» » » Bangsa Politis dan Demokrasi Pengharapan


Kekuasaan (power) dalam terminologi ilmu politik beroperasi dalam praktik yang paling sederhana yakni relasi antara dua orang (one dimention). Ketika dua orang berjumpa dan berkomunikasi, sadar atau tidak, keduanya sedang mempertaruhkan pengaruh dan kekuasaan.

Maka, kekuasaan seringkali dimaknai sebagai upaya mempengaruhi orang lain atau pihak lain agar mengikuti kehendak, visi atau makna-makna yang hendak ditancapkan atau dimenangkan. Dalam konteks ini, pengetahuan ber-politik, sesungguhnya adalah fitrah manusia—sebagaimana naluri manusia dalam bertahan hidup.

Setiap yang sudah bisa berhitung dan membaca telah menjalankan naluri politik dalam hidupnya.


Naluri Berpolitik

Pengetahuan politik itu bertumbuh di dalam lokus paling domestik yakni di rumah. Relasi antara anggota keluarga, antara dua orang sekawan, antarwarga, antarkomunitas. Praktiknya bisa terjadi di pasar, di rumah, di jalan raya, di forum warga, di mana pun. Inilah yang disebut dengan politik sehari-hari (daily politic). Singkatnya, manusia adalah mahluk politik.

Naluri berpolitik itu bisa berkembang, apakah menjadi barbar, sarkas, atau jinak tergantung pada lingkungan sosial politik yang ada. Di suatu bangsa yang demokratis, hasrat kuasa tentu dapat terakomodasi oleh suatu prosedur demokrasi melalui Pemilu misalnya.
Berbeda halnya dengan bangsa yang menerapkan tradisi monarki yang otoriter, hasrat politik cenderung terepresi. Bila demokrasi yang dianut cenderung liberal, hasrat kuasa pun akan menjadi banal, buas dan penuh intrik.

Kekuasaan dalam ilmu politik sejatinya adalah suatu kehendak baik. Maka, politik sesungguhnya adalah suatu jalan memperjuangkan kebaikan-kebaikan. Atau memenangkan kepentingan mayoritas (general will). Bila begitu, agak keliru bila ada yang berkata: “politik itu kotor dan menjijikkan”—sebab (sekali lagi) politik itu baik, luhur—sebab politik adalah jembatan menyulam kebaikan bersama seperti kesejahteraan, kemakmuran, dan kedamaian.

Bagaimana bila suatu bangsa yang berdemokrasi menjalankan dramaturgi politik yang ‘cadas’ dan ‘culas’? Itu berarti aktor-aktor politik yang berkontestasi di dalamnya tidak menempatkan makna kekuasaan itu sebagai sebuah makna utama dari suatu perjuangan politik. Aktor di dalamnya boleh jadi memanfaatkan momentum politik sebagai sarana membajak kekuasaan (political decay) untuk memenangkan agenda pribadi dan kelompoknya. Mereka membunuh harapan orang banyak (publik).

Itulah sebabnya, prinsip dasar dari suatu proses demokrasi adalah kesetaraan (equity). Semua orang punya hak dipilih dan memilih. Rakyat adalah pemilik sejati repubik (vox populi vox dei). Pilihan-pilihan politik yang dijalankan adalah sesuatu yang bersifat bebas (freedom).

Semakin demokratis suatu bangsa, kekuasaan yang diperebutkan berjalan harmonis dalam arti, siapa pun dapat tampil sebagai pemimpin. Tak ada pilihan politik karena intimidasi. Aspirasi politik pada suatu praktik demokrasi berjalan atas dasar rasionalitas dan nurani.

Sayangnya, demokrasi yang cenderung liberal mengubah watak para pelakon politik alias politikus menjadi barbar. Mereka bertempur saling memakan. Ibarat di laut bebas, demokrasi yang liberal mempertontonkan hikayat tentang ikan-ikan besar yang memakan ikan-ikan kecil. Siapa kuat ia berkuasa. Siapa berkuasa, maka ia akan menguasai sumber daya ekonomi dan penghidupan. Dan mematikan yang lain.

Demokrasi seperti itu bergerak tanpa kendali. Saling sikut. Saling sikat. Publik sebagai subjek politik menjadi korban dari huru-hara berdemokrasi semacam ini. Situasi demikian, rasanya sudah menghinggapi konstalasi perpolitikan tanah air.

Demokrasi kita digandrungi oleh kebencian-kebencian. Era digital kemudian mengakomodasi semuanya, dimana kebencian dimodifikasi melalui media sosial dan berita-berita sesat (hoax). Ini adalah suatu era politik pacuan kuda (horse race politics) yakni suatu permainan ambisi tak berakhir.


Merawat Harapan dan Akal Sehat

Di hari-hari yang akan datang, jelang Pemilu dan Pilpres 2019, sebagai bangsa demokrasi yang akan merayakan Pemilu terbesar di dunia, suasana politik kita dipastikan heboh. Bersiaplah kita semua menyambutnya—suatu era politik yang rumit dan kadang irasional. Semua itu terjadi karena demokrasi kita yang super liberal. Itulah sebabnya, Bung Hatta pernah mengingatkan kita betapa demokrasi ada batasnya (Moh Hatta 2009). Demokrasi harus dikendalikan oleh akal sehat (setidaknya).

Bagaimana menyikapinya? Kita membutuhkan kepala dingin. Lalu, literasi politik, yakni kemampuan memahami setiap informasi politik secara utuh. Tidak gampang terprovokasi. Bersedia menerima perbedaan pandangan politik. Sebab, demokrasi sejatinya adalah suatu pembelajaran bersama untuk memahami lintas perspektif.

Berdamai dengan perspektif yang bertolak belakang dengan ideologi politik kita. Tetapi, tetap memelihara harapan. Setidaknya, harapan bahwa demokrasi yang sedang berjalan ini, akan berproses (entah cepat atau lambat) menjadi semakin baik. Inilah budaya politik yang diwariskan pada kita oleh para pendiri bangsa yakni “politik harapan” (politics of hope) bukan (politics of fear) (Mengutip Yudi Latif, 2017).

Maka, ruang terbuka bernama demokrasi ini semestinya kita nikmati saja jalannya. Demokrasi haruslah disambut riang gembira. Walau hari-hari ke depan, semua serba “politis”. Kita akan disuguhi oleh iklan-iklan partai politik layaknya iklan makanan siap saji. Kita akan melihat aktor-aktor politik kita saling serang layaknya di film-film perang.

Semoga kita tak goyah karenanya, dan kita tetap bertahan sebagai “manusia politik” yang selalu melihat dengan mata hati. Menjadi warga bangsa yang merawat impian berdemokrasi tanpa gaduh—sebab kebaikan bersama sayang sekali dikorbankan hanya karena momentum lima tahunan. Wallahu alam.



sumber

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply