» » » Kontradiksi Kehidupan Modern terhadap Kebahagiaan (Bagian 1)


“Kebahagiaan tidak ada pada benda yang kita punya, tapi kebahagiaan ada di dalam diri kita.” (Andrew Carnegie)

Ketika mengawali pelajaran ilmu pengetahuan sosial di bangku sekolah menengah pertama, kita diperkenalkan dengan istilah manusia sebagai makhluk individu dan manusia sebagai makhluk sosial. Awalan ini bertujuan untuk menanamkan pemahaman bahwa manusia secara individu dan sosial itu berbeda ruang lingkup, hak dan kewajiban, serta tugas dan tanggung jawabnya.

Manusia sebagai makhluk sosial sangat penting untuk dipahami secara luas dan mendalam sebagai modal bermasyarakat. Adam Smith mengistilahkan manusia sebagai makhluk sosial dengan Homo Homini Socius yang berarti manusia menjadi sahabat bagi manusia lainnya, sedangkan Aristoteles menyebutnya sebagai Zoon Politikon yang berarti hewan yang bermasyarakat.

Jika kita melanjutkan studi sampai ke tingkat sekolah menengah atas, maka kita akan bertemu lagi dengan ilmu pengetahuan sosial yang telah terbagi secara spesifik menjadi Sosiologi, Ekonomi, dan Geografi. Sebagai murid di sekolah, kita telah dibekali dengan ilmu pengetahuan sosial yang cukup.

Lantas timbul pertanyaan, seberapa besar pengaruh pelajaran ilmu sosial tersebut dalam menciptakan manusia sosial? Apakah ilmu sosial tersebut menjadikan kita fasih dalam bersosial, minimal bisa bersosial dengan baik, atau semua itu hanya teori yang tidak sejalan dengan realitas yang terjadi?

Kita sadari bersama bahwa kehidupan modern telah menjadikan kita lupa diri sebagai makhluk sosial, apalagi semakin berkembangnya teknologi. Kita lupa gotong royong, kita lupa menyapa dengan tulus, bahkan kita lupa sekadar untuk tahu kabar tetangga sebelah rumah.

Ini kenyataan yang terjadi saat ini. Apakah kita menutup mata dan pura-pura tidak tahu terhadap kenyataan ini. Kondisi seperti ini lebih kontras terlihat di kota-kota besar.

Hidup di kota besar, jika ingin bahagia, maka syaratnya harus memiliki uang yang banyak. Apalagi gaya hidup masyarakat kota lebih mengutamakan keinginan daripada kebutuhan. Hidup di kota membuat kita mudah stres karena sempitnya pikiran untuk sekadar bahagia. Menjadi budak pekerjaan, dikejar-kejar waktu, bahkan semua hal harus cepat menjadi pemandangan biasa kehidupan kota.

Kita perlu solusi untuk mengatasi keadaan ini. Teman-teman juga bisa memberikan solusi dimulai dari diri sendiri. Tapi, sebelum itu, mari kita baca dulu tentang problematika modernitas, indeks kebahagiaan, dan kehidupan kota di Indonesia berikut.


Problematika Modernitas

Modernisme ternyata tidak selalu membawa kebaikan seperti yang diharapkan oleh manusia. Bahkan dampak yang dihasilkan terlalu banyak yang negatif. 

Saat ini berbagai penyakit psikosomatik sudah banyak ditemukan. Dekadensi moral di kalangan pelajar dan mahasiswa, free sex, criminal, dan anarkisme merupakan beberapa di antaranya. 

Selain itu, kita juga menemukan fakta bahwa penyakit jiwa, stress, depresi, cemas, temperamental, gelisah, paranoid, psikopat, skyzoprenia, split personality adalah jenis penyakit kejiwaan yang banyak ditemukan di era modern. Ternyata modernisme yang kita kenal saat ini diawali dari peradaban barat modern dengan revolusi industri.

Perubahan budaya yang tidak menunggu kesiapan infrastruktur dan mental membuat manusia merasakan dehumanisasi. Penggunaan berbagai fasilitas yang meminimalkan personal touch, menghilangkan sisi kemanusiaan yang hangat, ramah dan penolong. 

Dehumanisasi membuat manusia menjadi lonely, sepi di tengah keramaian, dan menjadi dingin. Kekosongan jiwa – kehampaan – inilah yang membuat manusia kemudian lari kepada drugs, narkotika atau obat-obatan, dan mengonsumsi obat atau vitamin secara berlebihan akibat kecemasan yang luar biasa atas penyakit.

Sesungguhnya semua fenomena di atas merupakan indikator atas ketidaktenangan jiwa atau ketidakpasrahan jiwa dalam menghadapi berbagai masalah hidup. Hal ini karena dalam paradigma Barat persoalan dunia hanya dapat diselesaikan secara keduniaan saja.

Apalagi di era global ini manusia dituntut untuk serba cepat. Agar mampu survive dalam kehidupan yang seperti itu, manusia kemudian memprogram dirinya dengan rasa persaingan yang tinggi. Manusia seakan berlomba dengan waktu, dan tidak memberi ruang pada kekalahan atau kegagalan.

Manusia menjadi serakah untuk mencapai keberhasilan dan kesuksesan yang diukur dari sesuatu yang kasat mata, seperti materi atau status sosial. Itulah fenomena dunia modern saat ini yang sebenarnya kehilangan sisi spiritual untuk diperhatikan dan dipenuhi kebutuhannya. 

Kalau kita merujuk pada Undang-undang Kesehatan No. 36 Tahun 2009 yang memuat definisi tentang sehat, maka kita bisa melihat mengapa sisi spiritual ini menjadi penting. “Kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spiritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis.”

Kalau kita lihat undang-undang di atas, maka ada empat komponen yang harus dipenuhi untuk dikatakan sehat. Akan tetapi, kehidupan modern terlalu menekankan pada kebutuhan fisik (material). Itulah penyebab mengapa dalam diri manusia tidak mengalami keseimbangan.



sumber

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply