» » » Pemuda dan Ketidaktertarikannya terhadap Politik


Politik itu kejam. Pandangan itu telah tertanam dalam pikiran masyarakat sebagai salah satu bentuk ideologi yang baru. Banyak orang yang kemudian anti terhadap dunia politik dan enggan bersentuhan dengan para politisi, bahkan memandang sebelah mata para politisi. Namun adapula yang justru menawarkan diri dan mengeluarkan banyak biaya untuk bergabung dalam dunia politik dan menjadi kader-kader partai politik.

Tapi yang begitu memprihatinkan, mereka yang memutuskan menjadi kader-kader partai politik justru bukanlah pemuda-pemuda generasi penerus bangsa. Sehingga mayoritas politisi adalah orang-orang tua yang memilih meninggalkan pekerjaan awalnya untuk bergabung dalam dunia politik. Pertanyaan yang muncul kemudian, “ Mengapa anak muda yang menjadi harapan bangsa menarik diri dan tak ingin bersentuhan dengan dunia politik?”.

Berbicara dari sudut pandang pemuda, terlihat ada begitu banyak ketakutan dalam diri para pemuda mengenai dunia politik. Mereka membenarkan bahwa politik itu kejam. Banyak kader-kader dari partai politik berakhir di rumah tahanan. Orang-orang yang benar bisa disalahkan, orang-orang salah dapat dibenarkan, orang-orang benar memiliki kesulitan untuk mengungkap kebenaran, dan orang-orang yang salah dapat dengan mudah membenarkan sebuah kesalahan.

Para pemuda saat ini begitu skeptis memilih bidang yang ingin ditekuninya. Pada awalnya, banyak pemuda yang termotivasi mengambil jurusan ilmu politik ketika kuliah karena memiliki tujuan mulia untuk memperbaiki sistem politik di negara ini yang begitu dipandang buruk oleh masyarakat. Namun yang terjadi, tak banyak lulusan ilmu politik yang begabung dalam dunia politik. Justru, fakta yang terjadi di masyarakat orang-orang yang menjadi kader-kader partai politik adalah mayoritas dari orang-orang yang memiliki ketertarikan tanpa memiliki ilmu tentang politik. Seperti artis yang berlomba-lomba memasuki dunia politik. Entah tahu atau tidak tentang politik, tentang bagaimana mengatur negara, memimpin rakyat, tapi mereka tiba-tiba saja menduduki kursi di pemerintahan.

Pertanyaan yang belum memperoleh jawaban kembali muncul, “Ada apa dengan para  pemuda penerus bangsa? Mengapa bukan mereka yang bergabung? Memang betul, seseorang tidak akan mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dalam suatu tempat sebelum orang itu sendiri yang memasuki tempat tersebut. Kalian tidak akan mengetahui rasa makanan tertentu tanpa mencicipinya sendiri. Apa yang kemungkinan orang lain katakan mengenai suatu objek mungkin salah atau berbeda saat seseorang mencobanya sendiri. Semua itu bisa menciptakan persepsi yang berbeda karena setiap orang memiliki perbedaan tertentu dalam memandang suatu hal.

Dapat dipahami, ketidaktertarikan dan keengganan pemuda untuk bergabung dalam dunia politik disebabkan oleh banyaknya informasi yang ditampilkan di media mengenai konflik, pertentangan, korupsi, dan sebagainya yang terjadi dalam dunia politik. Banyak orang yang awalnya dikatakan orang jujur, dipercayai oleh masyakarat, setelah masuk politik kemudian dituduh korupsi, menggelapkan dana, menyeleweng dari wewenang, dsb. Kepercayaan kepadanya pun menjadi hilang. Mereka pun harus masuk ke dalam rumah tahanan.

Politik juga menjadi susah untuk dijangkau para pemuda karena biaya yang dibutuhkan jelas bukan biaya yang murah. Hal itu terbukti bahwa hanya mereka orang-orang dari golongan atas yang bermateri yang dapat masuk dalam dunia politik. Bukan hanya itu, mereka yang juga tergolong dari keluarga penguasa yang dapat memasuki dunia politik dengan mudah.

Bekal pengetahuan saja tidak begitu cukup untuk membuat negeri ini maju. Tanpa uang dan kekuasaan, banyak generasi muda yang akan tersingkir. Politik tak sefleksibel ketika orang lain menghujat untuk mencoba politik sendiri. Politik tidak bisa menjadi ajang coba-coba tanpa uang dan kekuasaan.

Hal itu yang membuat banyak pemuda lebih memilih bidang pekerjaan yang lain dibanding politik. Politik dianggap kejam, politik tidak felksibel tanpa uang dan kekuasaan, dan banyaknya pandangan negatif masyarakat terhadap politik yang membuat pemuda pun menjauh dari politik. Politik memang bukan satu-satunya yang akan menentukan nasib bangsa dan negara ini di masa depan.

Tapi politiklah yang secara langsung mengatur tentang urusan kenegaraan negara ini. Meski demikian, para politisi banyak yang tidak mencerminkan sesuatu yang seharusnya menjadi motivasi bagi para pemuda agar tertarik dalam dunia tersebut. Pemuda adalah harapan suatu bangsa.

Bukan hanya yang tergolong sebagai pemuda, sebagian besar masyarakat memiliki pandangan yang buruk tentang politik. Masyarakat golongan atas mungkin tidak terlalu peduli, tapi rakyat ekonomi menengah ke bawah tidak demikian. Rakyat miskin dijadikan sebagai perangkat yang lazim ditenteng-tenteng oleh para politisi. Mereka sering dijadikan barang display atau alat untuk “berjualan”.

Wajah-wajah memprihatinkan mereka hanya terlihat dipublik jika menjelang pemilihan umum. Para kader-kader dari partai politik selalu menjadikan rakyat kecil sebagai daya tarik untuk memperoleh suara yang banyak dalam pemilihan.

Pada masa kampanye pemilihan umum, mereka juga menghambur-hamburkan poster dirinya sedang merasakan penderitaan rakyat kecil. Bukan hanya poster, mereka rela menghabiskan uang untuk membuat sebuah pengambilan rekaman video untuk menunjukkan bahwa mereka dekat dengan rakyat. Bukankah mereka terlalu mengeksploitasi rakyat kecil?

Tak heran, para pemuda lebih memilih bidang kerja lain. Banyak yang berakhir di rumah tahanan karena permainan politik. Jika pemuda memberanikan diri memasuki bidang yang sama, akankah pemuda juga berakhir seperti itu? Kehati-hatian pemuda memilih bidang pekerjaan tertentu untuk digelutinya tentu memiliki alasan.

Mereka jelas tidak ingin mengorbankan masa muda yang dimilikinya di dalam sel karena permainan dalam dunia politik. Gambaran kejam permainan dalam dunia politik sudah banyak di ungkapkan secara gamblang oleh para sastrawan dalam negeri bahkan luar negeri melalui karya-karya yang mereka ciptakan. Pemuda-pemuda yang analitis tentu banyak belajar dari buku-buku seperti itu.

Lalu, bagaimana mungkin generasi muda yang mencintai masa mudanya tertarik dalam dunia yang seperti itu? Sedangkan hal-hal yang mereka saksikan justru memberi ketakutan dalam diri mereka untuk memasuki bidang tersebut.

Dengan demikian, orang-orang yang menjauh dari politik khususnya para pemuda tentu menganggap pilihannya benar. Mereka ingin menyelamatkan masa muda mereka untuk meraih masa depan. Mereka bisa mengharumkan nama bangsa dalam bidang lain. Dan jika pemuda sangat diharapkan dalam politik, bukalah jalan bagi mereka. Hindarkan mereka dari contoh-contoh kurang baik yang ditampilkan para politisi yang telah ada. Beri motivasi yang kuat untuk mendorong mereka lebih berani memasuki dunia politik. Buktikan bahwa politik tidak kejam.



sumber

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply