» » » Kemerdekaan, Sejarah yang Berdebu


Oleh: Aika Hurairah


Semua orang Indonesia tahu, kecuali bayi dan balita, bahwa pada tanggal 17 Agustus ialah hari kemerdekaan Indonesia, dan momen yang begitu dirindu oleh para karyawan hingga anak SD karena merupakan tanggal merah dalam kalender, dan menjadi reminder akan hari makan kerupuk seantero nusantra. Umumnya, hanya sebatas itu esensi hari besar bebasnya pribumi dari penjajah di tanah air, juga lupa ingatannya kita akan tindak tanduk para pemuda yang berjuang untuk melepaskan kekangan dari para tirani bangsa. Nah, mari kita merefreshkan diri untuk sejenak menelusuri jejak sejarah yang bisa jadi episode itu telah dipenuhi sarang laba-laba atau berdebu di hati kita.

Nasib bangsa ini hampir saja sama seperti negara yang kemerdekaannya merupakan hadiah dari penjajah, seperti negeri jiran, Malaysia. Sebelum proklamasi di tanah air, ada dua pandangan kala itu, di mana golongan tua seperti Ir. Soekarno dan Mohammad Hatta ingin mendiskusikan proklamasi kemerdekaan dengan PPKI, sedang golongan muda ingin segera memproklamasikan cita-cita Indonesia yang mendarah daging itu, dan berkeinginan agar Jepang tidak membersamai mereka.

Keduanya memiliki pertimbangan sendiri, semisal golongan tua berpandangan, jika tidak sesuai aturan PPKI maka konflik bisa jadi terjadi. Sedang golongan muda ber-asa bahwa sejarah kemerdekaan Indonesia akan dicatat dari hasil jerih payah sendiri, bukan hadiah penjajah.

Perbedaan itu pun berakhir dengan peristiwa Rengasdengklok, di mana pemimpin golongan tua diasingkan sementara waktu untuk berlepas diri dari pengaruh Jepang. Setelah menyamakan sudut pandang, bahwa pemuda Indonesia telah menyiapkan amunisi untuk mendamaikan konflik yang bisa jadi akan terjadi di saat proklamasi. Golongan tua dan muda sepakat bahwa proklamasi akan digelar pada tanggal 17 Agustus 1945 di Jakarta, tanpa sepengetahuan Jepang. Di hari yang lebih cepat dari rencana Jepang, untuk menghadiahi kemerdekaan agar memperoleh simpati rakyat Indonesia atas kekalahan di tragedi bom atom di kota Nagazaki dan Hiroshima.

Itulah tadi sepotong episode untuk mereply sejarah bangsa ini. Di mana perjuangan muda-mudi di hari itu, tentang cita-cita mulia Indonesia begitu menggebu-gebu, beda tipis dengan jaman anak yang bergelar millenial, ikut berkoar mengunjuk keeksistensian diri di dunia maya agar menjadi viral di depan publik. Segala jurus dan aksi yang boleh dikata “tidak wajar” pun diproklamasikannya.

Apakah di era millenial ini, kita masih terjajah oleh para tirani?

Tentu fisik kita merdeka, hanya saja efek IPTEK jaman now mengantarkan sisi ganda, membawa kecanggihan yang mengudara dalam dunia modern, tetapi juga menjajah semangat muda-mudi untuk mengenang kembali sejarah, karena hati, jiwa, masa dan ingatannya diserahkan demi MEDSOS.

Perlu digaris bawahi bahwa IPTEK tak pernah salah, tapi kitalah yang arif untuk memposisikan sebagaimana mestinya, seperti bijak dalam bersosmed, juga tetap mencintai sejarah, karena kelak kita di penghujung tidak ingin menjadi gelembung mermaid yang menghilang tanpa jejak kehidupan. Karenanya, perlulah berbuat kebaikan untuk negara meski itu hanya sepenggal episode yang kelak di rindu, meski luput dari catatan sejarah.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak pernah melupakan sejarah bangsanya sendiri. (Ir. Soekarno)

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply