» » » Bagaimana Seharusnya Mahasiswa? (Bagian 3)


2. Mahasiswa Harus Aktif di Organisasi, Manajemen Waktu, Belajar Kepemimpinan, Berbicara di Depan Umum, Berfikir, dan Bertindak Sesuai Dengan Kata dan Fikirannya.

Untuk menambah skill dan wawasan individu dari seorang mahasiswa, maka mahasiswa harus aktif di organisasi yang dia sukai, belajar kepemimpinan dan menjadi pemimpin, belajar berbicara yang baik, berfikir yang baik dan mampu bertindak sesuai dengan kata dan fikirannya.


a. Mahasiswa Harus Aktif di Organisasi

Dalam wawancara tetang mahasiswa, Anies Baswedan mengatakan: “Ketika Anda melewati fase kuliah ini, Anda akan menjadi orang-orang “bekerja” tidak lagi belajar. Bekerja itu diperlukan kemampuan bukan sekedar prestasi akademik tapi dibutuhkan pengalaman, keterampilan untuk bisa memimpin, mengelola, bernegoisasi. Pengalaman berorganiasi selama kuliah, itu merupakan modal untuk bisa meniti karir kedepan dengan baik. Oleh karena itu saya sangat mendukung dan menurut saya sangat penting bagi anak-anak yang sedang kuliah untuk mengembangkan diri lewat organisasi. Jadi, saya selalu mengatakan, aktif di kampus, itu sebenarnya sebuah kewajiban secara moral, secara hukum mengatakan itu tidak. Tapi Anda sebagai mahasiswa itu wajib. Kalau Anda tidak mengembangkan diri lewat organisasi sekarang, sesudah Anda lulus atau memulai berkarir saat itu Anda menyesal, kenapa dulu tidak aktif? Kenapa dulu tidak mengembangkan kepemimpinan? Dari pada Anda menyesal nanti, kerjakan, jadilah aktivis, tapi aktivis itu bukan demonstran, beda!.”

Aktif di organisasi, akan membuat mahasiswa bertemu dengan banyak orang dan banyak karakter. Dari situ mahasiswa dapat banyak belajar dari proses interaksi antar manusia di dalamnya. Dalam organisasi mahasiswa, kida dapat memperoleh ilmu tentang manajemen, pengaturan, pemikiran, menemukan jati diri, pembentukan karakter dan lain-lain. Ilmu-ilmu tadi dapat digunakan untuk kehidupan setelah kuliah. Contoh kecilnya dalam mengurus keluarga. Mengurus keluarga butuh juga pelajaran tentang organisasi.


b. Mahasiswa Harus Bisa Menjalani Secara Bersamaan, Berorganisasi, dan Kuliah. (Manajemen Waktu)

Anies Baswedan menambahkan: “Anda sebagai mahasiswa, apa sih kewajiban mahasiswa ini? Kuliah, bukan? Itu bukan dinomorsatukan atau tidak, itu sesuatu yang harus dikerjakan. Jadi, jangan katakan itu terpisahkan. Itu sudah hal yang harus dikerjakan. Jadi, Demikian juga dengan aktivisme, proporsinya akan tergantung penyesuaian pada suasanannya. Seperti Anda tanyakan seperti saya ”Mas anis, ingin menjadi suami atau ingin menjadi bapak?” Gimana dong? Itu tidak bisa terpisahkan, dalam diri saya ini banyak menempel beberapa tugas, Anies sebagai anak, ayah, rektor, pengurus Fullbright dan Anies sebagai penggagas gerakan Indonesia Mengajar. Saya tidak bisa kemudian mengatakan “Mau yang mana?“ Semuanya harus dijalankan. Ada waktunya pada saat saya disini mengerjakan A, B, C, D, itu yang saya harus bereskan dengan baik, saat saya di Jakarta dengan keluarga itu yang harus saya lunasi dengan baik. Jadi kebiasaan untuk memiliki multiple role, tidak bisa dimulai saat Anda sudah lulus nanti, tapi biasakan sekarang. Saat anda tidak terbiasa dengan multiple role Anda akan selalu berpikirnya ini atau ini, ini atau ini, Anda harus bisa mengerjakan semuanya. Anda pernah melihat pemain juggler? Bisa tidak seorang juggler itu berkonsentrasi hanya satu bola saja? Ada masanya Anda mainkan satu bola terus kan? Ada masanya semuanya harus dikerjakan ada yang bisa 3 bola, 5 bola atau 10 bola. The more you practice managing multiple role the more experience you have dan Anda bisa mengerjakan itu tanpa harus melihat lagi.


c. Mahasiswa Harus Belajar Kepemimpinan dan Mampu Menjadi Pemimpin

You are a leader if and only if you have followers. Anda pemimpin hanya dan jika Anda punya pengikut. Dalam mempelajari Kepemimpinan, anda bisa ikut training-training karena itu bisa membantu menstrukturkan apa yang harus dipelajari dalam leadership. Yang kedua, ambil pengalaman untuk memimpin karena memimpin itu bukan pekerjaan yang secara teoritis bisa dengan mudah didefinisikan. Memimpin itu adalah pekerjaan yang membutuhkan keterampilan pengalaman. Anda mau belajar berenang? Saya ajak masuk diruang yang canggih, saya ajari Anda berenang disitu, alat simulasi yang luar biasa, lalu saya ajak Anda ke kolam renang, bisa Anda berenang? Bisa satu jam, habis Anda nyemplung Anda baru berenang, setelah itu Anda tunggu kemampuan berenang Anda. Saya selalu mengatakan belajarlah berorganisasi dan bermasyarakat di kampus karena kampus itu karakternya seperti kolam renang. Karakter kolam renang itu pakai bata, kedalamnnya terukur, tekanannya terukur, ombaknya tidak ada. Anda mau belajar berenang di Samudra Pasifik? Kedalamanya tidak terukur, suhunya luar biasa dingin, ombaknya besar. That’s leadership challenge for the future, itulah tantangan bagi masa depan anda. Kebanyakan orang baru belajar berenang saat mereka sudah sampai samudra pasifik, bisa survive tapi bisa juga tenggelam. Kalau Anda belajar kepemimpinan di saat mahasiswa, Anda masih belajar di lingkungan yang masih terukur, kadar beban kepemimpinan Anda itu terukur, seperti Anda belajar berenang di kolam renang. Karenanya kalau mau belajar kepemimpinan lakukan sekarang, jangan nanti saat sudah selesai kuliah. Karena disana tantangannya sangat besar sekali, mendadak Anda baru belajar kepemimpinan saat tantangaannya sangat besar sekali, kalau Anda gagal maka Anda akan tenggelam.


d. Mahasiswa Harus Mampu Berbicara dengan Baik di Depan Umum maupun Interaksi Personal

Mahasiswa adalah manusia intelektual. Dalam menyampaikan gagasan-gagasan intelektual, dibutuhkan kepandaian berbicara (Retorika). Karena, kesan pertama untuk mengetahui seorang mahasiswa cerdas atau tidak adalah dengan melihat cara mahasiswa tersebut berbicara. Untuk menilai selanjutnya, kita bisa melihat dari sikapnya. Pandai berbicara, akan menjadi pandai negosiasi, dan akhirnya pandai mempengaruhi orang lain. Namun peringatan bagi mahasiswa yang pandai berbicara, adalah selalu lah berbicara dalam konteks menyebar kebenaran dan kebaikan. Tergelincirnya lidah lebih berbahaya daripada tergelincirnya kaki.

Gerakan mahasiswa memiliki karakter intelektual, ini yang membedakan dengan gerakan-gerakan pemuda yang lain. Karenanya Anda harus berbicara dengan moral dan dengan ilmu, caranya pakailah data. Anda kalau marah yah harus pakai data, tidak harus melakukan penelitian tapi yang penting ada punya data. Kalau misalnya Anda memprotes pemerintah, yang menaikkan BBM. Anda harus bisa bilang kenapa mau protes, secara data Anda harus bilang ini menyebabkan kemiskinan bukan semata-mata ini sebuah keputusan yang saya mau!


e. Mahasiswa Harus Mampu Berfikir dengan Baik

Mahasiswa harus membiasakan berfikir kritis, solutif, kreatif dan inovatif. Berfikir dapat meningkatkan kapasitas keilmuan. Upaya berfikir dilakukan untuk mencari yang terbaik dari yang terbaik. Kebiasaan berfikir akan memudahkan kita untuk menyelesaikan persoalan-persoalan kehidupan.


f. Mahasiswa Harus Mampu Meluruskan Kata, Fikiran, dan Perbuatannya

Setelah pandai berbicara, mampu berfikir dengan baik, mahasiswa harus juga meluruskan dua hal tadi menjadi sebuah tindakan. Mahasiswa harus satu kata, fikiran dan perbuatan. Prinsip seperti ini mengandung aspek kejujuran, konsistensi, tanggungjawab, kedisiplinan dan jauh dari hal yan disebut kemunafikan. Lebih baik diasingkan daripada menyerah terhadap kemunafikan. Bila anda berfikir bahwa mencuri itu tidak boleh dan tidak baik, anda juga harus mengatakan mencuri itu tidak baik, dan dalam sikap dan perbuatan. Anda tidak boleh mencuri.


g. Mahasiswa Harus Haus Ilmu Pengetahuan dan Belajar Sejarah

Sebagai bagian dari kehidupan akademik di perguruan tinggi, mahasiswa harus haus ilmu pengetahuan. Mahasiswa harus menemukan pengetahuan baru, bukan hanya sebagai korban akademik yang sekedar mengetahui bukan menemukan. Kita harus belajar banyak pada kasus-kasus mahasiswa di Amerika Serikat yang berani menemukan sesuatu seperti Steve Jobs (Apple), Bill Gates (Microsoft), dan Mark Zuckerberg (facebook). Mereka adalah orang yang akhirnya keluar dari kampus, untuk fokus pada temuannya, dan hari ini menjadi kaya raya. Meskipun budaya akademik hari ini tidak banyak mendukung itu, mahasiswa harus berani melawan arus. Mahasiswa harus mencoba menemukan hal-hal baru. Mahasiswa juga harus membuka diri menjadi ilmuwan. Dan intinya, segala sesuatu bisa dipelajari. Ingat sebuah pesan inspiratif “Untuk menjadi BISA. Dibutuhkan bakat 1% dan kerja keras 99%.”

Selain itu, untuk mempermudah pengetahuan, mahasiswa perlu belajar sejarah. Seperti kata Bung Karno: “Jas Merah (Jangan Sekali-kali melupakan sejarah).” Dari sejarah, kita bisa belajar kesalahan-kesalahan dan keberhasilan orang-orang sebelum kita. Kita tidak perlu terjatuh pada kesalahan yang sama dari orang sebelum kita. Dan kita perlu mengambil manfaat dari keberhasilan mereka.




sumber

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply