» » » Pemuda Pelopor, Bukan Pengekor


"Idealisme adalah kemewahan terakhir yang dimiliki seorang pemuda." -Tan Malaka

Pemuda, mereka yang semangatnya menggebu-gebu, darahnya masih merah merona, pikirannya tajam serta kepribadannya sarat nilai-nilai humanisme. Di dalam fase kehidupan yang terbilang menengah, pemuda memiliki visi dan misi yang segar bugar, dan dibarengi pula dengan keyakinan kuat akan keberhasilan.

Dengan bekal seperti itu, pemuda di berbagai belahan dunia, pun Indonesia memegang peranan penting dalam menciptakan perubahan sosial. Bermodalkan keberanian dan intelektualitas sebagai dasar bergerak, pergerakan pemuda begitu ditakuti. Oleh sebab itu, bagi kaum konservatif, mematikan pergerakan pemuda adalah kunci untuk mempertahankan eksistensi.

Pramoedya Ananta Toer salah seorang Sastrawan Indonesia mengatakan sejarah Indonesia adalah sejarah pemuda Indonesia, yang dimulai dengan perhimpunan Indonesia di Belanda, sumpah pemuda, revolusi agustus 1945, hingga penggulingan diktator Soeharto. “Hanya sayang mereka tidak melahirkan pemimpin,” kata Pram

Sejarah menggoreskan bahwa pemudalah yang bergerak, pemudalah yang menggerakkan sejarah. Tren positif ini seharusnya dipegang teguh oleh setiap pemuda serta organisasi pemuda Indonesia. Menggelorakan pikiran progresif merupakan ciri khas seorang pemuda, selalu berdebat dengan zaman beserta sistem usangnya.

Soe Hok Gie seorang aktivis mahasiswa di era 1966 mengatakan bahwa ‘generasiku ditugaskan untuk memberantas generasi tua yang mengacau yaitu koruptor-koruptor tua seperti Iskak, Djodi, Dadjar dan Ibnu Sutowo.’

Gie, merupakan salah satu contoh pemuda yang berdiri setia di barisan keadilan dan kebenaran, penanya tak berhenti mengkritik. Terdapat suatu ungkapan yang sampai saat ini terkenang di benak seluruh mahasiswa yakni ‘pelacuran intelektual’.

Ungkapan tersebut buah dari kekecewaan Gie melihat eksponen 1966 yang menerima tawaran menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong serta sibuk memperebutkan mobil holden ketimbang menyuarakan kepentingan rakyat.

Suatu pemandangan yang tak asing bagi kita bahwa perjuangan yang awalnya murni soal penderitaan rakyat namun ditutup dengan gemerlapnya kekuasaan, gelamornya fasilitas. Oportunisme dan pragmatisme adalah penyakit yang sulit untuk dihilangkan dari pemuda Indonesia saat ini.

Jangan jadi Penjilat!

Sudah 108 tahun pergerakan pemuda Indonesia, yakni 1908-2016. Jas merah, jangan sesekali melupakan sejarah kata bung Karno. Tanpa pergerakan pemuda, tanpa keberanian para pemuda, Indonesia tidak akan berdiri tegak sebagai sebuah negara merdeka.

Berdirinya Budi Utomo menjadi awal sejarah gerakan pemuda Indonesia, organisasi tersebut bersifat sosial, ekonomi dan kebudayaan tetapi tidak bersifat politik. Paska lahirnya budi utomo berbagai organisasi kepemudaan pun menjamur, tujuannya kala itu hanya satu: mengusir penjajah dari bumi Indonesia!

Kita adalah bangsa yang memiliki pemuda berkarakter dalam sejarah perjuangannya. Rekaman sejarah tentang Chairul Saleh dkk yang berdebat hebat dengan Soekarno dan Muhammad Hatta soal kemerdekaan adalah bukti jelas bahwa pemuda kita memiliki karakter yang low context dalam ucapan dan tindakannya: tegas, jelas dan tanpa tedeng aling aling.

Jelas alibi yang mendiferensiasikan era hari ini dengan dulu di fase perjuangan bangsa menggambarkan kondisi pemuda Indonesia hari ini. Apa yang dapat dipelajari dari keberanian Chairul Saleh dkk? Kuatnya keyakinan akan kemenangan kolektif, pengorbanan dan mengutamakan kepentingan kemerdekaan rakyat!

Berbagai macam hikmah pelajaran dapat kita ambil dari sejarah bangsa, kita harus jas merah. Sebuah kontemplasi besar-besaran bagi pemuda Indonesia dewasa ini. Mengapa di 71 tahun Indonesia, kita tak kunjung selesai dengan kemiskinan, pengangguran, kebodohan dan seluruh patologi sosial dasar sebuah negara? Ironisnya, situasi tersebut realitas yang tak terelakkan dari sebuah negara yang ‘like a paradise’ (seperti surga).

Dikutip dari BPS 2015 jumlah pemuda mencapai 62,4 juta orang. Jumlah kaum muda di Indonesia mencapai 25 persen dari seluruh penduduk Indonesia. Kalau menggunakan basis data proyeksi jumlah pemuda versi BPS di atas, secara umum persebaran jumlah pemuda di Pulau Jawa berada di posisi pertama dengan persentase 57,94 persen dan sisanya persebaran jumlah pemuda terpecah di Pulai Sumatera, Kalimantan, Papua dan Sulawesi.

Dengan jumlah populasi pemuda Indonesia yang mencapai 25 persen dari total jumlah penduduk, tentu ini menjadi kesempatan besar bagi pemuda untuk mengambil peran dalam ‘mempelopori’ perubahan. Peran pemuda menjadi salah satu elemen penting dari kondisi Indonesia hari ini. Keterpurukan bangsa hari ini bukan semata-mata karena salah pemerintah, akan tetapi juga disebabkan karena pemuda diam, dan mengekor pada kekuasaan!

Kita, pemuda, harus berani menjadi inisiator. Mengalah pada pikiran inferior akan kegagalan, tidak boleh melecehkan kapasitas pemuda Indonsia. Pun, tabiat memilih jalan aman dengan berada dibalik penguasa dan pemodal, jangan sampai mematikan nalar!

Partai politik masif mencetak organisasi sayap partai, yang mayoritas isinya adalah kaum pemuda. Parpol dan elitenya secara teori dan praktik belum mampu berada sebagai pimpinan partai dalam khitah partai politik yang sesungguhnya, serta iklim yang dibangun bukan iklim demokrasi, tetapi iklim kapital. Lantas mengapa harus pemuda yang dijadikan sayap?

Seperti penulis sebutkan di awal, jika kekuasaan ingin langgeng, maka mematikan gerakan pemuda menjadi sangat penting. Siapalagi generasi yang memiliki idealisme tinggi dan semangat yang menggebu-gebu kecuali pemuda. Seharusnya pemuda hari ini marah, betapa simbol-simbol otoritatif pemuda marak diperjual-belikan demi eksistensi pemodal, bahkan premanisme!

Pemuda harus kembali ke khitahnya, berada di balik jerit tangis rakyat, berpihak pada keadilan, kesetaraan dan kebenaran.Mengutip kalimat bersejarah Gie, ‘lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan’. Pemuda harus berdiri di kaki sendiri, situasi dururat Indonesia kekinian, telah memanggil pemuda menjadi pelopor bukan penjilat!

Ikut dalam pembangunan bangsa dan negara serta aktif dukung mendukung dalam konteks perebutan kekuasaan tidak boleh menjadikan pemuda jumawa dan anti rakyat. Justru seharusnya ketika pemuda telah terjun di politik praktis, kepekaan pada dimensi sosial harus dikedepankan.

Kita merindukan pemuda-pemuda progresif: Soekarno muda, Hatta muda, Sjahrir muda, Tan Malaka muda, Natsir muda selanjutnya. Berdebat dalam gagasan kerakyatan, bergelimang keringat bahu-membahu bersama rakyat serta mati dengan menggoreskan sejarah keberpihakan pada rakyat.

Berdamai dengan pembohongan dan pembodohan rakyat bukanlah AD/ART seorang pemuda, pemuda lantang ketika rakyat diperjualbelikan bahkan dihisap secara ekspoitatif demi keuntungan segelintir kelompok.

Korupsi yang tak kunjung berkurang, hukum diskriminatif serta bangunan ekonomi yang mendewakan pihak asing harus membuka mata pemuda akan pentingnya gebrakan dan ide-ide solutif dari kaum pemuda. Sudah saatnya pemuda kembali ke cita-cita rakyat, sudahilah yang mengekor pada si ‘Tuan’, karena pemuda dilahirkan untuk menjadi pelopor bukan pengekor.



sumber

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply