» » » Politik Pemuda Bukan Basa-basi atau Sekadar Selebrasi


Politik adalah salah satu topik yang tak pernah kehabisan bumbu untuk dibahas. Politik selalu menggema. Setiap tahun selalu ada pemolitikan dalam sebuah negara. Kita sering mendengar para pahlawan mengamini para pemuda dalam perkembangan masa depan bangsa dan negara.

Para pemuda selalu menjadi objek telunjuk dan penuturan para pahlawan tersebut, namun juga sebagai subjek dalam realitasnya. Para pemuda merupakan generasi berikutnya yang tidak terlepas dari siapa di balik peran pembangun suatu negara. Oleh karena itu, generasi muda merupakan insan-insan penting dalam pembangunan suatu negara yang berkelanjutan.

Sejarah telah membuktikan bahwa suatu negara tidak dapat tidak untuk membaurkan pemuda-pemudi dalam olah bangsa dan negara. Ini merupakan panggilan bagi semua generasi muda. Hal tersebut menjadi prospek bagi generasi muda untuk membangun dan meraih cita-cita negara dengan menjadi pemimpin, inisiator, dan inovator di berbagai bidang.

Akan tetapi, ada banyak hambatan yang akan menekel cita-cita para pendahulu tersebut di kemudian hari. Salah satu dari hambatan-hambatan tersebut adalah “underestimation” atau “sikap pandang enteng” terhadap generasi muda dalam ranah politik. Politik yang dimaksud di sini adalah politik konvensional yang umumnya banyak dimengerti orang, seperti partai dan pemilukada.

Padahal, siapakah gerangan yang akan mengisi kemerdekaan dalam pembangunan kalau bukan kita generasi muda? Terlepas dari benar atau tidaknya suatu anggapan, selama ini generasi muda terkesan tidak mampu dalam mengemban tugas sebagai politikus atau pemimpin daerah. Dari segi usia, generasi tua memang lebih berpengalaman dan matang.

Segudang pengalaman yang telah mereka torehkan telah menambah kompetensi dan kredibilitas mereka di dalam dunia politik, sehingga lebih layak untuk berpartisipasi dalam partai politik dan tidak mudah ditumbangi oleh pemberitaan buruk publik yang menyasar dirinya. Generasi tua telah makan banyak asam garam, mungkin seperti itulah analoginya.

Tentu dalam hal ini para pemuda masih jauh tertinggal bila dibandingkan secara usia dan pengalaman. Ibarat bayi yang baru lahir, para pemuda belum dapat berjalan sehingga harus belajar dan mempraktikkannya untuk dapat berjalan. Para pemuda adalah bayi yang belum bisa berbicara politik, sehingga harus belajar banyak mengenai politik untuk dapat menjadi master di bidangnya.

Para pemuda adalah bayi yang belum dapat berpikir panjang, logis, dan tersistematis, sehingga pemuda masih perlu belajar untuk dapat mengoptimalkan daya pikirnya. Para pemuda adalah bayi yang belum bisa memegang sendok kepemimpinan untuk makan sendiri ataupun menyuapi orang lain, sehingga perlu diajari bagaimana cara memimpin diri untuk dapat memegang suatu posisi dalam partai politik atau sebagai pemimpin.

Para pemuda adalah bayi yang baru bisa mengkopi atau menyalin sesuatu tanpa memahami artinya secara mendalam, sehingga pemuda masih harus banyak mengernyitkan dahi, berefleksi mengenai politik untuk dapat menjadi seorang pemimpin.

Dalam partisipasinya, pemuda masih terlalu kenanakan dalam memilih seorang pemimpin dan belum menimbang banyak persoalan terkait kriteria yang baik dan luas seorang pemimpin. Para pemuda adalah bayi yang belum dapat bekerja, sehingga perlu untuk melatih diri sebanyak mungkin untuk dapat terlibat dalam dunia politik dan menjadi pemimpin.

Namun, bila dicermati sekali lagi, insan-insan muda biasanya mempunyai idealisme dan semangat yang tinggi. Sehingga berdasarkan alasan tersebut, bibit-bibit muda akan selalu dikedepankan dalam regenerasi suatu organisasi. Beberapa pemimpin daerah saat ini tengah menjadi sosok publik yang dikenal banyak orang setelah prestasi mereka sebagai pimpinan daerah muda di Indonesia.

Satu dari antaranya adalah Mochamad Nur Arifin, wakil bupati Trenggalek yang berusia 25 tahun ketika dilantik Februari lalu. Pencapaiannya ini dihargai rekor MURI sebagai wakil bupati termuda seindonesia mengalahkan Ibnu Fuad, bupati Bangkalan yang berusia setahun lebih tua ketika dilantik pada 4 Maret 2013 lalu.

Menjadi ujung tombak harapan masyarakat Kabupaten Trenggalek tentu bukan hal yang mudah bagi Mochamad di usianya yang relatif muda. Ia harus bekerja keras demi memanusiakan daerahnya untuk dapat lebih maju dari sebelumnya. Sebagai anak muda ia harus dapat melakukan yang terbaik yang bisa dicapai seperti yang dilakukan para pendahulunya.

Kendati demikian, ia telah menunjukkan dan menjadi contoh bagi generasi muda bahwa seorang pemuda dan seorang pemudi dapat menjadi pemimpin-pemimpin yang didambakan masyarakat kelak. Untuk mencapai prestasi tersebut, tentu harus dilalui dengan tidak mudah. Seorang pemuda mesti ditempa dengan proses yang panjang dan tidak instan.

Seorang pemuda mesti mati-matian untuk menjadi seorang pemimpin, apalagi harus bersaing dengan lawan-lawan yang lebih tua dan mungkin telah ternama, namun bukan berarti untuk mencari kekuasaan dan menyalahgunakan otoritas. Contoh di atas merupakan bukti yang nyata mengenai keterlibatan anak muda dalam dunia politik.

Pengaruh anak muda sangatlah besar di dalam ranah politik. Anggapan atau kesan bahwa generasi muda tidak mampu berkutik di panggung politik adalah tidak benar. Mochamad secara tidak langsung telah mematahkan anggapan buruk masyarakat yang selama ini ditargetkan kepada generasi muda. Hal ini berarti generasi muda pun dapat berkarya seperti yang dilakukan Mochamad.

Generasi muda Indonesia ternyata mampu untuk lebih berpartisipasi dalam ranah dan panggung politik. Generasi muda memiliki potensi memimpin yang tidak dapat tidak untuk disejajarkan dengan potensi yang dimiliki oleh generasi yang lebih tua. Generasi muda mempunyai kans untuk mengubah keadaan yang buruk menjadi baik, yang baik menjadi lebih baik.

Generasi muda Indonesia adalah cakap untuk tidak sekedar berbicara politik tanpa pengetahuan dan pemahaman dan mengambil bagian dalam politik itu sendiri, melainkan juga cakap untuk menjiwai politik dan melakukannya dengan baik. Underestimation atau sikap pandang enteng lebih dari sekedar gertakan karena bisa mengurungkan niat mulia generasi muda untuk melayani masyarakat melalui politik.

Dan dapat menyumbat arteri kehidupan bermasyarakat dan bernegara, namun tidak dapat menggoyahkan langkah pemuda-pemudi Indonesia untuk berjuang demi membangun bangsa dan negara. Pada akhirnya, generasi muda harus bersyukur karena underestimation (sikap pandang enteng) menjadi motivasi untuk belajar dan berusaha menjadi pribadi yang mampu berdikari.

Dan masyarakat beserta para pejabat negeri kiranya tidak hanya mampu mendeteksi namun juga memberikan wadah yang lebih luas untuk menampung dan memberdayakan potensi-potensi terpendam generasi muda Indonesia untuk berpolitik. Politik pemuda bukan basi-basi, apalagi sekedar selebrasi, melainkan sebuah pergerakan tak terbantahkan.



sumber

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply