» » » Pemuda, Antara Bonus dan Minus Demografi


Mungkin sudah tidak asing lagi bagi kita ketika mendengar istilah "Bonus Demografi". Menurut hasil prediksi, Bonus tersebut  puncaknya ada pada tahun 2020-2030.

Jumlah pemuda Indonesia pada saat itu yang terbilang sangat banyak, seharusnya bisa menjalankan berbagai sector, baik level dalam Indonesia maupun Internasional.

Namun, ketika menelitik kembali bagaimana kondisi yang terjadi dewasa ini, istilah "bonus demografi" ini perlu dipertimbangkan kembali, jangan sampai istilah itu malah terasa seperti "minus demografi".

Secara tidak sadar dan tidak kasat mata, sebenarnya pemuda kita saat ini sedang dalam proses dilemahkan. Pemuda kita tidak dilemahkan menggunakan senjata dan ataupun menggunakan peralatan-peralatan lainya yang sifatnya bisa melemahkan.

 Pemuda kita sedang dilemahkan pemikiranya dengan segala macam hiburan-hiburan yang ditawaran. Sepintas hiburan yang ditawarkan memang sangat mengasikan, sehingga orang-orang termasuk pemuda cenderung terjebak didalamnya.

Lihat saja bagaimana kebanyakan pemuda hari ini yang tidak lagi idealis. Hal ini terlihat bagaimana mereka menurunkan kualitas tujuan hidupnya sendiri.

Dulu tujuan hidup pemuda ialah untuk bisa diakui karya-karya-nya, menciptakan sesuatu ide yang membangun yang memiliki manfaat untuk masyarakat luas.  Namun, jika kita mesandingkanya dengan  kebanyakan pemuda hari ini, jujur saja tujuannya sangat menyedihkan. Bagi mereka, tujuan hidupnya cukup dengan pengakuan orang lain di media maya.

Bergunanya kita bagi masyarakat bukan lagi sebagai parameter untuk menunjukan seberapa hebat kita. Kini jumlah followers, likes, dan juga komentar justru menjadi parameter yang kongkrit untuk menunjukan kehebatannya.

Pemuda-pemuda kita semakin hari semakin disibukkan dengan menciptakan kehidupan lain didunia maya, mereka memeprlihatkan kehebatan-kehebatan mereka disana, harapanya supaya mendapat pengakuan dan pujian.

Padahal kalau kita berpikir secara logis, pengakuan yang kita dapatkan didunia maya hanya mendatangkan pengakuan secara maya pula. Itu yang tidak sampai di pikirkan oleh pemuda kita, pegakuan itu hanya fana dan tidak nyata. Hal seperti ini yang menjadi bahan renungan kita sebagai pemuda yang nantinya akan melanjutkan cita-cita leluhur kita.

Terlalu banyak waktu yang terbuang sia-sia untuk menciptakan dunia yang fana itu. Bayangkan saja bagaimana jika dalam sehari kita menghabiskan waktu 1 jam untuk hal yang tidak bermanfaat, maka dalam setahun kita sudah kehilangan sebanyak 365 jam. Itu baru perhitungan satu jam, belum berjam-jam.

Jika hal ini masih menjadi gaya pemuda kita hari ini, tidak bisa memanfaatkan waktu dengan baik. Maka besar kemungkinan bunus demografi hanya akan menjadi sebuah beban.

Oleh karena itu kita sebagai pemuda harus mampu menggunakan semua tawaran hiburan seperti dunia maya tadi untuk hal-hal yang produktif, misalnya untuk saling mengingatkan sesama, bukan untuk dijadikan dunia baru. Karena hadirnya dunia maya bukan untuk membuat kita berleha-leha, sehingga mematikan kita untuk berkarya. Tentu bukan sembarang karya, melainkan karya yang memiliki sumbangsi bagi masyarakat.



sumber

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply