» » » Aktivis Mahasiswa, Virus bagi Pemangku Kepentingan?


Aktivis adalah salah satu unsur dalam komunikasi politik yakni sebagai komunikator politik.  Sedangkan menurut Brian, unsur dalam komunikasi politik salah satu nya adalah kelompok penekan termasuk aktivis yang merupakan bagian dari kelompok penekan. Menurut KBBI, aktivis/ak·ti·vis/ n1 orang (terutama anggota organisasi politik, sosial, buruh, petani, pemuda, mahasiswa, wanita) yang bekerja aktif mendorong pelaksanaan sesuatu atau berbagai kegiatan dalam organisasinya; 2Pol seseorang yang menggerakkan (demonstrasi dan sebagainya).

Aktivis mahasiswa merupakan salah satu aktivis yang sangat berpengaruh dalam perjalanan pemerintahan negara Indonesia. Sejarah sudah mencatat bagaimana aktivis mahasiswa membuat rezim pemerintahan orde lama dan orde baru tumbang. Sejarah juga mencatat aktivis mahasiswa juga yang menggerakkan proklamasi di Indonesia agar segera dikumandangkan.

Sejarah paling diingat tentu saja bagaimana heroik nya aktivis mahasiswa yang berbeda ideologi bersatu untuk menumbangkan tirani rezim orde baru yang berkuasa lebih dari tiga dekade. Banyak yang mereka korbankan, dari korban harta, korban pendidikan hingga korban nyawa ulah sikap representatif dari Polisi dan Tentara untuk menutup pergerakan mahasiswa. Dan hasil nya bisa kita rasakan sekarang, reformasi lahir dengan susah payah.

Sejak rezim orde baru runtuh hingga saat reformasi, masih banyak para pemangku kepentingan yang takut dengan aktivis mahasiswa. Mereka mungkin menganggap kalau aktivis itu seperti virus bagi kelangsungan hidup mereka karena sering sekali aktivis mengkritisi setiap kebijakan yang dibuat oleh pemangku kepentingan.

Pemangku kepentingan sangat paham dengan sejarah pergerakan mahasiswa yang sangat terkenal di Indonesia

Mereka tentu sangat paham bagaimana heroiknya mahasiswa merobohkan rezim orde baru, karena mereka tahu tentang sejarah tersebut yang membuat mereka takut sejarah tersebut terulang kembali dan mereka tidak bisa berbuat sesuka hati mereka. Sehingga mereka belajar bagaimana caranya agar sejarah pergerakan mahasiswa tidak terulang kembali dan tidak mengusik hajat hidup mereka untuk terus menimbun pundi-pundi kekayaan dan melanggengkan kekuasaan.


Pemangku Kepentingan menganggap aktivis sebagai virus

Aktivis mahasiswa kini seolah-olah dianggap sebagai virus penggangu bagi kelangsungan kekuasaan bagi beberapa oknum pemangku kepentingan. Mereka mencoba membuat antivirus sehingga virus-virus tersebut tidak menyebar dan bisa dibasmi. Seperti itulah bagaimana mereka memperlakukan aktivis mahasiswa di era Reformasi. Mereka belajar dari pengalaman sebelumnya untuk tidak melawan aktivis mahasiswa secara frontal dan membabi buta tapi dengan cari terstrutur dan masif sampai ke seluruh lapisan mahasiswa yang apatis pun mereka coba cegah agar tidak menjadi seorang aktivis.

Mencegah dan membasmi sang “virus”

Nama nya juga virus, tentu harus dicegah dan di basmi bagaimana pun cara nya. Itulah yang sekarang banyak dilakukan oleh pemangku kepentingan agar virus tersebut tidak menjalar dan menghilang dari tubuh mereka. Lantas bagaimana cara nya mereka mencegah dan membasi “virus” tersebut, mari kita bahas sedikit cara mereka melakukannya yang tanpa kita sadari itu lah cara mereka untuk membungkam bahkan menghilangkan si  “virus” aktivis mahasiswa

Cara Persuasif

  1. Kuliah maksimal 5 tahun, membuat mahasiswa untuk fokus hanya kuliah saja dan tidak harus memikirkan bagaimana menjadi aktivis yang mengawal jalannya reformasi sekarang ini.
  2. Uang kuliah yang mahal, ketika uang kuliah mahal, banyak mahasiswa yang dituntu untuk tidak menyianyiakan kuliah nya karena biaya mahal yang sudah mereka keluarkan untuk kuliah agar tidak sia-sia begitu saja hanya untuk menjadi aktivis.
  3. Beasiswa yang menuntut kuliah cepat lulus dan langsung bekerja, mahasiswa seperti dilenakan dengan banyak nya beasiswa yang disiapkan untuk mereka, sehingga mereka tidak lagi berfikir untuk menjadi aktivis dan lebih fokus untuk kuliah cepat wisuda dan dapat kerja sehingga hidup mereka tejamin
  4. Kurikulum yang ketat, mahasiswa seperti dipaksa untuk selalu kuliah dan kuliah, setiap saat diberi tugas untuk mereka kerjakan sehingga mereka tidak sempat lagi untuk memikirkan kondisi bangsa ini dan terjun menjadi aktivis karena banyak nya tugas yang mereka dapat dan tuntutan untuk mendapat nilai yang tinggi lah yang membuat mereka terlena

Masih banyak lagi cara persuasif yang dilakukan oleh pemangku kepentingan untuk membungkam tajam nya aktivis mahasiswa


Cara Represif

Cara ini mungkin akan dipikirkan berulang kali oleh pemangku kepentingan untuk menghadapi aktivis mahasiswa, tapi terkadang mereka juga menggunakan nya untuk menunjukkan bahwa mereka tidak suka dengan pergerakan mahasiswa yang mengganggu kekuasaan mereka. Tentu saja ini melanggar hak kebebasan mengemukakan pendapat dan selama ini mahasiswa tidak akan melakukan tindakan represif dalam mengemukakan pendapatnya jika tidak dipancing oleh pemangku kepentingan.

Tahun 2016 saja sudah ada beberapa tindakan represif yang dilakukan oleh pemangku kepentingan untuk membungkam suara mahasiswa, mari kita lihat contoh nya :


1. Ketua BEM UNJ di Drop Out (5 Januari 2016)

Ketika mahasiswa UNJ bersama-sama membahas permasalahan yang ada di UNJ dan mengajak pihak rektorat untuk beraudiensi tapi hasil nya malah sang ketua BEM UNJ ronny setiawan harus di Drop Out karena dituding melakukan tindak kejahatan berbasis teknologi dan penghasutan. Walaupun pada akhirnya ronny setiawan tidak jadi di Drop Out


2. Pemukulan Mahasiswa dari BEM Unri di Balai Srindit Kompleks Kediaman Gubri (13 April 2016)

Ketika tiga mahasiswa Unri membentangkan spanduk yang berisikan kritik terhadap Kondisi Provinsi Riau justru dianiaya oleh oknum petugas keamanan, bahkan ketika salah satu mahasiswa sudah tersungkur pun masih saja ditendang oleh oknum tersebut.


3. Demo mahasiswa Unand di Padang tolak JK dibubarkan dan 7 aktivis mahasiswa Unand diamankan Polisi (5 September 2016)

Terbaru yakni kasus dibubarkannya aksi damai mahasiswa Unand dan diamankannya 7 aktivis mahasiswa Unand


Di atas merupakan sedikit kasus arogansi pemangku kepentingan dalam membungkam pergerakan mahasiswa dan tentu saja hal tersebut melanggar hak kebebasan berpendapat.

Aktivis bukan lah virus bagi pemangku kepentingan dan siapapun. Aktivis adalah pengawas jalanya roda pemerintahan agar adil dan dapat mensejahterakan rakyat Indonesia. Semua hal yang dilakukan oleh aktivis mahasiswa bukan lah semata-mata dilakukan untuk kepentingan politik golongan tertentu tapi murni untuk kepentingan bangsa dan rakyat Indonesia.

Aktivis mahasiswa sudah berkorban nyawa untuk melahirkan reformasi sehingga kini aktivis mahasiswa bertugas untuk mengawal dan memastikan 6 tuntutan reformasi bisa terwujud dan dilakukan dengan maksimal oleh seluruh bangsa dan rakyat Indonesia termasuk pemangku kepentingan. Semua pihak harus saling mengerti dan menyadari pentingnya bekerja sama.

Peran mahasiswa yang tidak hanya untuk kuliah semata, karena mahasiswa merupakan agen perubahan, pengontrol sosial dan penerus bangsa. Peran tersebut untuk kemajuan bangsa Indonesia. Maka dari itu stop segala bentuk usaha melawan mahasiswa baik itu secara persusif maupun represif.

Kami Mahasiswa Indonesia sudah bersumpah, bertanah air satu, tanah air tanpa penindasan. Berbangsa satu, bangsa yang gandrung akan keadilan dan Berbahasa satu, bahasa tanpa kebohongan.



sumber

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply