» » » Kontradiksi Kehidupan Modern terhadap Kebahagiaan (Bagian 4-Habis)


Solusi Alternatif

Setelah pemaparan tentang problematika modernitas, indeks kebahagiaan, dan kehidupan kota di Indonesia, maka saya akan mencoba memberikan tawaran solusi, yaitu melalui membiasakan perilaku baru dan mengubah cara berpikir.

Pertama, membiasakan perilaku baru, yaitu membiasakan perilaku yang sehat dan bermanfaat, baik secara fisik, mental, spiritual dan sosial.

Perilaku yang bisa meng-cover semuanya adalah kegiatan berkebun. Kota yang berkembang sangat cocok untuk membiasakan kegiatan berkebun untuk mempersiapkan diri sebelum masalah-masalah perkotaan mulai bermunculan.

Misalnya kota Mamuju sebagai ibu kota baru Provinsi Sulawesi Barat yang mulai berkembang dengan pesat, ditandai dengan hadirnya beberapa hotel berbintang dan pusat perbelanjaan seperti mall. Pembangunan yang cepat perlu diimbangi dengan ruang terbuka hijau untuk mencukupi kebutuhan oksigen. Kegiatan berkebun juga membuka interaksi sosial lintas umur dan tentunya selain bermanfaat secara ekologi juga secara ekonomis.

Kedua, mengubah cara berpikir. Maksudnya adalah memaparkan kesalahan berpikir atau cara berpikir masyarakat agar masyarakat tahu dan melakukan perubahan. Perubahan besar diawali dari perubahan cara berpikir (mind set).

Menurut Taufiq Pasiak, Ketua pusat otak dan perilaku sosial Universitas Sam Ratulangi Manado, perlu direnungi bersama bahwa kemorosotan dan krisis multidimensi yang terjadi pada bangsa Indonesia berakar dari kemampuan dan kapasitas berpikir (cara berpikir) yang bermasalah yang termanifestasi dalam tiga bentuk, yaitu premanisme, pragmatisme, dan konsumerisme.

Premanisme yang dimaksud bukan seperti preman yang kita kenal yang memeras dan mengambil barang seseorang dengan ancaman benda tajam. Premanisme adalah sebuah sifat dan perilaku yang bersumber dari cara berpikir yang salah.

Premanisme adalah perilaku instan. Kecenderungan orang Indonesia saat ini untuk mendapatkan sesuatu secara instan. Jadi kalau dia mau jadi sarjana tinggal bayar, kalau mau jadi doktor dia mengambil yang gampang, kalau mau jadi pejabat dia melobi pejabat puncak agar cepat jadi pejabat, tidak mau mengikuti proses dari bawah.

Pragmatisme, kecenderungan orang untuk berperilaku mendapatkan sesuatu secara cepat, mencari sesuatu atau mendapatkan sesuatu yang berorientasi jangka pendek, tidak berorientasi jangka panjang.

Jika memilih calon gubernur atau calon presiden, maka ia memilih calon yang dapat mendatangkan manfaat jangka pendek pada dirinya, tidak berpikir kepentingan jangka panjang bangsa ini. Jika membeli sesuatu, maka ia akan mencari sesuatu yang memuaskan dirinya sehingga ini menghilangkan social saving (tabungan sosial) seperti kepercayaan, saling percaya, kerukunan, pluralisme. Contoh seperti kerusuhan-kerusahan atas nama agama karena kepentingan politik, sosial, ekonomi, budaya, dll.

Konsumerisme, kecenderungan orang untuk mengonsumsi dan menjadikan segala sesuatu sebagai sesuatu yang sifatnya konsumtif. Misalnya, jika ia menjadi politisi, ia akan berpikir apa yang bisa saya hasilkan dari sini, bukan berpikir bahwa itu adalah tempat untuk mengabdi, melakukan sesuatu bagi bangsa.

Semoga dengan tulisan yang sangat sederhana ini saya dan kita semua dapat memulai hidup yang lebih humanis, ramah, dan lebih peduli.



sumber

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply