» » » Kesadaran Moral dan Politik Pemuda


Politik adalah suatu seni yang memang rumit. Kadang kita lihat fenomena yang baik karena kehadiran politik dan fenomena nestapa juga karena politik. Sebab itu Bertolt Brecht memberikan imajinasi kita pada satu frasa yakni, buta politik, “Buta terburuk adalah buta politik."

Orang yang buta politik tak sadar bahwa biaya hidup, harga makanan, harga rumah, harga obat, semuanya bergantung keputusan politik. Dia membanggakan sikap anti politiknya, membusungkan dada dan berkoar ‘Aku benci politik!’

Sungguh bodoh dia, yang tak mengetahui bahwa karena dia tidak mau tahu politik, akibatnya adalah pelacuran, anak terlantar, perampokkan, dan yang terburuk, korupsi dan perusahaan multinasional yang mengurus kekayaan negeri.

Demikian memang adanya, buta pada politik dapat membahayakan. Tetapi realitas yang ada kini bukan pada orang yang ‘buta politik’ tapi pada pelaku politiknya, para politisi. Para politisi pada realitas berlaku a-moral mengkhianati amanahnya pada rakyat.

Realitas yang terjadi bahwa bukan lagi buta politik tapi sikap apatis yang menyebabkan rakyat makin bosan dengan politik. Kerja-kerja partai politik tak lagi dapat dipercaya.

Politik tak ubahnya pelaku dasar manusia, seperti tulis Pramoedya Ananta Toer dalam Bumi Manusia, “Selamanya tentang manusia, kehidupannya bukan kematiaannya. Ya, biarpun yang ditampilkan itu hewan, raksasa atau dewa atau hantu. Dan tak ada yang lebih sulit dapat dipahami daripada sang manusia.

Itu sebabnya tak habis-habisnya cerita dibuat di bumi ini. Setiap hari bertambah saja. Aku sendiri tak banyak tahu tentang ini. Suatu kali pernah terbaca olehku tulisan yang kira-kiranya katanya begini: jangan anggap remeh si manusia, yang kelihatannya begitu sederhana, biar penglihatannya begitu sederhana, biar penglihatanmu setajam mata elang, pikiranmu setajam pisau, perabaanmu lebih peka dari para dewa, pendengaranmu dapat menangkap musik dan ratap-tangis kehidupan; pengetahuanmu tentang manusia takkan bakal bisa kemput”.

Demikianlah politik yang berisi manusia dan mengurusi hajat banyak manusia. Begitulah dunia politik, dunia gaduh. Penuh warna. Tempat pertaruangan orang-orang cerdas (dan juga licik). Mereka bertarung, berdebat, memamerkan ‘otot-otot’ pengetahuan dan ambisi. Maka politik memang butuh kesadaran moral. Dan yang punya peran dalam hal ini termasuk para kaum muda.


Kaum Muda dalam Prospek Demokrasi: Benci atau Dukung

Komisi Pemilihan Umum (KPU) mengakui tingkat partisipasi pemilih pada Pemilu Presiden (Pilpres) 9 Juli 2014 lalu menurun dibandingkan pada pemilu legislatif (Pileg) April 2014 dan Pilpres 2009. Partisipasi pemilih Pilpres 2014 hanya 70 persen (Kompas, 2014).

Kesadaran politik sebenarnya harusnya terus bertumbuh. Tapi realitas politiklah yang membuat kepercayaan dan kesadaran itu meluntur. Melunturnya kesadaran politik karena realitas politik seperti makin maraknya korupsi di DPR RI dan DPRD, berbagai kebijakan yang secara bahasa politis untuk rakyat tapi ternyata yang dinikmati adalah oligarki politik.

Sebab dunia politik adalah tempat di mana perkawanan dan pilihan-pilihan sikap dibangun di atas landasan kepentingan yang rendah. Dunia politik dengan segala nuansanya adalah juga bersemayam kekuasaan yang secara pasti akan mempengaruhi kehidupan orang banyak. (Matta, 2002).

Tatkala kebebasan terbuka dan partisipasi individu mengemuka dan menyebar, logika persaingan pun ikut terlibat. Kebebasan dan partisipasi tidak berangkat pada titik yang sama, tidak heran jika ajang kompetisi memunculkan pihak yang kalah dan menang.

Yang terakhir mengannggap kemenangan sebagai ajang mengumpulkan dan menimbun keuntungan, sementara yang kalah dipenuhi dendam untuk setiap kali mencari celah kelemahan pihak yang menang. Suasana sosial dan politik cenderung tidak stabil dengan meningkatnya angka kemiskinan dan kriminalitas. Demokrasi mengulang dosa-dosa otoritarianisme atas nama transisi.

Memang gagasan demokrasi begitu ideal sebagai tipikal hidup berbangsa dan bernegara. Begitu ideal hingga terkadang sulit dipraktikkan pada tataran ril. Gagasan itupun seringkali hanya menjadi konsumsi politik pencitraan yang memoles janji manis para politisi demi meraup suara rakyat.

Namun dibalik itu, nafsu terhadap kekuasaan dan praktik politik yang menempatkan kekuasaan sebagai tujuan, masih sangat kental dibandingkan dengan nilai ideal demokrasi yang memikul tanggung jawab moral pada rakyat. (Hamzah, 2010).

Kenyataan itulah yang mengemuka pada saat ini. Seringkali pertanyaan ironis menyapa, dimana demokrasi saat harga-harga kebutuhan pokok yang terkait dengan hajat dasar hidup, sulit terjangkau? Dimana demokrasi, kalau banyak titipan asing dalam undang-undang kita?

Bahkan bebas dalam segala hal hingga kebebasan tak bertanggungjawab. Apakah demokrasi yang menghasilkan pemisahan eksekutif, legislatif dan yudikatif menitip wakil rakyat yang duduk di lembaga legislatif dan eksekutif yang lebih asyik mempersoalkan nasib kepentingan sendiri?

Dibalik kilasan harapan yang besar, realitas demokrasi seringkali mengandung paradoks pada dirinya sendiri. Terlepas dari kenyataan bahwa proses demokrasi membutuhkan kerelaan yang tulus dan pengorbanan tak sedikit. Kaum muda dalam kesadaran moral politik sebagai pertama, batu bata ideologi, kedua, sebagai partisipasi politik moral, ketiga, penguatan gagasan kebangsaan bermoral bukan sekedar citra politik praktis, keempat, bila pada waktunya terjun sebagai perubah politik yang lebih bermoral.


Solidaritas Moral Kaum Muda

Pemilu secara langsung, media massa, organisasi kemasyarakatan yang kritis hanya imbas dari berkah demokrasi dan bagian dari demokrasi prosedural serta bukanlah hakikat demokrasi itu sendiri. Selama nilai-nilai kebebasan (liberte), persamaan (egalite), dan persaudaraan (fraternate), belum berimbas pada kesejahteraan rakyat, selama itu pula demokrasi pemanis bibir.

Demokrasi prosedural dan substansial harus berjalan beriringan, karena demokrasi bukan sekedar nilai ideal yang berlangsung dalam relung filosofis dan berkutat pada aras kesadaran, namun juga praktik sosial, politik, ekonomi, dan budaya yang menjanjikan kehidupan yang lebih baik.

Transisi demokrasi juga erat kaitannya dengan organisasi-organisasi kepemudaan dan kemasyarakatan. Organisasi-organisasi ini harus mampu memegang teguh konsistensi ruang gerak mereka dan visi mulianya sehingga tidak mudah terombang-ambing hegemoni kekuasaan.

Sebab dari sinilah kita bisa mengukur sejauh mana organisasi tersebut bergerak sebagai wujud partisipasi politik untuk memperkuat dirinya atau sekedar bagian dan mobilisasi kepentingan politik tertentu.

Banyak hal yang harus kaum muda mulai lakukan dalam partisipasi politiknya sebagai solidaritas moral. Dari solidaritas moral itu harus berbuah pada kekuatan kolektif. Dan kekuatan kolektif itulah yang menghadirkan kesadaran moral.

Kaum muda sebagai pendukung demokrasi, berupa gagasan hingga partisipasi. Ranah partisipasi adalah kaum muda sebagai pemilih tentu harus mengenal yang dipilihnya, tak sekedar ikut-ikutan, tapi pada kesadaran kritis terhadap permasalahan bangsa, bukan sekadar menjadi pemuda hedonis.

Sebagai pendukung demokrasi kaum muda dapat bertindak penyebar gagasan untuk menerima demokrasi yang ideal. Dan bertindak sebagai masyarakat sipil. Pada tataran gagasan dan aksi, kaum muda bertindak sebagai pengontrol. Sementara terlibat dalam berbagai organisasi kepemudaan sebagai keharusan adalah batu bata ideologi kesadaran kaum muda. Semuanya tidak hanya terjebak pada langkah politik praktis. Tapi bila pada waktu-waktu nanti itu perlu, maka terjunlah.

Terjunlah sebagai perubah atas dasar kesadaran moral. Kepedulian ini seperti tulis Pramoedya Ananta Toer, “Semua yang terjadi di bawah kolong langit adalah urusan setiap orang yang berpikir”.

Kontrol sosial diperlukan untuk menguatkan peran sipil, tempat dimana ragam gerakan sosial dan asosiasi berkumpul untuk mempengaruhi kebijakan sehingga kepentingan mereka tersalurkan dan terakomodasi negara. Kaum muda sebagai kontrol sosial harus memang bertindak adil. Adil dalam tindakan dan dalam pikiran. Beginilah tulis Pramoedya Ananta Toer, “Seorang terpelajar harus juga berlaku adil sudah sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan”.

Kesadaran moral kaum muda, seperti gagasan Hamzah (2010), pada akhirnya upaya memperkuat masyarakat sipil haruslah bersumber pada kehendak kuat serta niat yang tulus dari masyarakat itu sendiri sambil didukung oleh kebijakan pemerintah yang adil dan tidak diskriminatif, karena kita semua adalah contoh bagi yang lainnya.

Mengurus bangsa sebesar Indonesia bukanlah perkaran mudah. Diperlukan kebesaran hati dan kedewasaan dari segenap elemen bangsa dan kerjasama dalam satu tujuan, yakni memperkuat negara. Kuatnya negara pada gilirannya dibuktikan oleh kuatnya masyarakat sebagai penopang negara itu sendiri.

Kaum muda sebagai kesadaran kolektif sejak awal harus memang merasa pada pola pikir yang paling sederhana, seperti tulis Pramoedya Ananta Toer, “Berbahagialah dia yang makan dari keringatnya sendiri bersuka karena usahanya sendiri dan maju karena pengalamannya sendiri”.



sumber

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply