» » » Pemuda Harus Belajar kepada Siapa?


Dalam kehidupan ini, pemuda sebagai aset bangsa adalah gambaran masa depan Indonesia. Sehingga banyak sekali yang menyanjung pemuda dengan berbagai predikat prestisius, seperti agen perubahan, manusia harapan bangsa dan lainnya. Sebutan itu tidak salah, meski tidak sepenuhnya layak mendapatkan pengakuan setinggi itu.

Mengapa? Sebab pemuda itu adalah pribadi idealis, tapi berjiwa labil dan sering memandang sesuatu dalam perspektif pribadinya akibat benturan realitas dalam kehidupannya.

Dalam memandang politik misalnya, di mana pemuda Indonesia masih terlihat apatismenya. Maraknya kasus korupsi serta nilai negatif lainnya, kurangnya teladan politisi bersih dan massifnya gerakan deparpolisasi membuat pemuda malas berpolitik.

Padahal, politik merupakan salah satu jalur dalam sistem demokrasi yang efektif mendorong terciptanya kesejahteraan dan keadilan sosial untuk kehidupan bermasyarakat. Tapi sekali lagi, politik cenderung dipandang kelebihan minusnya dibandingkan nilai positifnya.

Kemalasan berpolitik pemuda memang sangat wajar karena sulit sekali mendapatkan politisi bersih di Indonesia. Godaan kekuasaan, harta dan wanita terbukti mampu menjemuruskan banyak politisi bersih sehingga terjebak korupsi.

Ini membuat anak muda lebih memilih profesi lain dibandingkan terjun ke dunia politik. Korupsi dan politik terlanjur melekat erat dalam benak pemuda Indonesia, sehingga pernah tercetus sebuah ungkapan sinis seorang anak muda kepada saya, “Politik enak dipelajari, karena sifatnya ideal. Tapi pahit dijalankan, karena isinya pembohong dan penipuan semua”

Kalimat itu jelas merefleksikan, betapa pandangan pemuda lebih tertuju kepada keburukan daripada politik itu sendiri dibandingkan kebaikan yang terkandung di dalamnya. Dalam bayangan pemuda, politik terlihat lebih banyak budaya transaksionalnya dibandingkan transformasionalnya.

Nilai kesantunannya sebagaimana yang terlihat dalam teori politik di ruang kelas bertabrakan dengan prakteknya yang menghadirkan kecurangan, balas dendam, buruk sangka dan sejuta tindakan negatif lainnya. Jadi jangan heran jika pemuda malas berpolitik dalam kehidupan kesehariannya.

Selain marak citra negatif, kesulitan dalam mengubah citra buruk politik di mata anak muda juga ditunjang gagalnya politik Indonesia menghadirkan politisi bersih. Pemuda Indonesia sekarang kehilangan sosok negarawan seperti Bung Hatta yang sibuk memikirkan bangsanya dibandingkan kepentingan pribadi dan kelompoknya.

Sosok inspiratif ini pernah “bercerai” dengan Soekarno karena terlibat perbedaan cukup serius mengenai pandangan politiknya. Tapi balas dendam tak pernah hadir dalam hidupnya yang dibuktikan kesediaannya terus menjalin persahabatan dengan Soekarno hingga akhir hayat di luar panggung politik.

Kita kehilangan pula kehangatan persahabatan ala Soekarno, Natsir dan Aidit yang membawa prinsipnya masing-masing dalam kontestasi politik di awal kemerdekaan. Jika sudah bertemu dalam parlemen, betapa kerasnya mereka membawa prinsip politiknya. Tapi dalam kesehariannya, mereka masih sempat “ngopi” bareng di luar parlemen.

Ini membuktikan jiwa negarawan hadir dalam dunia keseharian politisi kita di masa lalu. Sekarang, semua itu terasa hilang sebab benturan dalam dunia politik terbawa hingga dalam keseharian hidup para politisi sebagai pelaku utama dalam perpolitikan nasional itu sendiri.

Tampak pula, pemuda minim sekali mendapatkan gambaran mengenai politisi santun baik tutur kata maupun tindakan. Terlanjur banyak politisi kita mudah mengumbar kata dan tindakan kontroversial yang kontraproduktif dengan semangat berpolitik santun.

Dalam pemberitaan media, kata-kata kontroversial banyak keluar dari mulut politisi sehingga mengundang pandangan tersendiri di kalangan anak muda “Jika mau sukses berpolitik, maka pintarlah bersilat lidah dan menghabisi karakter lawan kita dalam berpolitik.” Dampak yang terasa, politik adalah permainan orang-orang yang berkarakter jahat dan tidak cocok untuk manusia yang berhati baik, berjiwa bersih dan bercita-cita membangun masa depan Indonesia yang lebih baik.

Terakhir, pemuda menyaksikan sendiri bagaimana gerakan deparpolisasi hadir secara massif dan sistematis. Kritik yang dibangun atas bobroknya budaya politik lebih mencerminkan upaya menjatuhkan elemen dasar demokrasi seperti partai politik dan pelaku yang ada di dalamnya.

Partai politik dituding sebagai sarang mafia, pelakunya mengedepankan semangat transaksional dan jika ada politisinya terjebak korupsi, maka partainya layak dibubarkan. Ini jelas memacu pikiran pemuda untuk malas terjun ke dunia politik. Sebab mereka selalu diberikan imajinasi yang sangat buruk dan kotor terhadap instrumen yang ada dalam gelanggang perpolitikan itu sendiri.

Padahal jika dibangun semangat kritik konstruktif dan solutif, misalnya ada partai yang peringkat nomor satu korupsinya disarankan agar membenahi sistem pengkaderannya dengan merekrut dan mengedepankan kader yang berintegritas baik. Jika ini mampu dilakukan tentu akan berdampak kepada kebersihan dan semangat berkompetisi secara sehat dalam internal partai politik.

Gambaran yang baik itu akan membuat pemuda lebih bergairah masuk ke dunia politik, sebab mereka merasa mendapatkan nilai dan semangat kebaikan dalam memperjuangkan kepentingan bangsanya. Sekalipun ada kritik dapat ditanggapi dengan bijak karena semangat yang dibangun kritik untuk perbaikan dan perubahan yang lebih baik.

Maka sejak sekarang, penting sekali bagi pelaku dan institusi politik mengubah wajahnya agar lebih bersih dan berwibawa sehingga kelak mengundang pemuda untuk aktif terlibat di dalam panggung politik. Lembaga politik seperti parlemen dan partai politik harus mengedepankan semangat anti korupsi dalam wacana dan tindakan nyata.

Politisi sebagai pemain utama politik sudah waktunya menginspirasi pemuda dengan memberikan keteladanan dan karakter positif yang mampu memikat hati pemuda. Para pengkritik dunia politik, mulailah membangun kritik yang konstruktif dan solutif sehingga sistem demokrasi ini lebih dapat bekerja secara efektif. Ketiga hal mendasar ini menjadi penting sehingga pemuda tidak lagi apatis dan mau menceburkan diri dalam riuh rendah perpolitikan nasional.



sumber

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply