» » » Perjuangan Perempuan: Era Buram Menuju Era Yang Berkeadilan


Era Buram Perempuan di Masa Lalu

Peran perempuan pada masa lalu, konon diyakini hanya sebatas lingkup dapur (memasak), sumur (mencuci), dan kasur (melayani suami).

Bahkan, ada ungkapan yang menyatakan peran kaum perempuan seperti adagiu “kalau siang jadi sandal, kalau malam jadi selimut”.

Artinya, jika siang hari berperan sebagai pembantu, sedangkan pada malam hari sebagai “penghangat” tubuh suami.

Dengan kata lain, peran kaum perempuan diperlakukan sesuai kehendak suami; tanpa argumentasi.

Itulah beberapa gambaran perempuan dimasa lalu yang terlihat suram dan menyedihkan. Maka, tidak salah bila kita menamakan kondisi perempuan pada masa lalu sebagai era buram, karena perempuan dijadikan objek, sasaran dan bahkan pelampiasan sahwat para lelaki.

Prasangka–prasangka seperti “seorang istri harus melayani suami” “ perempuan tak pantas menjadi pemimpin, “ setinggi apapun tingkat pendidikannya anak perempuan kalau sudah lulus, terus nikah ,paling didapur saja” . lalu prasangka – prasangka ini mendapat penguatan dari struktur moral masyarakat yang terwujud dalam peraturan- peraturan agama dan adat. Bahkan dari zaman nenek-moyang kita, keadaannya memang sudah begini.


Tentang Perjuangan Perempuan

Di Indonesia sendiri, dari sejarah gerakan perempuan di Indonesia, awal gerakan pertama itu massanya R.A Kartini yang ia memandang pendidikan bagi kaum perempuan sebagai salah satu syarat, penting untuk memajukan rakyatnya, karena ibu yang terpelajar bisa diharapkan kemampuannya dalam mendidik anak-anak lebih baik; tidak hanya perempuan kalangan miskin, perempuan kalangan atas pun harus diberi kesempatan menjadi pencari nafkah sendiri, dan mencari pekerjaan yang cocok bagi mereka, misalnya menjadi perawat, bidan, dan guru; poligini harus dihapuskan karena merendahkan martabat kaum perempuan.

Sebagian besar unsur gerakan perempuan Indonesia pada masa sebelum perang. Keanggotaan gerakan berasal dari kalangan atas. Perjuangan untuk pendidikan kaum perempuan dan reformasi perkawinan merupakan masalah pokok. Seperti halnya dengan organisasi-organisasi perempuan umumnya ketika itu, baik di Eropa maupun di kebanyakan negeri Dunia Ketiga, persoalan yang menjadi perhatian perempuan Indonesia adalah yang lebih berkaitan langsung dengan perempuan kelas atas.

Sesudah berhasil mengatasi berbagai kesulitan yang besar, akhirnya R.A Kartini berhasil membuka sekolah yang pertama untuk gadis-gadis pribumi, di pekarangan rumah orangtuanya. Kartini bukanlah satu-satunya perempuan yang berjuang untuk pendidikan kaum perempuan pada zamannya. Beberapa butir dari cita-cita perempuan yang dinamis, dan dalam banyak hal juga berjiwa pemberontak ini, diikuti oleh tokoh-tokoh perempuan lainnya, terutama cita-citanya tentang pendidikan bagi kaum perempuan. Di Jawa Barat, Dewi Sartika menyebarkan pandangan yang sama, dan di daerah Minangkabau, Sumatra Barat, Rohana Kudus berbuat serupa pula. Meskipun demikian, Kartini yang menjadi simbol gerakan perempuan Indonesia, yang diperingati hari lahirnya, 21 April. Selanjutnya gerakan perempuan di Indonesia pun bermunculan, perempuan yang pertama, Poetri Mardika didirikan tahun 1912 , yang ada hubungannya dengan organisasi pertama di Indonesia Boedi Oetomo, dan bermunculan perkumpulan-perkumpulan perempuan dengan nama-nama “Putri Sejati” dan “Wanita Utama.” Dan masih banyak lagi organisasi – organisasi perempuan lainnya, namun sebelum organisasi – organisasi nasional ini berdiri, Kartini sudah sering mendengungkan gagasan – gagasan nasionalisnya.


Tentang Perempuan Terkini

Meskipun sudah bebas dari belenggu patriarkhi dan sudah mulai mendapat haknya baik dalam pendidikan, sosial dan budaya tapi tidak menutup kemungkinan masih ada sebagian perempuan yang belum mendapatkan haknya.

Persoalan kekerasan, trafficking, pelecehan seksual dominasi laki-laki atas perempuan masih akan kita temui pada era masa kini, pada sektor kehidupan perempuan kadang masih harus menanggung beban kerja ganda (double burden).

Satu sisi mereka harus berperan aktif di sektor domestik disisi lain sektor publik juga menjadi tuntutan mereka, pemerataan terhadap pendidikan, akses yang sama pada sektor publik masih menjadi tuntutan yang belum maksimal terpenuhi bagi perempuan pada era masa kini.

Hasilnya bisa kita lihat bahwa perjuangan perempuan untuk hidup equal (sama) dengan laki-laki masih jauh dari harapan yang di idam-idamkan.

Maka pantaslah posisi perempuan dalam kajian era modern sekarang ini menjadi sorotan dari berbagai kalangan, baik akademisi maupun masyarakat dalam berbagai persepsi  dan respon yang berbeda.

Khususnya perempuan modern, perempuan itu sosok universal yang selalu menarik diperbincangkan kapan dan di mana pun. Lebih-lebih setelah banyak kaum perempuan yang terjun ke sektor publik.

Memang harus diakui, kita sedang berada pada fase perkembangan yang sangat luar biasa dan berada pada era modernisasi yang tak bisa terbendungkan lagi. Makanya banyak orang merasa hal-hal di masa lalu sebagai hal-hal yang sudah ketinggalan jaman, kolot dan tak membawa banyak manfaat. Tapi bangsa yang besar adalah bangsa yang tak melupakan sejarahnya. Dalam konteks ini perjuangan perempuan berabad abad lamanya adalah sejarah dengan sejuta makna, yang memanusiakan dan terutama, yang membuat perempuan menjadi utuh sebagai manusia yang berharkat dan bermartabat.

Perjuangan perempuan berabad-abad lamanya itu adalah perjuangan untuk menghalau tanda-tanda kegelapan yang dilekatkan pada perempuan, sebagai mahluk yang lemah, mahluk yang hanya melahirkan, menyusui, merawat anak dan menjadi ibu rumah tangga


Perempuan dalam Perjuangan Menuju Dunia yang Berkeadilan Sosial

Perjuangan kesetaraan hak dan derajat terhadap kaum laki-laki ternyata bukanlah hal yang pokok dalam perjuangan perempuan, seperti yang sudah di sebutkan sebelumnya, bahwa ketertindasan terhadap kaum perempuan adalah sebagai implikasi dari proses produksi dalam industrialisasi, yang secara radikal merubah persepsi, moral, adat, dan pandangan tentang hidup. Paradigma dan cita-cita yang seharusnya dibangun adalah terciptanya sebuah dunia yang baru sama sekali, yang didalamnya perempuan dan laki-laki sama-sama mendapat kebahagiaan, tanpa ada pemerasan antara kelas yang satu terhadap kelas lainnya. Satu dunia baru, yang disana tidak hanya perempuan yang sama haknya dengan laki-laki, tetapi juga sebuah kesetaraan dan keseimbangan dalam kehidupan perempuan sebagai pekerja dan ibu rumah tangga.

Perjuangan perempuan harus berhasil membawa perjuangan wanita pada persoalan kemasyarakatan yang lebih luas, yang tidak hanya memikirkan dan memperjuangkan kedudukan wanita sebagai satu bagian dari kemanusiaan yang berbahagia seluruhnya. Kesadaran ini membuat wanita berjuang tidak sebagai sub, tetapi sebagai satu bagian daripada satu kelas (kelas yang di maksut adalah kelasnya kaum marhaen) yang menjadi korban dari pemisahan alat prosukdi.

Perempuan harus menjadi roda yang hebat dalam perjuangan melawan segala bentuk penghisapan manusia atas manusia bangsa atas bangsa, dalam perjuangan merebut alat produksi yang saat ini di miliki oleh kelas pemilik modal. Menuju  satu masyarakat yang berkesejahteraan sosial dan berkeadilan sosial, yang didalmnya tiada eksploitasi manusia oleh manusia, tiada eksploitasi manusia oleh negara, tiada kapitalisme, tiada kemiskinan, tiada perbudakan, tiada wanita yang setengah mati sengsara karena memikul beban yang dobel atau menjadi keledai yang menarik dua gerobak.



sumber

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply