» » » Hoax Virus Perusak Persatuan Bangsa


Saat ini periode kehidupan manusia telah memasuki masa transisi menuju pola kehidupan abad ke-21. Pada masa ini, manusia sangat mudah mengakses berbagai informasi yang dibutuhkan dalam waktu yang relatif singkat Gadget-gadget canggih pun terus bermunculan dan terus berkembang. Jaringan internet juga menjadi faktor pendukung mudahnya mendapatkan informasi.

Hal ini sangat berbanding terbalik pada periode sebelum abad 21. Dimana pada masa itu untuk berkomunikasi memerlukan waktu berjam-jam hingga berhari-hari. Beberapa contoh dari gadget canggih yang umum digunakan oleh masyarakat global dewasa ini adalah seperti ponsel dan laptop.

Senada dengan gadget canggih dan jaringan internet yang terus berkembang, akun sosial media juga ikut berkembang. Sosial media atau yang lebih dikenal dengan sebutan Sosmed adalah sebuah aplikasi internet yang memungkinkan penggunanya untuk saling bertukar informasi dengan sesama pengguna lainnya tanpa dibatasi ruang dan waktu.

Hingga saat ini telah banyak akun sosial media yang hadir dan digunakan oleh masyarakat umum. Beberapa akun sosial media yang menjamur dan kian populer digunakan adalah facebook, twitter, mesengger, whats App, instagram, BBM, dan beberapa akun sosial media lainnya. We Are Social menerangkan bahwa pengguna internet global hingga Agustus 2017 adalah sebesar 3,8 miliar dengan penetrasi sebesar 51 persen dari total populasi di dunia. Penggunanya pun terdiri dari berbagai kalangan masyarakat mulai dari laki-laki, wanita, orang tua, anak-anak, pejabat, dosen, dan berbagai kalangan lainnya.

Tidak terpungkiri lagi bahwa sosial media seolah telah mengintervensi kehidupan manusia dalam hal berkomunikasi. Sosial media yang telah terhubung dengan jaringan internet memungkinkan penggunanya untuk dapat berkomunikasi dengan yang lainnya baik itu melalui pesan, berbicara, ataupun bertatap muka dari berbagi belahan dunia manapun.

Hal ini tidak menutup kemungkinan bahwa pengguna sosmed akan mudah mendapat kenalan dan relasi baru. Selain itu sosial media merupakan wadah untuk menambah wawasan penggunanya, dikarenakan informasi-informasi yang disampaikan dalam media sosial tersebut. Belakangan ini juga sosial media digunakan oleh para pebisnis untuk mempromosikan produk atau jasa yang dijualnya.

Selain memberikan dampak yang baik, sosial media juga memberikan dampak yang buruk terhadap penggunanya. Salah satu dari banyak dampak negatif sosial media adalah banyaknya berita bohong atau hoax. Berita-berita yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya tersebut sengaja dibuat untuk menjatuhkan martabat dari individu atau sekelompok orang.

Hal demikian terjadi karena biasanya hoax tersebut berisikan konten mengenai SARA. Dalam buku “The New Communication Technology” Mirabito juga mengungkapkan bahwa setidaknya ada 12.000 pengguna internet yang menjadi korban kejahatan di internet berkenaan dengan suku, agama, ras, etnik, orientasi sexual, hingga gender.

Meskipun telah ada undang-undang yang mengatur tentang ujaran kebencian, setidaknya terdapat 11 kasus ujaran (hate speech)di Indonesia yang menjadi pusat perhatian sepanjang tahun 2017. Pelaku penyebar hoax tersebut tidak hanya dari kalangan orang biasa saja, tetapi juga termasuk dari kalangan publik figur seperti artis dan politisi.

Konten dari hoax yang ditulis oleh para pelaku juga ditujukan kepada berbagai kalangan masyarakat. Mulai dari masyarakat biasa, etnis tertentu, anggota militer, hingga Presiden. Beberapa kasus tersebut membuktikan bahwa Indonesia juga menjadi salah satu negara yang rawan terhadap penyebaran berita hoax.

Hoax atau ujaran kebencian merupakan salah satu ancaman bagi keamanan dan persatuan di Indonesia. Konten yang terkandung di dalam berita tersebut dapat memprovokasi orang untuk membenci orang lain. Akhirnya akan menjadikan suasana yang tidak diinginkan seperti perang antar suku, perang antar agama, dan lain sebagianya.

Apabila hal demikian terjadi maka dapat disimpulkan bahwa sila ketiga dari pancasila yang berbunyi “Persatuan Indonesia” tidak terlaksana dengan baik. Yang berarti bahwa nilai luhur dari pancasila telah tercoreng dengan aksi-aksi tersebut. Salah satu contoh dari hoax yang menyulut perpecahan adalah kejadia di daerah Tanjungbalai Sumatera Utara pada pertengahan 2016 lalu.

Lalu, tentu menjadi pertanyaan bersama mengapa ujaran kebencian (Hate Speech) begitu marak beredar di dunia maya? Serta apa yang menyebabkan hoax begitu cepat diterima oleh masyarakat Indonesia? Untuk menjawab pertanyaan ini dapat dilihat dari dua sisi hipotesa.

Yang pertama adalah tentang tata bahasa yang digunakan oleh pengguna akun sosial media tersebut. kondisi ini terjadi akibat adanya batasan terhadap kebebasan berpendapat pada masa sebelum reformasi dan masa setelah reformasi. Pada masa reformasi, pemerintah meredam masyarakat dalam hal berargumentasi.

Setelah kebebasan menyatakan pendapat dan berargumentasi terbuka setelah reformasi masyarakat belum sepenuhnya paham dan mengerti tentang cara menyampaikan pendapatnya tetapi tetap menhormati orang lain. Hasilnya, pemilihan bahasa yang salah dari pengguna sosial media tersebut mengindikasikan bahwa konten yang disampaikan adalah sebuah ujaran kebencian.

Hipotesa kedua yaitu kurangnya budaya literasi pada pengguna media sosial. Kebanyakan pengguna media sosial terlalu cepat terpengaruhi oleh isi dari satu sumber berita saja. Studi mengenai cara orang menilai kebenaran telah dilakukan oleh Universitas stanford berita terhadap 7.840 siswa dengan latar belakang berbeda .

Hasil tersebut menyimpulkan bahwa anak muda lebih memprioritaskan isi berita ketimbang dengan sumber dari berita yang dibaca. Hasil penelitian tersebut dapat menjadi acuan bagi bangsa Indonesia, dikarenakan kebanyakan pengguna internet di Indonesia adalah remaja yang notabenenya adalah sebagai penerus tongkat estafet bangsa Indonesia yang harus teredukasi mengenai masalah persatuan dan kesatuan.

Data kementrian Komunikasi dan Informasi Indonesia menyebutkan bahwa pengguna internet di Indonesia adalah sebesar 60% atau 150 juta dari seluruh jumlah penduduk Indonesia. Dari jumlah itu sebesar 76% pengguna internet di Indonesia adalah remaja.

Meski di Indonesia telah memiliki undang-undang yang mengatur tentang ujaran kebencian dalam sosial media, tetapi masih saja pengguna sosial tidak mengindahkan peraturan tersebut. Pengguna sosial media seolah tidak memperdulikan peraturan yang telah ada tersebut.

Akhirnya penindakan terhadap pengguna penyebar ujaran kebencianpun menjadi jalan yang dipilih oleh aparat penegak hukum. Tetapi langkah tersebut dianggap kurang efektif dalam menyelesaikan permasalahan ini. Karena cara tersebut hanya akan menyelesaikan masalah dibagian hulu saja. Sedangkan di hilir yaitu masyarakat yang menerima informasi tentu saja masih rentan dan dapat terpengaruh oleh konten-konten hoax tersebut.

Untuk bisa menghilangkan ujaran kebencian yang telah menjamur di Indonesia, memerlukan waktu yang tidak instan. Artinya, untuk bisa menghilangkan ujaran-ujaran kebencian tersebut harus dilakukan perlahan dan dalam jangka waktu yang cukup panjang. Hal yang harus menjadi perhatian adalah bagaimana cara untuk bisa mengurangi “permintaan” ujaran kebencian ketimbang “pasokan” ujaran kebencian di sosial media.

Pendidikan literasi merupakan satu hal yang dianggap penting dalam sosial media. Para pengguna di tuntut untuk lebih kritis dalam menerima segala informasi yang diterima dalam akun sosial media miliknya. Artinya pengguna diharapkan jangan mudah terprovokasi terhadap satu sumber berita saja, tetapi harus aktif dalam mencari sumber berita lainnya.

Karena dengan dasar mempercayai satu sumber berita saja, hanya akan membuat informasi yang didapat itu paling benar. Selain itu bahasa yang digunakan oleh masyarakat dalam bersosial media harus diperhatika pula. Karena pada dasarnya bahasa yang digunakan bukan hanya sekedar bahasa formal saja yang digunakan untuk kebutuhan industri. Tetapi bahasa memiliki posisi lebih dari itu yaitu sebagai media berinteraksi.

Budaya literasi dilakukan untuk lebih memantapkan dan membuka mata pengguna media sosial terhadap etika dalam berkomunikasi melalui dunia maya. Apabila para pengguna media sosial telah “melek” terhadap etika dalam media sosial, maka akan menimbulkan sikap mempertimbangkan dampak dari perbuatannya terhadap orang lain. Dengan pemahaman semacam ini maka persatuan di Indonesia yang tertuang dalam sila pancasila tidak tergadaikan hanya karena satu berita bohong.



sumber

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply