» » » Berorganisasi untuk Mengabdi


Berorganisasi adalah sebuah pengabdian. Dan pengabdian sudah tentu untuk diri sendiri sekaligus untuk orang banyak. Berorganisasi juga merupakan wadah untuk mengekspresikan berbagai gagasan dan wacana untuk membentuk sebuah peradaban. Substansi peradaban atau umran adalah ilmu pengetahuan. Begitu kira-kira pendapat Ibn Khaldun.

Ibn Khaldun melanjutkan, bahwa ilmu pengetahuan tidak mungkin hidup tanpa komunitas yang aktif mengembangkannya. Karena itu suatu peradaban (umran) harus dimulai dari komunitas kecil atau saya lebih senang membahasakannya sebagai “lingkaran kecil” dan ketika lingkaran kecil itu membesar maka akan lahir peradaban (umran) besar.

Sebagai mahasiswa yang bisa dibilang cukup aktif dalam organisasi saya mempelajari beberapa hal selama 3 tahun terakhir; yaitu mengenal, memahami dan profesional. Tahap mengenal merupakan rangkaian awal ketika memasuki sebuah organisasi. Dari proses pengenalan yang panjang baru kita akan memahami bagaimana sistem organisasi tersebut. Dan yang terakhir kita akan profesional untuk memegang amanah dalam suatu organisasi.

Mengenal untuk memahami. Berorganisasi bukan hanya belajar tentang bagaimana cara kita membangun relasi dengan orang lain. Tapi lebih dari itu, yaitu mengasah kemampuan akademis, intelektual, menumbuhkaan kepekaan social dan sebagainya. Termasuk cara memimpin, memobilisasi massa dan tekhnik negosiasi yang tidak akan pernah kita dapatkan dalam bangku kuliah.


Menemukan dan mengasah potensi diri

Untuk menemukan dan mengasah potensi yang ada dalam diri tentu kita harus mengenal diri sendiri. Mengenal diri sendiri bukan berarti merenung dan tawakkal saja tanpa suatu usaha yang jelas. Pada diri masing-masing individu pada dasarnya cenderung pada kebaikan, kesucian dan kebenaran. Secara umum dapat dikatakan sebagai fitrah manusia.

Fitrah merupakan bentuk keseluruhan tentang diri manusia yang secara asasi dan prinsipil membedakannya dari makhluk lainnya. Fitrah menjadi lokomotif utama dan pendorong jiwa untuk terus mengasah potensi yang ada dalam diri. Factor keingintahuan merupakan pendukung untuk meraih dan membina potensi manusia ke kecendrungan manusia itu sendiri.

Mencurahkan tenaga dan pikiran atau suatu pengabdian sekaligus untuk menemukan potensi diri merupakan suatu keharusan dan tentu akan sangat melelahkan. Melelahkan bukanlah hal yang seberapa dan bukan tantangan yang besar dalam kehidupan ini. Berorganisasi pun adalah proses untuk menemukan dan mengasah potensi diri. Lantas kenapa harus berorganisasi? Karena setiap individu punya potensi dan keinginan yang berbeda-beda.

Oleh karena keyataan setiap individu mempunyai potensi dan semangat yang berbeda-beda maka organisasi pun dibentuk berbeda-beda baik tujuan maupun visinya.

Dalam organisasi, kita menemukan karakter, pemikiran dan semangat orang yang berbeda-beda. Awalnya terasa asing dan agak-agak gak enak gitu sama orang baru. Dalam prosenya memang demikian. Tapi seiring berjalannya waktu kita akan terbiasa dan akrab dengan orang-orangnya maupun dengan system organisasinya.

Perasaan malu dan takut bukan alasan yang tepat dan rasional untuk tidak mau ikut dan berkenalan dengan sebuah organisasi. Saya pikir bukan benar-benar masalah yang serius untuk diperbincangkan dengan diri sendiri. Kita berasal dari daerah yang berbeda, bahasa yang berbeda dan suku yang berbeda. Organisasi menjadi wadah penyatu kita untuk mencapai tujuan tertentu.

Percakapan dan menafsirkan selalu terjadi diawal-awalnya. Ini bukanlah rekaan dan sandiwara, tapi kita menuju ke langkah saling memahami dan merasa kerasan ketika berada dalam organisasi. Disitu kita mulai belajar menjujung tinggi pluralitas dan ke-bineka-an.


Profesional

Sebagai akademisi dan aktivis tentu ada berbagai kesibukan yang akan menghampiri. Mulai tugas kuliah yang belum kelar, kegiatan-kegiatan organisasi yang harus dilaksanakan sampai dengan rapat-rapat untuk merancang sebuah kegiatan yang bagus. Tentu bukan hal yang mudah dilakukan dan butuh kepandaian khusus untuk menjalankannya.

Sebagai aktivis jiwa profesional sudah melekat, meskipun hilang beberapa porsen karena ketiduran gara-gara capek. Hal yang wajar terjadi dikalangan aktivis. Tugas adalah tugas, pantang untuk tidak diselesaikan. Organisasi adalah organisasi pantang untuk ditinggalkan. Disinilah manajemen itu diperlukan untuk mengatur dari tugas kuliah, kegiatan organisasi dan rapat supaya sistematis.

Saya teringat akan perjuangan seorang wanita yang berinisial LY. Dengan sangat rapi dan benar-benar profesional ia menjalani kuliah dengan tugas-tugasnya, organisasi pondok, organisasi paguyuban daerah dan organisasi ekstra kampusnya dan dia sendiri kerja pada sore sampai malam hari.

Saya kagum dengan kegigihannya, saya kagum dengan kelemah-lembutannya dan saya kagum dengan kesabaran dan profesionalitasnya. Karakter yang sudah jarang sekali terdapat pada wanita secara umumnya. Ini membuktikan dia benar-benar mengabdi untuk dirinya sendiri sekaligus orang lain.


Organisasi sebagai miniatur Negara

Terlibat dalam dunia organisasi atau sibuk dengan menyandang status aktivis merupakan suatu kebanggan tertentu bagi orang-orang yang ikhlas dan tanpa pamrih. Untuk menghindari dunia mahasiswa abad-21 yang hedon, meterialis dan kekanak-kanakan, maka sangat perlu terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang konstruktif dan produktif.

Kita belajar memahami sistem, mekanisme dan kegiatan-kegiatan lainnya yang tidak kontra-produktif dengan kecenderungan dan potensi serta semangat kita. Tidak akan jauh beda dengan sistem sebuah Negara. Di organisasi kita belajar hukum (kosntitusi), mekanisme persidangan, debat dan merasionalisasikan argumentasi-argumentasi kita.

Yang lebih penting dan mendalam adalah kita belajar amanah, jujur, adil dan toleran. Jiwa-jiwa seperti inilah yang tidak akan didapat oleh mahasiswa-mahasiswa hedonis, meterialis dan kekanak-kanakan. Yang kerjaannya kos-kampus, keluar masuk mall dan sebagainya.

Di organisasi kita belajar memimpin, memanajemen, mengatur dan lain sebagainya. Sebagai pemimpin kita belajar amanah dan sabar. Tidak cepat mengambil keputusan tanpa pertimbangan dan musyawarah, tidak mengambil keputusan secara sepihak, tidak mengecewakan rakyat yang ia pimpin dan menjaga marwah ia sendiri sekaligus lembaga atau organisasi yang ia pimpin. Yang akan bermuara pada mengabdikan diri untuk diri sendiri, keluarga serta Bangsa dan Negara.



sumber

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply