban meninggal dunia. Secara garis besar smong dapat diibaratkan sebagai early warning people system (peringatan dini oleh manusia) terhadap akan datangnya bahaya bencana tsunami sehingga masyarakat dapat menyelamatkan diri ke tempat yang aman.

Smong lebih murah dan efisien ketimbang membangun teknologi canggih peringatan dini tsunami. Oleh karena itu diperlukan kajian lebih lanjut mengenai bentuk kearifan lokal smong sekaligus sosialisi kepada masyarakat untuk menekan korban meninggal akibat bencana tsunami. 

Menurut masyarakat Pulau Simeulue, smong merupakan kearifan atau pengetahuan yang berasal dari “pengalaman nenek moyang”, ketika terjadi sebuah gempa besar yang menimbulkan tsunami pahun 1907 yang menewaskan banyak penduduk pulau. Cerita-cerita tentang peristiwa tersebut, kemudian diterjemahkan menjadi kisah-kisah, monumen peringatan, dan pengingat lainnya, yang lalu diteruskan kepada anak cucu mereka dengan pola yang bermacam-macam.

Smong merupakan sebuah konsep kearifan lokal sederhana yang berfungsi sebagai alat sosialisasi bahwa akan terjadi tsunami. Setelah gempa berlangsung dan terdapat ciri-ciri akan terjadi tsunami yakni, air laut yang surut secara tiba-tiba, bau asin dari arah laut yang sangat menyengat, berhembus angin dingin dari arah laut.

Banyak ikan menggelepar di pantai, dari kejauhan tampak gelombang putih dan suara gemuruh yang sangat keras, maka warga akan berlari menjauhi pantai sambil berteriak "smong… smong…", memberitahukan kepada warga lainnya. Secara otomatis warga lain akan mengerti akan terjadi tsunami.

Teriakan warga akan membentuk sebuah pesan berantai kepada warga-warga lain sehingga sempat untuk menyelamatkan diri. Metode ini tidak membutuhkan teknologi khusus yang rumit seperti halnya alat deteksi tsunami TEWS yang dibangun pemerintah.

Bersamaan dengan apa yang terjadi di Semeulue, terjadi pula di Flores dan Lembata provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), masyarakat disana pun telah akrab dengan gempa dan tsunami.

Dengan melihat studi Jonatan Lassa, mengenai memori kolektif masyarakat flores. Studi yang dilakukan oleh Jonatan Lassa merupakan suatu studi lanjutan, yang mana sebelumnya telah terdapat dua peneliti lainnya, yakni  Barnes (1974) dan Jeffery (1981), walaupun memang kedua peneliti tersebut lebih menitik beratkan pada ranah antropologi bencana, sensifitas ruang dan mitos yang berkaitan dengan bencana alam yang pernah terjadi.

Dalam bahasa Kedang, “hari bura” bermakna “gelombang besar” yang maknanya mirip tsunami, di mana gelombang tersebut bergerak menimbulkan surut yang besar dan kembali dengan cepat mengisi daerah pantai yang ditinggalkannya.

Barnes juga menuliskan tentang “ara bora” yakni monster laut yang ditakuti oleh pelaut. “Hari bura” konon dapat dicegah oleh “ular naga” yang bersemayam di puncak gunung kedang  manakala ia turun dan berperang dengan “hari bura” di pantai.

Dijelaskan Barnes bahwa ada perbedaan kategoris yang mendasar antara monster di gunung alias “ular naga” dan “hari bura” berkaitan dengan kesejahteraan dan bencana tertentu dapat dijelaskan dengan turunnya “ular naga” atau naiknya “hari bura” yang mana perbedaannya menjadi membingungkan. Banjir bandang yang merusak dijelaskan sebagai munculnya “ular naga” dari lubangnya di gunung.” (Jeffery 1981:18).

Mitos Kedang tentang pernikahan dahulu kala antara Bota Ili (seorang perempuan dari gunung) dengan Wata Rian (lelaki dari pantai), oleh Barnes dalam sebuah diskusi dengan informannya, dihubungkan dengan kejadian badai di Leuwajang, sekitar tahun 1932. Selama badai tersebut, runtuhan sedimen besar (batu besar) jatuh ke laut (Jeffery1981).

Batu “raksasa” dan pepohonan yang runtuh tersebut dimaknai sebagai kekayaan yang dibawakan Bota Ili sedangkan mas kawin dari Wata Rian berupa gelombang besar yang dibawa ke pantai dari laut. Di Leuwajang, bila diperdiksikan akan terjadi banjir, alarm dalam bentuk gong dibunyikan dan orang-orang di rumah dataran rendah diujung lurah, akan naik ke rumah yang lebih tinggi di atas ngarai.

Desa tetangga seperti Leudanun, ketika kejadian tersebut berada di pantai, disapu turun kelaut (Barnes 1974:40- 42 in Jeffery 1981:18). Cerita ini menggambarkan pengetahuan lokal sebagai bentuk adaptasi pada berbagai peristiwa alam khususnya badai dan banjir.

Cerita tuturan juga akan mengalami pelapukan bila tidak ada tindakan “pelembagaan” memori malapetaka masa lalu, karena dalam tradisi “kita” di timur, sering yang dianggap buruk tidak diungkit-ungkit. Hal inilah yang pada akhirnya studi memori sagat bersifat paradoksal, ia berfungsi untuk mengingat dan melupakan dalam waktu yang sama.

Akan tetapi memory bersifat “menubuh” (emboded), dalam arti ia akan terus melekat dalam diri individu dan kolektif, sedang di saat yang sama dengan adanya pelembagaan tradisi, ritual, carnaval, museum dan lain sebagainya dapat menggugah memori yang terkadang terlupakan.

Relevansi antara memori dengan sebuah peristiwa besar membentuk pula memori kolektif, yang mana hal ini dapat berpengaruh terhadap keterjagaan memori, bukan hanya karena kuantitas “pememori” tetapi juga adanya transformasi lintas generasi bahkan lintas spasi.

Terlepas dari sifatnya yang paradoksal, relevansi masih akan terus terjadi, apa lagi ketika jumlah penduduk semakin bertambah dan menyebar ke daerah-daerah di mana alam melangsungkan “hayatnya” dan tidak berkehendak manusia tercederai karenanya bila saja manusia mengetahuinya dan meresponinya dalam bentuk taat ruang yang ramah bencana.

Risiko mungkin sedang berinkubasi dan tinggal menunggu waktu saja kapan terjadi entah dalam bentuk gempa, tsunami ataupun gunung api. Kita perlu bersiap-siap diri “menyambut” siklus alam tersebut, bukan dengan kepanikan tapi dengan pemahaman yang lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya yakni tentang uraian detail dari resiko bencana maupun malapetaka dalam lensa pengetahuan.

Tidak banyak pilihan yang jitu selain membuat tata ruang yang lebih baik dan adanya kemauan politik dan kecerdasan administrasi untuk menegakannya serta membangun dengan kaidah-kaidah mitigasi dengan mengedepankan dialog dan semangat partisipatif.



sumber

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply