» » » Filosofi Besar Olah Raga dan Kaitannya dengan Asian Games 2018


Bagaimana membangun karakter moral yang tangguh bagi generasi penerus bangsa di masa depan? Salah satunya adalah memajukan dan memperbanyak partisipasi minat kaum muda terhadap olah raga. Selain memperkuat ketahanan fisik dan kebugaran, olah raga memiliki sebuah pemahaman yang sering di sebut dengan kata sportif. Mengacu pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), sportif adalah bersifat kesatria, jujur dan sebagainya. Kita dapat mengambil benang merahnya, dalam ranah sosial bahkan dalam kultur sebuah bangsa, karakter sportif seharusnya menjadi fondasi kokoh dalam pembangunan agar lebih progresif dan beradab.

Dalam dinamika turnamen olah raga sekelas Asian Games 2018, tentu saja bukan hanya sekedar di mamfaatkan dalam perolehan medali emas ataupun seberapa tinggi rangking bangsa kita maju dalam dunia olahraganya. Lebih dari itu, tontonan pertandingan yang tersaji oleh atlet di harapkan berjalan dengan adil dan sportif di tengah sengitnya serta masifnya konfrontasi "urat syaraf" yang sangat sering terjadi dalam arena karena sulutan dukungan para suporter. Harapannya, ketika pertandingan akbar telah usai, nilai karakter moral sportif dan kejujuran para atlet dapat menjadi inpirasi dan contoh nyata dalam kehidupan masyarakat kita bahkan warga global.

Dalam meraih prestasi puncak, para atlet tentu saja tidak dapat melepaskan kedisiplinan dalam berlatih. Kita sering mendengar dan membaca kisah para atlet mengorbankan waktu muda, waktu kepada keluarga dan orang terdekat. Berlatih "mati-matian" demi memenuhi target prestasi tinggi. Semangat ini juga bisa menjadi pembelajaran bagi bangsa kita dan seluruh negara yang terlibat Asian Games, bahwa tidak ada raihan medali, hanya dengan berlatih dengan cara asal-asalan. Dalam pelaksanaannya, atlet sejati (ksatria) selalu berusaha keras sekuat tenaga dan jiwanya untuk mewujudkan impiannya. Kita sering menyebutknya juga dengan tekad. Hal tersebut juga berlaku dalam kehidupan sosial, setiap warga negara yang ingin mencapai puncak prestasi dalam bisnis maupun pekerjaannya, haruslah memiliki tekad yang tiada henti, dan selalu disiplin untuk terus berlatih mempertajam kemampuan agar semakin profesional sehingga meraih ambisi dan impian tertinggi. Golongan birokrat terkait olah raga kita juga seharusnya bisa menjadi panutan/teladan dalam hal tersebut dengan mempersiapkan sedari awal para atlet dari mulai pembinaan, kesehatan, latih tanding, infrastruktur, sehingga tidak ujug-ujug berharap prestasi tinggi tanpa persiapan yang terstruktur dan berkelanjutan.

Inilah sekilas argumen dan sisi pemahaman sudut pandang yang lain, bahwa perhelatan olah raga sesungguhnya bisa membangun karakter moral bangsa khususnya generasi muda. Sebab dari kaum mudalah, masa depan dunia di percayakan. Dan, seperti kita ketahui, Indonesia saat ini tengah mengalami perubahan signifikan dalam struktur kependudukannya, di mana usia produktif kaum muda lebih besar daripada usia tidak produktif. Momentum luar biasa tersebut, jika di mamfaatkan dengan piawai, bukan tidak mungkin bangsa kita menjadi poros kuat kemajuan ekonomi dan peradaban bangsa-bangsa di dunia. Semoga.



sumber

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply