» » » Pemuda di Persimpangan Idealisme


Melalui institusi pemerintahan atau non-pemerintah, negara menyelenggarakan berbagai kegiatan kepemudaan sebagai upaya meningkatkan kepemahaman terhadap masyarakat tentang tri sila Kongres Pemuda II, sekarang dikenal sebagai Sumpah Pemuda. Meskipun banyak perubahan, baik teks maupun kontekstualisasi isu, peringatan sumpah pemuda tetap berjalan dengan semestinya.

Seperti yang dijelaskan dalam buku Sumpah Pemuda: Makna & Proses Penciptaan Simbol Kebangsaan Indonesia (2008) karya Keith Foulcher, pada masa kekuasaan Sukarno, Sumpah Pemuda digunakan sebagai kepentingan diplomatik kedaerahan. Karena, pada tahun 1957, berbagai pemberontakan daerah muncul di Sumatera dan Indonesia bagian timur. Sehingga mulai tahun tersebut, per tanggal 28 Oktober, diperingati sebagai Hari Sumpah Pemuda sebagai upaya mengatasi disintegritas bangsa.

Saat ini, sumpah pemuda dirayakan dengan ala kaum milenial, santai dan enegik. Secara sepintas memang tidak memperlihatkan suasana kegentingan seperti halnya Kongres Pemuda yang dijaga ketat ribuan tentara Hindia Belanda, namun esensi dari sumpah pemuda tetap menjadi prioritas utama dalam perayaan sumpah pemuda tahun ini.


Kongres Pemuda II

Pada 27–28 Oktober 1928, para pemuda dari berbagai daerah, etnis, dan suku berkumpul di Batavia untuk menyelenggarakan Kongres Pemuda II. Musyawarah ini merupakan tindak lanjut Kongres Pemuda I yang diselenggarakan dua tahun sebelumnya.

Pada Kongres Pemuda II, melahirkan sebuah keputusan yang dikenal sebagai Sumpah Pemuda. Momentum ini yang sekarang dikenal sebagai titik tolak kemerdekaan bangsa Indonesia.

Ada tiga poin pokok yang ditegaskan pada keputusan tersebut. Pertama, cita-cita pemuda untuk membentuk tanah air bernama Indonesia. Kedua, cita-cita pemuda untuk memperjuangkan berdirinya sebuah bangsa yang bernama bangsa Indonesia. Ketiga, cita-cita pemuda untuk menjadikan sebuah bahasa sebagai bahasa persatuan tanah air dan bangsa Indonesia, yakni bahasa Indonesia.

Tiga ide atau gagasan merupakan modal penting sebagai perlawanan atas situasi atau kondisi yang pada saat itu Indonesia berada dalam cengkraman. Hal ini ide atau gagasan merespons sebagai tindakan atas keperpihakan terhadap kesatuan dan persatuan bangsa.

Melalui ini, ide atau gagasan akan sadarnya persatuan dan kesatuan bangsa menjadi persoalan serius ketika banyak sekali infiltrasi sosial bahkan politik yang bertebaran, sehingga dikhawatirkan mengancam kebinekaan kita.


Idealisme

Idealime adalah sebuah istilah yang digunakan pertama kali dalam dunia filsafat oleh Leibniz pada awal abad 18. Ia menerapkan istilah ini pada pemikiran Plato, seraya memperlawankan dengan materialisme.

Istilah idealisme adalah aliran filsafat yang memandang mental dan ideasional sebagai kunci ke hakikat realitas. Dari abad 17 sampai permulaan abad 20, istilah ini banyak dipakai dalam pengklarifikasian filsafat, lampu pijar yang sering dikaitkan atau dijadikan simbol dari ide.

Arti falsafi dari kata idealisme ditentukan lebih banyak oleh arti kata ide daripada kata idea. W.E. Hocking, seorang idealis mengatakan bahwa kata idea – ism lebih tepat digunakan daripada idealism. Idealisme merupakan sistem filsafat yang telah dikembangkan oleh para filsuf di Barat maupun di Timur.

Di Timur, idealisme berasal dari India Kuno, dan di Barat idealisme berasal dari Plato, yaitu filsuf Yunani yang hidup pada tahun 427-347 sebelum Masehi. Dalam pengertian filsafati, idealisme adalah sistem filsafat yang menekankan pentingnya keunggulan pikiran (mind), roh (soul) atau jiwa (spirit) daripada hal-hal yang bersifat kebendaan atau material.

Idealisme dalam filsafat dikatakan bahwa realitas itu terdiri dari ide-ide pikiran, jiwa, dan bukan benda material atau tenaga. Jiwa adalah riil dan materi adalah produk sampingan. Alam tidak dapat berdiri sendiri. Kesatuan organik dari alam ditekankan. Manusia harus hidup dalam keharmonisan dengan alam. Alam mempunyai arti dan maksud.

Atau dengan kata lain, idealisme adalah aliran filsafat yang menekankan “idea” (dunia roh) sebagai objek pengertian dan sumber pengetahuan. Idealisme berpandangan bahwa segala sesuatu yang dilakukan oleh manusia tidaklah selalu harus berkaitan dengan hal-hal yang bersifat lahiriah, tetapi harus berdasarkan prinsip kerohanian (idea).

Oleh sebab itu, idealisme sangat mementingkan perasaan dan fantasi manusia sebagai sumber pengetahuan. Tegasnya, idealisme adalah aliran ilmu filsafat yang menganggap pikiran atau cita-cita sebagai satu-satunya hal yang benar yang dapat dicamkan dan dipahami.

Realitas dalam Pandangan Idealisme
Menurut idealisme bahwa realitas tersusun atas substansi sebagaimana gagasan-gagasan atau ide (spirit). Menurut penganut idealisme seperti William Ernest Hocking bahwa dunia beserta bagian-bagianya harus dipandang sebagai suatu sistem yang masing-masing unsurnya saling berhubungan.

Dunia adalah suatu totalitas, suatu kesatuan yang logis dan bersifat spiritual. Realitas atau kenyataan yang tampak di alam ini bukanlah kebenaran yang hakiki, melainkan hanya gambaran atau dari ide-ide yang ada dalam jiwa manusia.

William Ernest Hocking berpendapat bahwa manusia menganggap roh atau sukma lebih berharga dan lebih tinggi daripada materi bagi kehidupan manusia. Roh pada dasarnya dianggap sebagai suatu hakikat yang sebenarnya, sehingga benda atau materi disebut sebagai penjelmaan dari roh atau sukma. Demikian pula terhadap alam adalah ekspresi dari jiwa.

Selain itu, William Ernest Hocking mengatakan bahwa idealisme berorientasi kepada ide-ide yang teosentris (berpusat kepada Tuhan), kepada jiwa, spiritualitas, hal-hal yang ideal (serbacita) dan kepada norma-norma yang mengandung kebenaran mutlak. Oleh karena nilai-nilai idealisme bercorak spiritual, maka kebanyaakan kaum idealisme mempercayai adanya Tuhan sebagai ide tertinggi atau Prima Causa dari kejadian alam semesta ini.

Sumpah Pemuda merupakan suatu gagasan atau ide yang terbentuk dari persamaan persepsi atas nasib bangsa waktu itu. Apakah pemuda sekarang mampu mengemban amanah Sumpah Pemuda? Pertanyaan ini tentu tidak mudah karena tantangan saat ini yang begitu kompleks mulai dari infiltasi ideologi dan adanya pengaruh internet menjadikan pemuda sulit berpikir dinamis.

Stagnasi pola pikir yang mengarah kepada tumpulnya idealisme seseorang dikhawatirkan menumbuhkan rongga-rongga intoleransi yang mengancam keutuhan bangsa. Dekonstruksi pemikiran merupakan cara yang sangat dibutuhkan sebagai upaya meningkatkan kesadaran akan fungsi dan peran seorang pemuda. Hal tersebut bisa dilakukan dengan belajar filsafat atau tentang pemikiran.

Sikap terbuka dan mau belajar tentang wawasan kebangsaan menjadi kunci utama dalam melanggengkan cita-cita sumpah pemuda. Sehingga pemuda-pemuda Indonesia mampu menjaga kesatuan dan persatuan bangsa dalam bingkai keragaman.

Idealisme adalah harta yang paling mahal bagi seorang pemuda, namun juga menjadi suatu aib bagi pemuda mana kala idealisme tidak diasah dengan pengetahuan dan pengalaman secara terus menerus.



sumber

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply