» » » Bagaimana Seharusnya Mahasiswa? (Bagian 1)


Sebagai awal, sebelum menuju pada keharusan-keharusan seorang mahasiswa, kita harus mengenal siapa diri kita? Atau siapakah saya?

Soe Hok-Gie dalam tulisannya mengatakan: “Kadang-kadang kita bertanya kepada diri kita sendiri “Siapakah saya?” Apakah saya seorang fungsionaris partai yang kebetulan menjadi mahasiswa sehingga harus patuh pada intruksi dari bapak-bapak saya dalam partai. Apakah saya seorang politikus yang harus selalu realistis dan bersedia menerima kompromi-kompromi prinsipal dan tidak boleh punya idealisme yang muluk-muluk? Apakah saya seorang kecil yang harus patuh pada setiap keputusan dalam DPP (Dewan Pimpinan Pusat) ormas saya, atau pimpinan fakultas saya, atau pemimpin-pemimpin saya? Ataukah saya seorang manusia yang sedang belajar dalam kehidupan ini dan mencoba terus-menerus untuk berkembang dan menilai secara kritis segala situasi. Walaupun pengetahuan dan pengalaman saya terbatas? Kadang saya bertanya pada kenalan-kenalan saya “siapakah kamu?” seorang tokoh mahasiswa menjawab: “Saya adalah antek partai saya. Kebenaran ditentukan oleh DPP Partai.”

Apakah kita telah mengenal siapa kita? Siapa Anda? Siapa kalian? Atau siapa saya? Setelah kita mengenal siapa diri kita. Positif atau tidak, terimalah… Itulah wujud kita hari ini. Tapi jangan khawatir perubahan akan terus tejadi. Karena cuma perubahan yang abadi di atas dunia ini.

“Tak kenal maka tak sayang” kita tidak bisa menyayangi sesuatu tanpa mengenal objeknya. Kita harus mengenal Apa itu mahasiswa sebelum menyayangi dalam bentuk mendalami “bagaimana seharusnya mahasiswa?”

Apa yang di maksud dengan mahasiswa? Mahasiswa adalah seorang pelajar yang telah menyelesaikan studi SMA-nya, dan sedang menuntut ilmu di perguruan tinggi. Ada juga yang mengatakan, mahasiswa adalah Agent of change (agen perubahan) karena mahasiswa telah membuktikan diri berpartisipasi dalam perubahan-perubahan yang terjadi di Indonesia. tahun 1928 (Sumpah Pemuda), tahun 1945 (Proklamasi), tahun 1966 (Orde lama berganti orde baru), dan tahun 1998 (Reformasi). Semoga di hari-hari depan ada lagi.

Masa mahasiswa adalah masa belajar di fase terakhir dari struktur pendidikan formal di Indonesia, bila Anda sudah sampai mahasiswa, anda pasti sudah SMA dan seterusnya. Jadi ini fase terakhir. Kenapa saya sebut demikian? Karena sesudah itu maka Anda akan berada di crossing road, apakah Anda meneruskan ke jalur non–akademik atau akademik. Bila Anda meneruskan ke jalur non-akademik mungkin Anda bisa bekerja di wilayah Anda masing-masing dan di situ mungkin Anda bisa meneruskan satu degree lagi, namanya master, master yang sifatnya profesional untuk menopang keprofesian Anda. Misalnya Anda mengambil master bisnis atau mengambil master ilmu-ilmu terapan lain. Jika Anda masuk ke jalur akademik, karena namanya universitas maka Anda akan meneruskan ke jenjang master, menjadi Doctor lalu menjadi peneliti dan menjadi Scholar.

Ada beberapa kelompok mahasiswa yang bisa dibedakan berdasarkan pilihan kegiatan. Mahasiswa yang pertama adalah mahasiswa hedonis-konsumtif, zaman itu mereka adalah penikmat orde baru, mereka pergi kuliah naik mobil–di zaman itu dimana kebanyakan mahasiswa hanya baru bisa naik motor, sepeda atau jalan kaki untuk menuju kampus. Yang kedua adalah mahasiswa profesional–individualis, kerjaannya kuliah saja, tidak perduli yang lain, menyiapkan diri untuk masa depan, profesional tapi individualis. Ketiga, mahasiswa jenis ini, kita istilahkan asketis religius, asketis religius ini di pikirannya hanya agama saja. Keempat adalah mahasiswa yang aktivis, nilai minim, aktif sana-sini. Kelima, mahasiswa yang istilah kita adalah protarian, merasa dirinya sebagai ekspresi kemiskinan, ekspresi penderitaan rakyat kecil, kita bisa lihat dari gaya baju, rambut dll. Selanjutnya Keenam mahasiswa yang kecenderungannya adalah melakukan kajian, lalu seakan-akan setelah melakukan kajian secara mendalam, maka problem masyarakat itu selesai.

Dari berbagai paparan kelompok mahasiswa di atas. Bagaimana pun bentuknya mereka tetap mahasiswa dengan ekspresi masing-masing. Kita juga harus mengetahui, budaya akademik di perguruan tinggi dibagi menjadi 13 di antaranya: kritis, kreatif, objektif, analitis, konstruktif, dinamis, dialogis, bersedia menerima kritik, menghargai prestasi akademik, bebas dari prasangka, menghargai waktu, memiliki dan menjunjung tinggi tradisi ilmiah, serta berorientasi pada masa depan.

Dalam tulisan selanjutnya, kita akan mengkaji tentang “Bagaimana seharusnya Mahasiswa” hal ini harus kita kaji sejauh mungkin karena kita harus menyadari bahwa yang merusak bangsa ini adalah: para “Mantan Mahasiswa!”




sumber

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply