» » » Mencari Sosok Pemimpin


"If you want to know what a man's like,take a good look at how he treats his inferiors,not his equals"- Sirius Black

Bahwa bangsa ini sedang mengalami krisis kepemimpinan kita semua tentu sudah tahu. Sudah tidak ada lagi figur-figur teladan sekelas Agus Salim,Muhammad Hatta,Syahrir atau Soekarno - sekadar menyebut beberapa nama. Memang ada beberapa nama yang akhir-akhir ini dinilai mumpuni dan patut dijadikan teladan,namun perlu waktu untuk membuktikannya. Untuk menguji "keimanan" mereka.

Bahwa muncul pemimpin-pemimpin muda visioner yang mampu membawa perubahan positif tentu kita semua patut mensyukuri. Bersyukur dan tetap memantau dengan sikap kritis. Jangan sampai figur yang kita pujapuji hari ini adalah orang yang justru layak mendekam di balik bui.

Jangan mudah percaya dengan apa yang Anda baca atau lihat di TV. Tidak semua yang diberitakan di media benar adanya. Coba Anda pikir lagi: Media cetak dan elektronik hari ini sudah menjadi "alat" partai politik. Lembaga survei yang katanya independen toh nyatanya bisa dibeli. Apalagi akun sosial media. Kesahihan informasi yang Anda terima hari ini harus disaring dan dicermati dengan kritis.

Bahwa ada figur-figur "bersih" yang tampil di TV dengan wajah lugu dan niat baik untuk "mengabdi kepada negara" dan ternyata mempunyai "tim pencitraan" tentu bukan hal yang mengejutkan. Selama Anda mempuyai pundi-pundi yang cukup,apa yang tidak bisa dibeli di negeri ini?

Tak usah muluk-muluk mendambakan pemimpin yang berhati mulia seperti Ali bin Abi Thalib atau sahabat-sahabat nabi yang lain. Tak usah bermimpi mempunyai pemimpin setulus Pepe Mujica. Atau membayangkan ada pemimpin seperti Ahmadinejad di negeri ini. Tak usah. Cukup pemimpin yang rendah hati dan tidak gila sensasi saja. Cukup pemimpin yang tegas dan berpendirian kuat saja. Cukup pemimpin yang benar-benar memimpin untuk kemaslahatan umat - bukan mereka yang hanya ingin memperkaya diri,keluarga dan para kroni.

Seperti kutipan di awal tulisan ini,sosok pemimpin yang baik itu bisa dilihat dari bagaimana ia memperlakukan orang-orang kecil di sekelilingnya. Seperti Ali yang "blusukan" malam-malam dan membawakan sekantung beras untuk rakyatnya yang kelaparan. Bukan mereka yang tersenyum ramah di media namun emoh dengan orang-orang "kecil" di sekitarnya. Bukan mereka yang jago pencitraan namun berhati setan.

Ah,apakah itu terlalu utopis? Rasanya tidak. Sebenarnya masih banyak orang "benar" di negeri ini. Tapi sistem kadang membuat mereka hilang (atau menghilang) dari pusat orbit. Mereka ingin membuat perubahan tapi sistem menyingkirkan mereka.



sumber

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply