» » » Tjipto Mangoenkoesoemo, Soekarno, Sjahrir, dan Bowo Alpenliebe (Bag. 1)


Lantunan Jazz klasik mengiringi inspirasiku menulis tulisan ini. Tidak lupa juga melihat berita di stasiun tv nasional yang jika diperhatikan hampir setiap hari memberitakan fenomena langkah ini. Ya, anak kecil bernama Bowo dan followersnya di dunia tik-tokers.

Ada banyak sekali perdebatan tentang Bowo dan tik-toknya ini. Ada yang pro dan ada yang kontra. Ada yang membela dan ada pula yang merendahkan. Sungguh fenomena yang sulit untuk dipercaya.

Hanya dengan sensasi dari anak kecil ini, masyarakat Indonesia, baik yang di dunia maya atau di dunia nyata, seakan tersihir untuk selalu memperbincangkan masalah ini dan seakan-akan sejenak melupakan tentang kenaikan BBM oleh pertamina yang justru seribu kali lebih penting untuk di analisis daripada fenomena Bowo dan tik-toknya.

Penulis dalam hal ini ingin memberikan pendapatnya tentang peristiwa ini dari paradigma yang sedikit berbeda. Berbicara Bowo pasti tidak akan terlepas dari berbicara tentang kondisi kaum muda Indonesia hari ini. Maka dari itu tulisan ini akan lebih menitikberatkan kepada kondisi sosiologis pemuda Indonesia.

Pada zaman dewasa ini, kita sebagai manusia telah banyak mengalami transisi menuju dunia modernisasi dan zaman yang terbuka terhadap perkembangan dan kemajuan dunia. Banyak hal yang memang harus kita perhatikan dari sudut yang berbeda untuk kemajuan sebuah Negara, termasuk generasi muda Indonesia pada saat ini.

Remaja-remaja Indonesia pada saat ini sebagai generasi muda yang selanjutnya yang akan meneruskan cita-cita sebuah bangsa, untuk memimpin dan mengatur sebuah Negara, haruslah memiliki kepribadian yang baik, kecerdasan yang dilandasi dengan ilmu dan wawasan yang luas, memiliki jiwa yang semangat, pikiran terbuka dan tujuan yang baik, berbobot dan bermanfaat serta berguna untuk kemajuan bangsa dan Negara.

Sayangnya generasi muda Indonesia pada saat ini telah banyak terjerumus pada dunia modernisasi dan westernisasi sehingga melupakan adat ketimuran yang kita miliki yang dikenal oleh Negara lain sebagai Negara yang menjunjung tinggi moral dan adat kesopanan tapi fakta mengatakan lain.

Generasi Indonesia saat ini mengalami krisis identitas dan korban dari gaya hidup hedonisme barat. Semakin banyak life style dari luar Negara Indonesia yang masuk semakin tidak terkandali generasi muda Indonesia saat ini.


The Problem of the Generation

Dalam esai berjudul The Problem of Generation, sosiolog Mannheim mengenalkan teorinya tentang generasi. Menurutnya, manusia-manusia di dunia ini akan saling memengaruhi dan membentuk karakter yang sama karena melewati masa sosio-sejarah yang sama. Maksudnya, manusia-manusia zaman Perang Dunia II dan manusia pasca-PD II pasti memiliki karakter yang berbeda, meski saling memengaruhi.

Berdasarkan teori itu, para sosiolog—yang bias Amerika Serikat—membagi manusia menjadi sejumlah generasi: Generasi Perang Dunia I, Generasi Era Depresi, Generasi Perang Dunia II, Generasi Pasca-PD II, Generasi Baby Boomer I, Generasi Baby Boomer II, Generasi X, Generasi Y alias Milenial, lalu Generasi Z.

Pembagian ini biasanya berdasarkan rentang tahun kelahiran. Namun, rentang tahun didefinisikan berbeda-beda menurut sejumlah pakar, tapi tak terlalu jauh. Definisi rentang umur Generasi Z, misalnya. Ia bermacam-macam.

Pada 2012, ketika jurnalis Bruce Horovitz mengenalkan Generasi Z, rentang umur yang digunakan masih belum jelas. Tapi istilah itu mulai sering dipakai usai presentasi dari agen pemasaran Sparks and Honey viral pada 2014. Di sana, rentang umur yang dipakai mendeskripsikan Generasi Z adalah anak-anak yang lahir 1995 hingga 2004.

Badan Stastitik Kanda menghitung Generasi Z mulai dari anak-anak yang lahir pada 1993 sampai 2011. Mc Crindle Research Center di Australia menyebut Generasi Z sebagai orang-orang yang lahir pada 1995 sampai 2009. MTV lain lagi: mendefinisikan generasi itu sebagai orang-orang yang lahir selepas Desember 2000.

Terlepas perbedaan tahun tersebut, mereka semua sepakat kalau Generasi Z adalah orang-orang yang lahir di generasi internet—generasi yang sudah menikmati keajaiban teknologi usai kelahiran internet.

Bagaimana Generasi Z di Indonesia? Apakah Generasi Z di Indonesia sudah tumbuh seperti apa yang diperkirakan? Atau justru tergilas dan hanya menjadi Konsumen di tengah-tengah Kedigdayaan Globalisasi?

Sebelum menjawabnya, marilah kita mengintip sedikit sejarah generasi-generasi sebelumnya yang pernah ada di Indonesia.


Generasi Perang Dunia I di Indonesia

Generasi Perang Dunia I adalah generasi yang didefinisikan sebagai orang-orang yang lahir pada tahun 1860 sampai dengan tahun 1918 Masehi.

Mahasiwa-mahasiswa STOVIA (School tot Opleiding voor Inlandsche Arsten) Goenawan, Dr. Cipto Mangoenkeosoemo dan Soeraji serta R.T Ario Tirtokusumo bersama-sama dengan bimbingan Dr. Sutomo mendirikan Budi Utomo sebagai organisasi sosial, ekonomi, dan tidak bersifat politik pada tanggal 20 Mei 1908 di Jakarta. Kemudian peristiwa ini dicatatkan dalam buku-buku sejarah dan diperingati sebagai hari Kebangkitan Nasional.


Generasi Perang Dunia II di Indonesia

Kongres Pemuda ke II yang dilaksanakan oleh Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI) yang beranggotakan pelajar dari seluruh wilayah Indonesia. Kongres tersebut dihadiri oleh berbagai wakil organisasi kepemudaan, yaitu Jong Java, Jong Batak, Jong, Celebes, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, Jong Ambon, dsb serta pengamat dari pemuda tiong hoa seperti Kwee Thiam Hong, John Lauw Tjoan Hok, Oey Kay Siang dan Tjoi Djien Kwie.

Untuk kemudian Kongres tersebut dilaksanakan di tiga tempat yang berbeda.

Rapat pertama, Sabtu, 27 Oktober 1928, di Gedung Katholieke Jongenlingen Bond (KJB), Waterlooplein (sekarang Lapangan Banteng). Dalam sambutannya, ketua PPPI Sugondo Djojopuspito berharap kongres ini dapat memperkuat semangat persatuan dalam sanubari para pemuda.

Acara dilanjutkan dengan uraian Moehammad Yamin tentang arti dan hubungan persatuan dengan pemuda. Menurutnya, ada lima faktor yang bisa memperkuat persatuan Indonesia yaitu sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan, dan kemauan.

Rapat kedua, Minggu, 28 Oktober 1928, di Gedung Oost-Java Bioscoop, membahas masalah pendidikan. Kedua pembicara, Poernomowoelan dan Sarmidi Mangoensarkoro, berpendapat bahwa anak harus mendapat pendidikan kebangsaan, harus pula ada keseimbangan antara pendidikan di sekolah dan di rumah. Anak juga harus dididik secara demokratis.

Pada rapat penutup, di gedung Indonesische Clubgebouw di Jalan Kramat Raya 106, Sunario menjelaskan pentingnya nasionalisme dan demokrasi selain gerakan kepanduan. Sedangkan Ramelan mengemukakan, gerakan kepanduan tidak bisa dipisahkan dari pergerakan nasional. Gerakan kepanduan sejak dini mendidik anak-anak disiplin dan mandiri, hal-hal yang dibutuhkan dalam perjuangan.

Pada malam penutupan tanggal 28 Oktober 1928, Kongres Pemuda Indonesia II mengambil keputusan sebagai berikut:

  1. Menerima lagu “Indonesia Raya” ciptaan W.R. Supratman sebagai lagu kebangsaan Indonesia.
  2. Menerima sang “Merah Putih” sebagai Bendera Indonesia.
  3. Semua organisasi pemuda dilebur menjadi satu dengan nama Indonesia Muda (berwatak nasional dalam arti luas). Diikrarkannya “Sumpah Pemuda” oleh semua wakil pemuda yang hadir.


Isi Ikrar Sumpah Pemuda:

  1. Kami putra dan putri Indonesia, mengakui bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.
  2. Kami putra dan putri Indonesia, mengakui berbangsa satu, bangsa Indonesia.
  3. Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.


Dalam peristiwa sumpah pemuda yang bersejarah tersebut, diperdengarkan lagu kebangsaan Indonesia untuk yang pertama kali yang diciptakan oleh W.R. Soepratman. Lagu Indonesia Raya dipublikasikan pertama kali pada tahun 1928 pada media cetak surat kabar Sin Po dengan mencantumkan teks yang menegaskan bahwa lagu itu adalah lagu kebangsaan. Lagu itu sempat dilarang oleh pemerintah kolonial hindia belanda, namun para pemuda tetap terus menyanyikannya.



sumber

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply