» » » Pemuda Adalah Koentji


Apa itu pemuda? Satu pertanyaan dengan banyak versi jawaban, tergantung siapa yang menjawabnya, UNESCO memaknai pemuda kepada mereka yang berada pada masa transisi dari masa kanak-kanak menuju periode dimana si “mereka” dituntut untuk menjadi lebih mandiri, independen serta diharapkan memiliki kepekaan sebagai bagian dari masyarakat tempatnya beraktivitas, dengan batasan rentang usia antara 15-24 tahun.

Sedangkan Indonesia, melalui UU 40/2009 tentang Kepemudaan mendefenisikan pemuda adalah warga negara Indonesia yang memasuki periode penting pertumbuhan dan perkembangan yang berusia 16-30 tahun, itu definisi pemuda dari UNESCO dan UU Kepemudaan.

Jika pertanyaan yang sama ditujukan kepada band Punk asal Bali SID, maka jawaban mereka adalah “beda dan berbahaya”.

Bung Karno pernah mengeluarkan kalimat sakti terkait pemuda, “Berikan aku 10 orang pemuda, maka kuguncang dunia” kira-kira begitulah bung besar Sukarno memaknai betapa ganas potensi anak muda jika mereka dibina, diarahkan serta digerakkan, lihat saja tawuran-tawuran pelajar atau perang antar suporter sepak bola, mereka semua anak muda, atau mayoritas pada suporter sepak bola. Nekat dan sangat “darah muda”.

Darah-darah muda jugalah yang membuat sejarah mencatat peristiwa Rengasdengklok, peristiwa pada suatu malam dibulan Agustus, dimana para pemuda mendesak para “kaum tua” untuk segera memproklamirkan kemerdekaan Indonesia, dengan cara mengancam, disertai penculikan bung Karno dan bung Hatta ke daerah bernama Rengasdengklok, Jawa Barat.

Tanpa peristiwa Rengasdengklok, mungkin bangsa ini tidak merayakan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945. Atau tanpa gelombang mahasiswa, buruh dan segala elemen pergerakan ditahun 1998, tentu kita tidak akan menikmati kebebasan berpendapat seperti yang kita lakukan di media sosial di setiap waktu kita.

Darah muda para pemuda memang sebuah aset berharga bagi bangsa dan pemuda itu sendiri, ditambah binaan dan arahan yang tepat, akan menjadi sesuatu yang luar biasa, dimasa lalu banyak tokoh-tokoh bangsa yang terjun ke dunia pergerakan pada usia muda. Bung karno misalnya beliau mendirikan Partai Nasional Indonesia pada tahun 1927 pada saat usianya 26 tahun, Sutan Sjahrir menjadi ketua PNI Baru pada usia 23 tahun, atau DN Aidit yang pada usia 28 tahun menjadi ketua partai fenomenal PKI.

Situasi dan kondisi politik, serta binaan yang tepat dari para guru-guru politik ditambah Dengan “darah muda” yang melekat,   hal-hal itulah yang membuat banyak pada masa itu lahir tokoh-tokoh muda pergerakan. Jika boleh berandai-andai, andai saja situsi politik dimasa lalu, adem ayem seperti dimasa sekarang, apakah masa itu akan melahirkan tokoh-tokoh diatas? Bisa saja iya, bisa saja tidak.

Itu Perandaian yang serius, melihat kencendrungan bagaimana mayoritas anak muda masa sekarang melihat hal-hal yang berbau politik, cenderung apatis.

Sesuai hasil penelitian yang dilakukan kompas pada 2011, yang menunjukkan bahwa sebanyak 57 persen kurang  perhatian pada masalah nasional, hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa 63 persen anak muda lebih berorientasi kepada diri sendiri,  dipenelitian lainnya, oleh Transparency International Indonesia (TII)  dengan tujuan untuk mengetahui tingkat kepedulian anak muda terhadap praktik korupsi, menemukan bahwa sebesar 60 persen anak muda menyatakan cuek saja ketika melihat praktik korupsi di sekitarnya, dimana 40 persen beralasan kasus itu bukan urusannya.

Berorientasi terhadap diri sendiri, kurang perhatian terhadap isu nasional, cuek terhadap praktik korupsi disekitarnya, kesimpulan-kesimpulan penelitian diatas bermuara pada satu Hipotesa yaitu mayoritas generasi muda sedang dilanda apatisme politik.

Apa itu apatisme politik? apatisme politik anak muda secara sederhana adalah fenomena ketidakpedulian anak muda terhadap jalannya pelaksanaan politik dalam pemerintahan. Studi lain yang menguatkan hipotesa diatas adalah penelitian dari Lembaga Survei Indonesia (LSI) pada tahun 2012 tentang minat berkarir anak muda dimasa depan, menemukan bahwa 79 persen anak muda tidak tertarik untuk berkarir sebagai politisi, pilihan terbanyak ditempati profesi wiraswasta dan PNS.

Fenomena apatisme Politik ini bisa jadi disebabkan karena kurangnya pendidikan politik, gaya hidup yang hedon, dan perilaku korup politikus.


Dampak Apatisme Politik Anak Muda

Politik bagi mayoritas anak muda, adalah sebuah hal yang berkonotasi negatif, mulai dari kampanye kotor, politik kepentingan, KKN dan segala macam penyimpangan lainnya yang dilakukan politikus. Bisa jadi itu stereotipe sebagian anak muda memandang politik.

Pertanyaannya, apakah politik pada khitahnya memang sekeji dan sekotor itu?

Jawabannya, tidak, 100 persen tidak. Secara sederhana politik diartikan sebagai Pembagian kekuasaan dalam masyarakat pada segelintir individu sebagai wakil masyarakat yang berwujud pada pembuatan keputusan untuk kebaikan bersama masyarakat. Sigkatnya pembagian kekuasaan untuk kebaikan bersama. Hakikatnya politik adalah hal mulia.

Politik dinegara ini bertujuan pada satu hal yaitu kesehjateraan sosial bagi seluruh masyarakatnya. Jika yang terjadi sekarang adalah politik menjadi hal yang dibenci oleh sebagian anak muda, maka yang patut disalahkan bukan politik itu sendiri, tapi pelaku-pelaku politik didalamnya.

Merujuk pada pengertian politik diatas, maka sudah selayaknya anak muda sebagai bagian dari masyarakat negara mengawasi jalannya pelaksanaan politik pemerintahan. Toh seyogyanya Mereka para wakil-wakil rakyat, dan para birokrat merupakan “alat” negara untuk mencapai tujuan politik negara yaitu kesehjateraan sosial bagi seluruh masyarakat.

Lalu apa yang terjadi jika apatisme anak muda terhadap politik terus terjadi?

Negara ini tidak akan kemana-mana, stagnan pada kondisi yang tanpa perubahan yang progressif. Apa pasal? ketidakpedulian terhadap jalannya pemerintahan akan menyebabkan anak muda buta politik, buta politik akan menimbulkan dua kemungkinan saat pemilu, kemungkinan pertama bisa jadi banyak anak muda yang golput, kemungkinan kedua, anak muda menggunakan hak suaranya pada pemilu, tanpa pertimbangan yang matang dalam menentukan pilihan, tanpa melihat rekam jejak calon-calon kandidat.

Dua kemungkinan tersebut, mengahsilkan satu akibat kemungkinan yang sama, yaitu kemungkinan terpilihnya kandidat-kandidat yang bukan terbaik, kandidat yang terpilih karena punya modal, punya tim media yang bagus sehingga bisa menggiring opini publik, padahal rekam jejak dan kinerjanya minus.

Akibatnya, cita-cita politik negara ini tidak akan tercapai karena “alat” untuk mencapainya diisi oleh orang-orang yang masuk arena politik dengan ribuan agenda kepentingan busuk. Dan pada akhirnya, ketimpangan ekonomi akan terus berlanjut, korupsi akan terus subur, sementara anak muda makin apatis terhadap politik. Semacam siklus setan apatisme politik.


Potensi Anak Muda terhadap Politik Indonesia

Potensi adalah kemampuan yang mempunyai kemungkinan untuk dikembangkan, maka jika dikaitkan terhadap politik Indonesia, anak muda mempunyai potensi yang luar biasa untuk “mengatur” jalannya politik negara ini.

Ada beberapa faktor yang mendukung hal itu terjadi, Pertama terkait Rata-rata usia penduduk Indonesia adalah 28.6 tahun (perkiraan tahun 2016), Ini adalah median age yang berarti separuh dari populasi Indonesia berusia 28.6 tahun lebih dan separuhnya lagi umurnya di bawah 28.6 tahun (CIA World Factbook).

Artinya jika batas usia muda yang dianut Indonesia sesuai UU Kepemudaan adalah sampai umur 30 tahun, maka separuh lebih penduduk Indonesia adalah anak muda, artinya anak muda mempunyai bargaining power yang tinggi dalam politik negara ini.

Faktor Kedua, untuk soal indepedensi terhadap politik, anak muda adalah segmen yang bisa diandalkan, fanatisme terhadap partai politik cenderung rendah, dibanding “golongan tua” sikap politik ini menempatkan anak muda pada kelompok swing voter, atau pemilih yang berubah atau berpindah pilihan partai atau calon dari satu Pemilu ke Pemilu berikutnya.

Dengan indepedensinya dari partai politik, dan kuantitas yang mayoritas, ditambah dengan kesadaran akan politik atau melek politik, anak muda bisa mengarahkan arah perpolitikan bangsa ini. Merupakan hal biasa nantinya ketika pemilu/pilkada lahir kandidat-kandidat baru yang bersih dan kompeten, walau minim modal.

Partai politik pun akan memperbaiki sistem kaderasi mereka dalam menghasilkan negarawan, dikarenakan kecenderungan mayoritas pemilih yang sangat kritis terhadap kandidat-kandidat yang diajukan parpol. Dan ini semua bukan lah hal mustahil terjadi, asumsinya hanya satu, pemuda melek politik.

Hambatan utama kini adalah sikap apatisme politik anak muda, seperti uraian akibat apatisme politik diatas, anak muda harus sadar akan dampak apatisme politik mereka pada jalannya politik pemerintahan bangsa ini, yang berdampak luas.

Perlu ada pendidikan politik bagi anak muda, institusi pendidikan dan media mempunyai peran besar dalam hal ini. Atau gunakanlah opsi kedua, tumpas semua perilaku korup oknum politikus. Jelas opsi kedua berat dan untuk saat ini nyaris mustahil terwujud.


Akhir Kalam

Pemuda memainkan peranan penting dalam perjalanan sejarah bangsa ini, dimasa lalu banyak tokoh besar “lahir” pada usia muda, pembinaan dan pendidikan politik yang baik menjadi faktor utama munculnya tokoh-tokoh muda dalam politik dimasa lalu. Sayangnya dimasa kini, anak muda Indonesia cenderung mengalami apatisme politik padahal, dengan melihat potensi-potensi yang dimiliki anak muda, mereka bisa menjadi kekuatan politik tersendiri.

Maka, melihat potensi-potensi yang dimiliki anak muda diatas. Bisa ditarik kesimpulan tegas terakit anak muda dan politik. Bahwa dalam politik Indonesia, Pemuda adalah Koentji!!!



sumber

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply