» » » Mimpi Negara Kesejahteraan di Era Revolusi Industri 4.0 (Bagian 1)


Setiap pemilihan umum, baik daerah maupun nasional, sudah jamak kita mendengar calon pemimpin mengkampanyekan janji-janji kesejahtraan untuk memikat para pemilih. Bak seorang pedagang, mereka merayu dan dengan gigih meyakinkan bahwa produknya adalah yang terbaik.

Sebagai negara yang masuk katagori menganut sistem kesejahteraan, adalah wajar hal seperti itu terjadi. Pembukaan UUD 1945, mengamanatkan tujuan kebangsaan kita adalah memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa yang didasarkan pada prinsip keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Lalu tujuan umum ini dijabarkan dalam batang tubuh UUD 1945 khususnya pasal 27 ayat 2, tentang hak setiap warga atas pekerjaan dan penghidupan yang layak.  Juga dalam pasal 31, tentang hak warga untuk mendapat pengajaran.

Selain itu, ada pasal 32 tentang tugas pemerintah memajukan kebudayaan nasioanl. Pasal  33 tentang ekonomi kekeluargaan dan cabang-cabang produksi yang penting dan menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai negara. Dan pasal 34 tentang kewajiban negara memelihara fakir miskin dan menyediakan sistem jaminan sosial.

Semua haluan negara tersebut menegaskan bahwa kita masuk katagori negara kesejahteraan, yang mana muara akhirnya adalah memperkecil kesenjangan ekonomi, dan menerapkan perlakuan yang sama antara golongan kaya dan golongan miskin.

Memangnya ada yang salah jika jurang yang senjang memisahkan orang kaya dan miskin, sehingga negara harus mengatur sedemikian tegas?

Ya, tentu saja. Jika suatu negara banyak yang miskin, mereka akan mudah disulut untuk melakukan tindakan kekerasan, kriminalitas, radikalisme, dan hingga tindakan terror, yang berujung kurang kondusifnya keadaan negara, lalu bernegara menjadi gagal.

Dampak lainnya adalah memberi pengaruh buruk bagi demokrasi, karena jika banyak rakyat miskin, mereka gampang disuap oleh politisi. Mereka akan menjual suaranya untuk ditukarkan dengan sejumlah uang atau sembako, seperti yang banyak disinyalir terjadi tiap pemilihan pemimpin.

Namun tidak semua cita-cita negara kesejahteraan berkisah sukses, salah satu keburukan konsep negara kesejahtraan adalah dominannya negara pada kehidupan masyarakat.

Dalam hal ini, negara akan mengurusi banyak segi kehidupan, hingga mengurus hal pribadi dan privat, seperti  boleh tidaknya buku yang dibaca, film yang ditonton, boleh atau tidak mengidolakan suatu tokoh karena ideologinya, cara kawin dan berpacaran, dan sebagainya

Di samping itu, sistem kesejahteraan membuat masyarakat sangat tergantung pada negara. Negara menjadi pusat kesejahteraan. Akibatnya banyak perilaku korupsi, manja, tanpa kemadirian. Semua mengandalkan negara.

Dan dampak buruk yang paling besar adalah negara kesejahteraan akan menjadi negara raksasa, dengan jumlah birokrasi yang banyak dan berliku.

Ironisnya, permasalahan yang muncul dari semakin meraksasanya dan mengguritanya birokrasi seperti itu, hadir tanpa didukung sikap professionalisme, hingga geraknya lamban dan malas.

Dalam kompleksitas seperti itu, rakyat akan kehilangan kesempatan untuk mengawasi, mengendalikan, dan menilai kinerja pemimpin dan wakil rakyat yang telah mereka pilih.

Pernyataan Jean-Jacques Rousseau, mengenai kelemahan sistem demokrasi perwakilan, perlu direnungkan. Ia menulis:

“Orang Inggris percaya bahwa mereka adalah orang-orang bebas. Mereka sungguh-sungguh salah, karena mereka hanya bebas selama pemilihan anggota-anggota parlemen, dan dalam waktu di antara dua masa pemilihan tersebut, rakyat berada dalam perbudakan, mereka tak berarti apa-apa. Dalam masa pendek dari kebebasan mereka, orang Inggris menggunakannya sedemikian rupa hingga mereka patut untuk kehilangan kebebasan mereka. (Rousseau, 1974:79 )

Dalam beberapa pengertian, negara dan dunia industri memiliki beberapa persamaan, di antaranya sama-sama melakukan usaha produksi dan melayani. Jika dalam dunia industri, produk yang dihasilakan berupa barang dan jasa, sedangkan negara menghasilkan produk berupa kebijakan, undang-undang, dan pelayanan publik.



sumber

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply