» » » Media Sosial Bukan Sampah


Perkembangan media sosial di zaman ini begitu pesat dan telah merambah ke seluruh penjuru dunia. Meskipun realitasnya masih ada sebagian besar manusia yang belum menikmatinya. Mereka yang masih tinggal di remote area masih sangat ‘tabu’ akan hal ini. Benar adanya bahwa kehadiran media sosial sangatlah membantu kehidupan manusia dalam berbagai hal. Komunikasi merupakan salah satu contoh konkretnya. Jarak tidak lagi menjadi persoalan. Bermodalkan jaringan dan voucher komunikasi menjadi lancar.

Sebuah vidio yang dipublikasikan di youtube tentang perilaku anak-anak zaman now sangatlah menarik. Seorang anak kecil sedang asyik memainkan gawai, saat gawai itu direbut, ia menangis tersedu-sedu. Tetapi, saat gawai itu dikembalikan, ia menjadi tenang dan memainkannya lagi. Anak tersebut seolah ‘hidup dari gawai’ dan bukan dari orangtuanya. Ikatan psikologis anak dan orangtua tak lagi terlihat.

Inilah realitas zaman kita yang seolah berbalik arah. Media sosial yang dahulunya menjadi media penghubung telah beralih menjadi TPA (tempat pembuangan akhir). Orang lebih mudah untuk terbuka terhadap media sosial, dibandingkan terbuka terhadap sesamanya. Komunikasi face to face tidak lagi menampakkan wajahnya. Memang benar bahwa lewat media sosial pun orang dapat melakukan facetalk, tetapi ikatan psikologisnya menjadi minim. Media seolah meraup ikatan itu. Orang lebih terikat dan dekat dengan ‘media’ dibandingkan dengan lawan bicaranya.

Hal yang lebih menyedihkan lagi adalah keterbukaan terhadap medsos. Apakah media sosial itu saudara kita? Atau mungkinkah media sosial itu sampah? Orang akan menjadi banggsa ketika ada banyak likers and comment. Apakah para likers dan comment yang dilontarkan itu setuju dengan postingan atau malah prihatin dengan keadaan? Setiap orang akan dan dapat menyadari hal itu sendiri.

Bagi penulis, ada sesuatu yang hilang saat ini. Keterbukaan menjadi absend. Ikatan kekeluargaan menjadi hampa. Orang lebih ingin berada berjam-jam dengan gawai dan internetan dibandingkan berada bersama keluarga. Keterbukaan untuk berkomunikasi dan sharing di dalam keluarga menjadi sesuatu yang kuno. Bukankah dari yang kuno itu barulah orang mengenal yang modern? Kesadaran ini perlu diberi perhatian khusus.

Persoalan yang dialami dapat dicari jalan keluarnya. Jalan keluar satu-satunya bukanlah dengan mengumbar persoalan yang dialami ke media sosial. Kehadiran media sosial bukanlah untuk memberi jalan keluar tetapi membantu manusia dalam berkomunikasi dan mencari informasi. Media sosial tidak pernah memberikan solusi jangka panjang. Setelah kita terbuka di media sosial, apakah dengan sendirinya persoalan kita selesai atau akan menimbulkan persoalan baru? Jawabannya belum tentu dan mungkin persoalan baru akan menampakkan wajahnya.

Dialog sekarang dan di sini perlu diperhatikan. Media sosial memang untuk semua orang, tetapi bukan pula tempat untuk mengumbar segalanya. Media sosial diciptakan untuk membantu manusia, bukan untuk menyimpan persoalan manusia. Setiap persoalan yang dialami oleh manusia hendaknya diselesaikan dengan cara yang manusiawi pula dan bukan sebaliknya. Lalu apa yang kita cari? solusi. Solusi jangka panjang dan bukan jangka pendek.

Maka dari itu, solusi jangka panjang hanya akan diperoleh dan berjalan dalam dialog terbukan dengan sesama. Saat kita terbuka terhadap sesama kita yang ada bersama kita, solusinya terlihat indah dan harmoni. Ikatan psikologis terlihat jelas, karena kita sama-sama mencari. Media sosial memang membantu kita, tetapi bukanlah sampah.

Media sosial adalah media yang membantu kita mencari dan menemukan apa yang kita perlukan termasuk solusi, tetapi bukanlah solusi yang paten dan pasti. Dialog tradisional dan keterbukaan hendaknya menempati posisi pertama dan utama di dalam kehidupan bersama. Perilaku menentukan disposisi diri dan hati seseorang termasuk di media sosial. Mungkinkah itu membantu? Ya, tetapi dalam jangka pendek dan bukan jangka panjang. Solusi jangka panjang adalah saat ada bersama dan bersama-sama ada.



sumber

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply