» » » Fakta Nyata Negeri Kita


Energi merupakan komponen strategis bagi Negara karena ikut menentukan daya tahan, keamanan, kemajuan, dan keberlangsungannya. Berkurangnya cadangan energi tak terbarukan menjadi momentum penting untuk melakukan kajian komprehensif terhadap kondisi yang akan dihadapi oleh Indonesia di masa depan. Kenyataanya adalah cadangan minyak, gas, dan batubara diprediksikan akan habis dalam waktu singkat, tidak lebih dari 50 tahun lagi.

Dibutuhkan kebijakan nasional yang bukan hanya melakukan eksplorasi dan eskploitasi sumber energi tak terbarukan atau konvensional, melainkan juga menemukan, mengelola, serta menggunakan energi terbarukan. Tantangan bagi ketahanan nasional di bidang energi di masa datang termasuk kebutuhan energi yang terus meningkat, kebijakan energi yang tidak berjalan optimal, peraturan yang tumpang tindih, kemampuan industri nasional yang belum memadai, serta jaminan pasokan yang menipis.

Selain itu, permasalahan lain, seperti ancaman mafia migas, ketergantungan impor yang semakin tinggi, serta intervensi kepentingan negara-negara luar patut juga diperhitungkan akan turut berdampak terhadap ketahanan energi Indonesia.

Pada skala yang lebih umum, Indonesia menghadapi pertumbuhan ekonomi yang lebih lambat karena ekspor telah melemah. Pada tahun 2014, pertumbuhan ini melambat ketingkat pertumbuhan paling lambat dalam lima tahun. Angka pertumbuhan PDB melambat dari 5,58 persen pada 2013 menjadi 5,01 persen pada 2014.

Hal ini sebagian karena harga komoditas yang lemah, ketergantungan pada pasar ekspor, dan pertumbuhan mitra dagang yang lebih lambat. Misalnya, Cina adalah tujuan ekspor terbesar kedua di Indonesia, dan ekonominya telah melambat dalam beberapa tahun terakhir.

Pada 2020, PDB Indonesia diperkirakan akan meningkat sebesar 60 persen, menjadi $ 8.200, yang akan menghasilkan lebih banyak orang Indonesia membeli barang-barang mahal yang menggunakan energi seperti mobil dan lemari es. Sebagai hasil dari meningkatnya permintaan energi, konsumsi energi diperkirakan akan meningkat hampir 30 persen pada tahun 2020.

Upaya mengatasi ketergantungan terhadap impor minyak dari negara tertentu saat ini, mengharuskan Indonesia untuk lebih agresif mencari sumber-sumber pasokan (energi fosil) baru di luar kawasan Timur Tengah, seperti Rusia, Asia Selatan, dan Afrika dengan mengedepankan jalur diplomasi energi. Indonesia juga harus berani melakukan perubahan radikal untuk pembangunan energi baru dan terbarukan.

Terakhir, Indonesia menghadapi tantangan dalam sumber daya manusia. Jika dilihat, mungkin tampak bahwa Indonesia tidak kekurangan tenaga kerja, karena populasinya yang besar dan pada usia produktif. Namun, populasi usia produktif di Indonesia kekurangan keterampilan teknis yang memadai. Dalam satu contoh, Indonesia hanya memiliki rasio 2.671 insinyur terhadap 1 juta penduduk. Sedangkan Korea punya 25.000 insinyur per 1 juta penduduk, Malaysia 3.333 insinyur, dan Tiongkok 5.000 insinyur.

Seperti diketahui, Indonesia hanya memiliki presentase sebanyak 3.038 insinyur per 1 juta penduduk, jumlah tersebut masih minim dibandingkan dengan Singapura yang memiliki sebanyak 28.235 insinyur per 1 juta penduduk. Selain itu, Thailand memiliki presentase sebanyak 4.121 insinyur per 1 juta penduduk, Philipina 5.170 insinyur, dan Vietnam mencapai 8.917 insinyur. Modal manusia sangat dibutuhkan di Indonesia untuk menumbuhkan ekonomi dan memenuhi target energinya.

Modal manusia harus dikembangkan. Meskipun universitas di Indonesia tidak memiliki peringkat tinggi, universitas harus meningkatkan pendanaannya untuk pendidikan sains, teknologi, teknik, dan matematika di tingkat universitas atau meningkatkan jumlah siswa yang belajar di luar negeri yang dapat mempelajari keterampilan terbaru yang dibutuhkan untuk sektor energi. Salah satu cara yang mungkin untuk mengembangkan keterampilan teknis Indonesia di tingkat tersier adalah agar universitas Indonesia bermitra dengan universitas ternama di dunia melalui program pertukaran.

Hal yang bisa dilakukan sebagai langkah awal menjawab tantangan ketahanan energi dari perspektif kepemudaan adalah :

  • Turut andil memberi solusi dengan menyampaikan aspirasi kepada pemerintah melalui PKM-GT, penelitian, maupun karya tulis ilmiah lain untuk mendukung kegiatan eksplorasi dan eksploitasi migas
  • Mendukung pemerintah untuk mengeluarkan kebijakan agar memperkuat industri energi nasional dengan BUMN energi nasional berkelas dunia sebagai pelaku utama agar dapat tercipta kedaulatan, ketahanan dan kemandirian energi yang tangguh, yaitu dengan cara: membebaskan BUMN dari kewajiban membayar deviden sampai dengan memiliki kemampuan untuk  mengembangkan usahanya. Kedua, mengalokasikan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari sumber daya energi untuk memperkuat ketahanan energi nasional
  • Melakukan dan mengarahkan teman-teman untuk melakukan gerakan hemat energi yang ada disekitar, misalnya dengan menggunakan alat elektronik seperlunya, menggunakan transportasi umum untuk kegiatan sehari-hari, serta membeli BBM sesuai kemampuan agar penerima subsisi BBM tepat sasaran
  • Melakukan riset mengenai peningkatan keandalan sistem produksi, transportasi, dan distribusi penyediaan energi
  • Melakukan riset mengenai antisipasi terhadap kerusakan fasilitas dan infrastruktur energi, sebagai akibat yang ditimbulkan oleh bencana alam, faktor usia, dan sabotase
  • Berpartisipasi aktif serta mendayagunakan peluang komunikasi dalam berbagai forum energi utama seperti Pojok Eneri pada Institute for Essential Services Reform (IESR), Pertamina Energy Forum, International Student Energy Summit dan ope forum lainya.
  • Melakukan kajian maupun diskusi ilmiah melalui forum dialog terkait dengan transfer of knowledge serta transfer of technology di bidang energi terbarukan agar membuka wawasan, yang nantinya akan mendorong kreativitas dan daya juang untuk ikut andil dalam menguatkan ketahanan energi secara langsung.


Peran penting pemuda telah tercatat dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia yang dimulai dari pergerakan Budi Utomo tahun 1908, Sumpah Pemuda tahun 1928, proklamasi kemerdekaan tahun 1945, pergerakan pemuda, pelajar, dan mahasiswa tahun 1966, sampai dengan pergerakan mahasiswa pada tahun 1998 yang meruntuhkan kekuasaan Orde Baru selama 32 tahun sekaligus membawa bangsa Indonesia memasuki masa reformasi.

Fakta historis ini menjadi salah satu bukti bahwa pemuda selama ini mampu berperan aktif sebagai pionir dalam proses perjuangan, pembangunan bangsa dan ketahanan nasional. Faktanya, ketahanan energi merupakan hal yang sangat penting untuk dapat menyangga pilar ketahanan politik, ekonomi, sosial, dan budaya sebagai upaya mewujudkan ketahanan nasional.

Baik buruknya suatu Negara dilihat dari kualitas pemudanya, karena generasi muda adalah penerus dan pewaris bangsa dan Negara. Generasi muda harus mempunyai karakter yang kuat untuk membangun bangsa dan negaranya, memiliki kepribadian tinggi, semangat nasionalisme, berjiwa saing, mampu memahami pengetahuan dan teknologi untuk bersaing secara global. Pemuda juga perlu memperhatikan bahwa mereka mempunyai fungsi sebagai Agent of change, moral force and sosial kontrol sehingga fungsi tersebut dapat berguna bagi masyarakat, bangsa, dan tanah air.



sumber

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply