» » » Pemuda Alergi Politik, Salah Siapa?


Pemuda adalah penggerak atau motor di dalam sebuah mesin yang bernama politik. Yang bahan bakarnya adalah nasionalisme. Di kemudikan oleh pemimpin politik yang akan memandu untuk sampai di tujuan, yaitu Indonesia yang makmur, adil dan sejahtera.

Sejarah membuktikan bahwa pemuda adalah motor yang handal di dalam perpolitikan Indonesia bahkan sejak Republik ini belum lahir. Tidak dapat dipungkiri, Indonesia akhirnya dapat meraih kemerdekaannya tidak lain dan tidak bukan sejak menggalakkan persatuan dan kesatuan yang tentunya merupakan gagasan para pemuda. Sumpah Pemuda yang diikrarkan 28 Oktober 1928 merupakan titik penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan. Dimana ikrar sakti satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa seperti mantra yang dapat langsung menyatukan bangsa yang artinya menyatukan semua kekuatan untuk melawan penjajah.

Pemuda adalah motor politik yang memiliki andil sangat besar dalam meraih kemerdekaan bangsa ini. Jika saja pada tanggal 16 Agustus1945 tidak terjadi perbedaan pendapat antara golongan tua dan golongan muda, dan para pemuda tidak mendesak untuk segera diproklamirkan kemerdekaan, bisa jadi kita belum merdeka saat ini.

Pemuda itu motor super yang kritis meski terkadang sampai anarkis bahkan mampu menggulingkan rezim Soeharto di tahun 1998. Karena kekuatan pemuda inilah rasanya tidaklah muluk jika Soekarno berkata bahwa berikan ia sepuluh pemuda maka ia akan mampu mengguncang dunia.

Begitu besar dan pentingnya peran pemuda zaman dahulu di dalam dunia perpolitikan tanah air. Begitu pedulinya pemuda terdahulu terhadap bangsanya. Namun sangat miris jika dibandingkan dengan potret pemuda saat ini.     

Pemuda pada kenyataannya hari ini, banyak yang tidak sadar akan jati dirinya. Kebanyakan pemuda seperti lupa bahwa mereka mau tidak mau akan menjadi pewaris bangsa ini. Mungkin akibat globalisasi yang menyuburkan sikap individualis, yang membuat nasionalime di kalangan pemuda seakan tamat. Kebanyakan pemuda hari ini bersikap apatis kepada negaranya bahkan tak jarang sampai melecehkan bangsa dan negaranya. Ada yang salah disini. Kebanyakan pemuda memandang negaranya sebelah mata. Mereka merendahkan Indonesia yang kemerdekaannya didapat bukan karena pemberian penjajah seperti kebanyakan negara lain, melainkan kemerdekaannya didapat dengan ditukar ribuan nyawa pejuang.

Sering kita mendengar seruan untuk mencintai tanah air kita, tanah air Indonesia. Tanah tempat kita dilahirkan, dibesarkan hingga nanti tutup usia. Tanah tempat esok anak cucu keturunan kita mengadu nasib dan mudah-mudahan tidak ditindas kerasnya zaman. Bagi pemuda, cinta tanah air, tidak dapat hanya diungkap dengan kata, tetapi harus dengan karya. Bermacam-macam karya yang pemuda berdayakan dalam menggerakkan roda pembangunan disegala sisi, baik ekonomi, sosial, budaya, tetapi terus terang dari sisi politik kebanyakan pemuda alergi. Mengapa? Karena bagi kebanyakan pemuda politik hanyalah cerita basi. Panggung wayang yang orang berkuasa mendalangi. Yang skenarionya tidak jauh dari bagi-bagi kursi hingga korupsi.

Hingga muncul opini, muda berkarya, politik urusan yang tua. Benarkah? Tidak adakah keterkaitan antara kebijakan politik dengan kegiatan ekonomi, sosial dan budaya?

Ternyata salah persepsi. Sebagai contoh ketika seorang pemuda menggarap sisi ekonomi, menempatkan diri sebagai pengusaha bergengsi. Menyerap tenaga kerja demi mengurangi jumlah peminat menjadi TKI, ternyata dibegal birokrasi. Naiknya cukai dan bea ekspor impor, harga bahan baku yang tidak stabil, dan perizinan yang dipersulit serta pekerja yang menuntut naik gaji, alamat perusahaan pun merugi. Para pekerja kini pengangguran tak ada pilihan lagi akhirnya kembali memilih menjadi TKI. Dan kemudian membuat harga diri bangsa ini tercabik lagi ketika TKI banyak yang disiksa dengan keji, bahkan ada yang dihukum mati meski dengan alasan membela diri. Oh malangnya nasib saudara saudari ku sebangsa ini.

Dengan politik pemuda masih juga alergi. Meski dikata ini zaman sudah reformasi. Meski katanya demokrasi harga mati namun nyatanya dalam pemilu pemuda lebih sering jadi golongan putih. Bahkan tak jarang hak suara menjadi barang jual beli. Karena apa yang terlihat, janji-janji calon petinggi itu hanyalah tinggal janji apalagi jika sudah duduk bahkan sampai terbaring di nyamannya kursi. Sampai ingin rasanya di Negeri ini kembali diterapkan golongan oposisi. Yang tugasnya men-cheklist daftar janji satu persatu yang telah ditepati. Lengserkan! Jika kedapatan ingkar janji. Namun apa daya, itu hanya mengakibatkan kestabilan politik yang berimbas menggelapi sisi ekonomi dan mematahkan sendi-sendi investasi.

Pemuda sebagai motor berkekuatan super adalah aset yang harus segera diperbaiki mindset-nya. Pemuda alergi politik sudah seyogianya harus diobati. Harus diobati dengan ramuan yang bernama kepercayaan. Tidak bisa dipungkiri bahwa tingkat kepercayaan pemuda terhadap politik, khususnya terhadap partai politik itu rendah. Apalagi berdasarkan hasil survei terbaru Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), tingkat kepercayaan publik pada partai politik menduduki tempat terendah yaitu hanya mencapai 52,9 persen. 

Tidak salah rasanya hasil survei tersebut karena memang partai politik lama yang ada saat ini tidak melakukan tugasnya dengan baik. Seharusnya partai politik bertugas melakukan kaderisasi melahirkan aktor-aktor politik yang berkualitas, bukan ketika pesta demokrasi akan berlangsung, disitu baru mencari pasangan pengantinnya. Tentu saja untuk dapat duduk menjadi calon pasangan yang dibersanding perlu adanya mahar bahkan sesajen yang tidak sedikit. Maka tidak heran jika banyak aktor politik yang lekat dengan pencitraan dan juga tersandung korupsi.

Beberapa tahun belakangan, mulai bermunculan aktor politik yang memang pantas dikagumi. Tanpa sengaja kebisuan pemuda pada politik mulai terusik. Bahkan dalam sebuah pemilihan kepala daerah muncul sebuah euforia ketika ada aktor politik yang berhasil merebut hati rakyat, yang berniat maju tanpa embel-embel partai politik. Sehingga waktu itu bermunculan para relawan yang jumlahnya fantastis. Namun ketika sang aktor akhirnya berubah haluan, semula independen kemudian berubah didukung partai politik, kredibilitasnya terguncang. Dari fenomena tersebut bisa disimpulkan bahwa hal fundamental yang sebenarnya harus dibenahi dalam dunia perpolitikan Indonesia adalah dari segi partai politiknya.

Partai politik sudah saatnya kembali kepada fungsi aslinya. Partai politik sebagai wadah kaderisasi harus benar-benar menjalankan perannya dalam melahirkan aktor-aktor politik yang memang berkemampuan dan memiliki jiwa nasionalisme tinggi.

Diharapkan setelah partai politik sudah berbenah, melahirkan tokoh-tokoh politik yang berkemampuan, dapat menyehatkan iklim politik Indonesia. Menggugah para pemuda untuk lebih peduli pada politik dan bangsanya. Jika sudah tercapai pemuda Indonesia yang peduli bangsanya, Mari seluruh pemuda Indonesia kita bangkit, tunjukkan siapa kita, kita guncangkan dunia. Kita gemakan Indonesia raya di seantero dunia. Indonesiaku pasti bisa. 



sumber

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply