» » » Belajar Lebih Bijak Melalui Pemahaman Sejarah


Sebagai pengantar pembuka pada refleksi cara berpikir kita, iklim sejarah mengajarkan kepada setiap peradaban manusia supaya manusia lebih arif dalam berucap dan lebih bijak dalam bertindak.

Sejarah yang panjang sudah banyak mengajarkan kepada kita mengapa harus menjadi " Man Wise" manusia yang bijaksana.

Peradaban manusia yang sangat panjang, kaya akan perilaku, lebih-lebih pada pembentukan pola pikir yang semakin kompleks, seharusnya menjadi guru terbaik untuk merancang masa depan yang lebih bijaksana.

Masa depan kita sekarang  menjadi lebih arogan, tidak ada lagi kata-kata: Kita, Kami dan Mereka. semua telah di rekayasa menjadi keangkuhan yang hebat sehingga lahir pemikiran, Saya dan Aku yang akan melahirkan pola pikir kekuasaan yang tidak rasional.

Entahlah, Bumi ini akan kita bawa kemana? sekian banyak fakta yang menunjukkan bahwa kita selalu mengendalikan kekuasaan individual, kelompok dan yang bersumpah atas nama Tuhan dan Agama.

Ironis nyawa dan umur ketaatan sebagian manusia terhadap agamanya kita jadikan sebagai korban kekerasan. sepertinya kita belum sadar terhadap kenyataan dan perjuangan yang pernah ada. Apakah kita lupa? Sejarah mengajarkan kita untuk berbuat bijak

Potret kehidupan manusia sekarang telah berubah menjadi sangat menakutkan. Ujaran kebencian melalui ungkapan Hanguskan, habiskan, runtuhkan, bantai, bunuh, usir, hancurkan, kafir, terlaknat, terkutuk.

Ada baiknya kita berpikir kembali bahwa sifat dasar dari pada kehidupan manusia adalah menghidupkan yang mati, menyuburkan yang gersang, melapangkan yang sesak, meluruskan yang tersesat.

Diterima atau tidak, ini resiko atas sumpah setia kita terhadap Tuhan dan Agama.

Sisi lain dari potret kehidupan sosial sekarang hanya ada tiga warna yang akan kita kenal antara lain: Merah, Putih dan Hitam.

Merah karena banyaknya darah korban pembunuhan, Putih karena asap ledakan, sedangkan warna Hitam adalah perbedaan pendapat dan keyakinan sudah dianggap sebagai musuh.

Sejarah peradaban manusia di masa prasejarah, sesuatu hal yang wajar jika masyarakatnya hidup dalam sebuah kompetisi alam. Tujuan mereka hidup menjadi alasan utama mereka untuk berburu dengan alam.

Menaklukkan kelompok yang lain, sehingga kelangsungan hidup anak cucu dan keturunan mereka bisa terjaga dengan selamat.

Tidak ada perbedaan yang jauh dengan peradaban kita sekarang, hanya dibatasi oleh ruang dan waktu yang panjang.

Kelangsungan dan kekuasaan kelompok sehingga tradisi berburu dalam bingkai pembunuhan kerap kali terjadi dalam masyarakat kita, melawan sekelompok yang beragama lain dengan alasan yang tidak rasional menjadi kepuasan gaya hidup sendiri di jaman sekarang.

Volume otak manusia prasejarah terbatas. Tetapi,  mereka mampu menciptakan Teknologi yang sederhana yang kerap kita kembangkan di jaman sekarang menjadi Industri Dunia.

Tetapi kita sekarang rupanya dengan volume otak yang sempurna, dan cara berpikir yang sudah maju justru menciptakan Industri yang dapat merusak peradaban manusia.

Manusia prasejarah tidak mengenal tulisan dan budaya membaca. Kenyataannya kepedulian sosial kehidupan berjalan dengan damai dan sama-sama membangun peradaban yang maju.

Ketaatan terhadap sebuah kepercayaan yang kita kenal dengan Animisme dan Dinamisme menjadi landasan hidup dalam berinteraksi sosial dengan alam dan manusia.

Manusia prasejarah hidup berkelompok dan berpindah-pindah tempat bukan tanpa alasan yang logis. Menyelamatkan generasi dari ancaman kepunahan dan kekerasan alam dan manusia menjadi alasan kuat sehingga terus menerus mencari perlindungan.

Kita sekarang sebenarnya bisa berguru pada kemampuan dan cara hidup orang-orang terdahulu. Ambil cara baiknya tinggalkan cara yang merusak dan merugikan orang lain.

Kepribadian yang pesimis akan menjadikan alasan persoalan ekonomi, kemiskinan, dan kekurangan kita jadikan alasan untuk membunuh anak kandung sendiri dengan cara-cara yang menegangkan.

Seorang anak diajak minum racun oleh Orang Tua kandung, seorang anak dilemparkan dari ketinggian gedung, seorang anak membunuh ayah kandung, menghakimi guru di Sekolah.

Kita bisa berguru pada cara bertahan hidupnya manusia di jaman dulu, tidak harus berputus asa. kita refleksikan cara kita berpikir sebaik-baiknya. Orang jaman dulu mencintai keselamatan dan kelayakan lingkungan hidup kenapa kita tidak bisa?

Rasa jenuh terhadap konflik itu harus ada dalam kehidupan sosial. Ciptakan Lingkungan sosial yang layak untuk kehidupan generasi penerus. Iklim lingkungan sosial yang menegangkan hanya akan merusak psikologi masyarakat.

Sejarah peradaban manusia telah banyak membuat manusia menjadi sosok yang bijaksana. Jangan pernah lupa kepada perdamaian yang dicatat oleh sejarah. Masyarakat prasejarah mengajarkan kepada generasi kita tentang cara hidup yang luar biasa.

Bertahan demi kelangsungan hidup bersama kelompok dalam bingkai kesetaraan dan kebersamaan. Cara berpikir terbatas tidak mereka jadikan sebagai kelemahan untuk saling meneror dan membunuh. Kita juga seharusnya lebih bijaksana dalam mempelajari kehidupan masa lalu.

Kita bisa menciptakan lingkungan sosial yang aman. Menciptakan lingkungan hidup bersama antara satu dengan yang lain tanpa harus saling mengancam dan merugikan dalam kehidupan sosial.

Untuk menciptakan iklim perdamaian dalam lingkungan sosial kita perlu menyadarkan diri kita dan kelompok kita terhadap kesadaran sejarah yang membentuk dan menjadikan manusia menjadi lebih bijak.

Sejarah telah banyak menceritakan lahirnya orang-orang bijak melalui kesadaran sejarah yang dipelajari antara lain:

Sejarah mengajarkan nilai-nilai profetik artinya sejarah mengajarkan tentang nilai-nilai kenabian seperti:

Nabi Yusuf di uji dengan saudara-saudaranya apakah pernah ada dendam? Tidak. bagaimana ketabahan nabi Yusuf dibuang kedalam sumur, dipenjarakan saat Ia dewasa. Di penjara nabi Yusuf merubah penjara yang menakutkan menjadi tempat yang nyaman bagi  yang menempatinya.

Sejenak kita berpikir untuk mengambil pelajarannya. Sejarah telah banyak merubah peradaban kita menjadi manusia yang bijak. Hanya karena persoalan biasa kita munculkan ke permukaan menjadi konflik dan kekerasan.

Kasus sosial yang terjadi dalam masyarakat kita sekarang sudah sewajarnya diobati dengan memahami sejarah agar lebih bijak dalam bertindak. ditinggalkan suami jangan mengajak seorang anak meminum racun, ditegur seorang ayah jangan merencanakan membunuh ayah sendiri, ditegur guru di sekolah jangan main hakim sendiri.

Ayah dan Guru adalah guru terbaik bagi sebuah peradaban manusia yang bijaksana.

Disisi lain sejarah mengajarkan pula kita pada pembebasan dan perdamaian, antara lain:

Masih ingat kita terhadap sosok seorang wanita yang bernama Hypatia. Seorang filsuf wanita di jaman Romawi kuno seorang ahli matematika yang mencintai dunia dan ilmu Astronomi. kecintaan terhadap ilmu pengetahuan harus mengorbankan kehidupannya demi pembebasan terhadap sebuah peradaban.

Badshah Khan. Lahir dan besar di keluarga berdarah Pushtun atau Pathan (ningrat) di perbatasan Barat laut Pakistan dan Afganistan yang beragama Islam. selama 80 tahun menyuarakan perlawanan anti kekerasan disetiap perkampungan dengan alasan munculnya perdamaian dalam peradaban.

Nelson Mandela. Seorang tokoh Afrika Selatan telah melakukan perubahan dalam peradaban manusia. melawan politik apartheid pembebasan terhadap kriminal suku dan ras bangsa kulit putih dan kulit hitam yang berlangsung lama. Alasannya hanyalah perdamaian untuk sebuah peradaban.

Di Indonesia selain KH. Ahmad Dahlan, KI Hajar Dewantara, ada seorang tokoh ulama di pesisir pantai utara jawa yang kita kenal dengan nama Kyai Soleh Darat. Membangun peradaban pendidikan agama dan pesantren untuk melawan kolonial. Alasannya perdamaian sebuah peradaban

Di era pasca reformasi  KH. Abdurrahman Wahid. pemikiran terhadap persamaan dalam bingkai pluralisme telah meletakkan pondasi bahwa kebersamaan dan keselarasan adalah kunci dari keamanan dan perdamaian sebuah peradaban.

Masih banyak lagi yang tidak bisa saya tuliskan secara detail. tentang kisah perjuangan perdamaian dalam sejarah telah banyak membentuk pola pikir orang menjadi lebih bijaksana.

Kekacauan kondisi sosial kita sekarang bukan berarti tidak ada jalan keluarnya. Kesadaran kita akan sejarah Bangsa dan perjuangan para pendiri Bangsa kita adalah tolok ukur terciptanya perdamaian bangsa.

Tidak ada ruginya kita belajar kesadaran melalui sejarah. Banyak bukti fisik bahwa sejarah telah mampu mendidik orang menjadi lebih bijaksana.Sedikit demi sedikit ditengah kekacauan konflik sosial kita sadarkan akan makna sejarah.

Pola berpikir dan tindakan yang bijak akan merubah peradaban yang jauh lebih baik. Perlu waktu dan kesabaran. Kalau saja orang-orang dulu bisa melenyapkan kekerasan dengan gerakan perdamaian. mengapa kita tidak?

Indonesia sekarang membutuhkan kita untuk membentuk sebuah gerakan melawan kekerasan tanpa harus menumpahkan darah. Literasi dan membumikan budaya membaca untuk generasi muda adalah langkah awal yang tepat untuk menanggulangi krisis sosial di masa yang akan datang.




sumber

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply