» » » Kontradiksi Kehidupan Modern terhadap Kebahagiaan (Bagian 3)


Kehidupan Kota di Indonesia

Bagi yang percaya kepada Tuhan, dua hal yang perlu diperhatikan dalam menjalani kehidupan ini adalah takdir dan nasib. Takdir itu sudah ditentukan oleh Allah, seperti Indonesia ini banyak gunung berapinya, banyak sumber daya alamnya, berbentuk kepulauan, dll. Sedangkan nasib itu adalah keadaan yang bisa diubah, seperti keadaan kota yang tidak teratur (semrawut), sumber daya manusia yang rendah, tingkat pendidikan yang rendah, dll. Nasib itu bisa diubah.

Keadaan kota besar di Indonesia yang dikabarkan sering mengalami kemacetan, kekerasan, dan polusi udara nyatanya tidak membuat jerah masyarakat melakukan urbanisasi. Bahkan di prediksi pada tahun 2030 urbanisasi akan meningkat sampai 60%. Menurut Ridwan Kamil, perkotaan nantinya menjadi pusat peradaban di masa depan.

Kehidupan kota dicirikan dengan persaingan, individualistik, konsumtif, dan percepatan di segala bidang. Semua manusia di kota bekerja keras untuk bersaing mendapatkan uang sebanyak-banyaknya.

Seseorang yang bisa menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat dianggap hebat dan berkualitas. Hal inilah yang menjadikan masyarakat seperti robot yang kehilangan jiwa. Fokus pada kecepatan membuat hal penting dan bermakna kehilangan tempat dalam prioritas pilihan.

Hal ini juga yang menyebabkan seseorang kehilangan empati dan kepeduliannya terhadap sesama. Bagi saya, manusia seperti inilah yang cocok disebut psikopat.

Makanan cepat saji (junk food), kondisi lingkungan yang mudah menyebabkan seseorang stress (urban stress), dan jarangnya masyarakat kota melakukan olahraga menyebabkan angka lama hidup menjadi menurun dan menyebabkan penyakit sangat mudah menyerang bahkan di usia yang sangat muda.

Di kota besar di Indonesia juga sangat kurang lahan terbuka hijau sehingga membentuk lingkungan yang tidak sehat.

Kita ketahui bersama bahwa tumbuhan hijau adalah penghasil oksigen yang sangat baik untuk lingkungan. Selain baik untuk kesehatan, lingkungan hijau indah secara estetika dan baik untuk psikologis manusia.

Menurut penelitian di Jepang bahwa manusia kota yang terlalu stres dalam tumpukan pekerjaan disarankan untuk memeluk pohon atau menyentuh tumbuhan karena terjadi interaksi kimiawi yang menyehatkan.



sumber

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply