» » » Generasi yang Penuh Gengsi


Melintas di hamparan sawah yang sebagian besar sudah menguning membuat hati ini senang sekaligus miris. Senang ketika tahu apa yang diusahakan oleh petani itu berhasil yang menandakan jerih payahnya terbayar, dan keringat-keringat itu berganti dengan bulir padi yang sebentar lagi akan mereka makan bersama keluarga dan sebagian lagi akan mereka jual untuk memenuhi kebutuhan harian dan sebagian yang lainnya akan mereka jadikan benih untuk musim tanam berikutnya.

Di sisi lain, melihat maraknya berita tentang beras plastik yang sedang hangat berkembang di masyarakat yang entah diciptakan atau di buat untuk menutupi dan sekaligus membuat resah petani dengan beras impornya. Pemerintah dengan dalih untuk memenuhi kebutuhan konsumsi beras nasional.

Gelombang impor yang begitu dahsyat seakan direstui oleh masyarakat itu sendiri. Petani yang selama ini berjuang menanam padi dan setelah panen mereka dengan bangga membeli hasil pertanian negara lain. Anak-anak petani ini dari kecil sudah terbiasa dengan susu hasil olahan pabrikan luar negeri, cemilannya roti yang entah dibuat dinegara mana.

Perkembangan informasi yang begitu cepat dan semakin mudah diakses oleh masyarakat, sangat mempengaruhi pola dan gaya hidup. Gencarnya promosi yang dilakukan oleh negara lain dan keterbukaan masyarakat kita perlahan tapi pasti mulai menggoyahkan kemandirian bangsa ini sebagai negara yang dikenal akan kesuburannya ini.

Petani mulai mengikhlaskan tanahnya untuk diganti dengan rumah dan sebagian lagi tanahnya dibuat membeli gelar dari berbagai sekolah dikarenakan tuntutan (gengsi) sekaligus iming-iming pekerjaan dikantor sehinga generasi kita mulai dijauhkan dari dunia pertanian yang notabene adalah identitas bangsa ini sejak dulu.

Sementara anak-anak kita dijauhkan dari dunia pertanian dan didorong untuk menjadi manusia konsumtif dengan dicitrakan ini adalah kehidupan modern yang jika kita tidak ikut didalamnya akan disebut sebagai anak kuper dan sekali lagi, gengsi di set untuk menghalalkan ini semua.

Para generasi muda kita digiring untuk ramai-ramai menjadi penikmat produk mereka, dan diarahkan untuk meninggalkan sektor produksi khususnya dunia pertanian.

Sementara mereka sudah "meracuni" generasi kita, kita dengan baik hati memberi mereka "madu". Mereka mulai membeli tanah dan menanam di sini, sementara kita disibukkan untuk mencari ijazah demi bisa memakai sepatu dan dasi, dengan menikmati hidup yang serba instan sementara mereka sudah lama meninggalkan itu. Seakan-akan kita dibuat atau dirancang untuk selalu dibelakang mereka. Dan kita dengan bangga menikmati semua itu.

Kemandirian yang dahulu ditanamkan dengan kuat dan dibarengi dengan disiplin yang tinggi kini mulai dihilangkan dan itulah kenyataan hidup generasi yang sekarang.



sumber

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply