» » » KNPI dan Masa Depan Kepemudaan di Indonesia


Tidak ada yang mengira sebelumnya, wadah berhimpun kaum muda bernama Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) dapat tumbuh, berkembang, dan eksis hingga kini. Berdiri sejak 23 Juli 1973, KNPI merupakan wadah berhimpun terbesar, majemuk (plural) dan terluas yang dimiliki oleh kaum muda Indonesia. Memasuki usia ke-44 tahun, tidak mudah mengelola dinamika internal KNPI sekaligus merespon tantangan eksternal kaum muda.

Dapat dibayangkan, entitas organisasi yang berhimpun di KNPI terdiri dari beragam latar, haluan keagamaan maupun politik. Berdasarkan Kongres XIV KNPI Papua, sedikitnya 154 organisasi kemasyarakatan pemuda yang terhimpun. Secara umum, entitas organisasi yang berhimpun di KNPI terbagi menjadi empat cluster.

Pertama, entitas organisasi berbasis keagamaan; kedua, entitas organisasi sayap partai politik; ketiga, entitas organisasi mahasiswa; keempat, organisasi bercorak profesi dan komunitas. Adapun komposisi terbesar di KNPI, masih dominan diwarnai oleh organisasi kemahasiswaan, keagamaan, dan berlatar sayap politik partai. Secara kelembagaan, KNPI memiliki basis di level provinsi, kota atau kabupaten hingga tingkat Kecamatan/Distrik.

Melihat basis persebaran dan keragaman itu, tidak heran bila ada pihak-pihak yang ingin menggunakan KNPI untuk kepentingan politik pribadi atau kelompoknya. Mengingat, entitas organisasi kaum muda yang tergabung cukup banyak serta berlimpah sumber daya manusia.

Berkat komitmen bersama di tingkat organisasi pendiri dan entitas organisasi yang tergabung dalam kelompok Cipayung, friksi dan ketegangan yang muncul relatif dapat dikendalikan. Semangat ini yang melatari penyelenggaraan hajat Kongres KNPI di Papua. Meski telah berlangsung demokratis dan konstitusional, tetapi upaya membentuk wadah berhimpun kaum muda dengan nama yang serupa tetap saja tidak pernah surut.

Faktor ini menjadi sebab, nilai, peran serta manfaat KNPI dalam proses kehidupan kenegaraan dan kebangsaan dihantui krisis orientasi. Tidak sedikit energi yang terkuras mengelola dinamika internal KNPI yang bermuatan pelemahan bahkan penghancuran kelembagaan.


Masa Depan Organisasi Kepemudaan

Sejatinya, delegasi yang berhimpun dalam wadah KNPI merupakan kader-kader terbaik dari organisasi asalnya. Kader terbaik ini kembali diuji dalam mengelola dinamika internal kepemudaan-kemahasiswaan di wadah besar KNPI. Muaranya, adalah pembentukan karakter, mentalitas, kearifan serta kematangan seseorang untuk bisa menempatkan kepentingan dan kebaikan bersama melampaui ambisi pribadinya.

Tugas internal KNPI adalah membentuk iklim yang sehat agar entitas organisasi yang berhimpun di dalamnya tidak cepat untuk mudah keluar-masuk. Biasanya, realita ini akan terlihat jelang prosesi kongres pemuda atau ketika periode kepengurusan telah terbentuk dan berjalan. Kendati bergabung atau tidak merupakan keputusan tiap organisasi, tetapi upaya membentuk iklim kehidupan keorganisasian pemuda perlu diciptakan. Agar kredibilitas, integritas dan akuntabilitas organisasi kemahasiswaan-kepemudaan semakin kuat dan sehat. DPP KNPI tengah melakukan verifikasi terhadap entitas organisasi yang sudah atau akan bergabung. Verifikasi bersifat evaluatif dan bertujuan melakukan penyehatan organisasi dari dan untuk pemuda.

Tantangan eksternal pemuda adalah mengawal proses demokrasi menuju pada pendulum keadilan serta kemakmuran masyarakat. Tugas ini tidak mudah di tengah gelombang globalisasi yang mengintegrasikan dunia ke dalam satu komunitas besar (the global village). Globalisasi menyertakan asas kebebasan, keterbukaan serta persaingan (kompetisi) murni. Tak terkecuali kebebasan lalu-lintas modal, investasi, industri, informasi bahkan pasar produk, nilai, budaya, sampai tenaga kerja. Bagi negara-negara yang cermat dan siap menghadapi transformasi wajah dunia dapat memetik manfaatnya.

Sebaliknya, negara yang tidak punya rancang bangun, akan tertinggal dan menjadi objek atau target pasar negara adikuasa. Pasalnya, globalisasi tidak mengacu pada titik berangkat dan kesiapan yang sama.Faktor eksternal ini membaur dengan proses demokratisasi politik di Indonesia. Ujiannya adalah bagaimana implementasi demokrasi menyasar pada perbaikan kualitas kehidupan kemasyarakatan, kenegaraan dan kebangsaan.

Terkait hal ini, organisasi kepemudaan seharusnya dapat menjadi enclave (wadah), penyedia kader-kader terbaik sekaligus mainstream pembangunan yang dirumuskan melalui rumusan kebijakan. Kelebihan yang tidak dimiliki entitas lain, organisasi kepemudaan dapat beradaptasi serta berakselerasi di berbagai situasi.

Berbeda dengan entitas formal pendidikan, organisasi kepemudaan terbukti mampu mengkonversi relasi antar anggotanya menjadi energi gerak yang memiliki nilai tambah. Biasanya, mereka yang mengikuti proses perjenjangan kaderisasi, mental dan kepiawaian mengelola persoalan lebih tangguh dari individu yang tak pernah mengenyam pergumulan di organisasi kepemudaan. Tiap anggota organisasi diberi keleluasaan, kebebasan untuk bergumul atau mencari pengetahuan dari sumber apa saja. Bisa melalui buku, konflik, diskusi, interaksi sosial, para pendahulu atau kalangan senior. Sadar atau tidak, peran organisasi kepemudaan merupakan wahana pembelajaran alternatif pembentuk nilai, mental dan karakter kaum muda.

Melihat peran dan fungsinya, urgensi menghadirkan rancang bangun (milestone) kaum muda melalui organisasi kepemudaan sebagai motornya seharusnya sudah dilakukan. Mengingat, bonus demografi yang diproyeksikan akan terjadi pada 2020-2030 sudah di depan mata. Berkaca dari India dan Cina, keberlimpahan kaum muda usia produktif, mampu dikonversi sebagai elemen tidak langsung mendongkrak pertumbuhan ekonomi negaranya.

Idealnya, milestone kepemudaan ini tidak lagi diserahkan pada mekanisme alamiah seperti yang sudah berjalan selama ini. Narasi ini harus dijabarkan dan disepakati bersama antara kaum muda, organisasi kepemudaan dan institusi negara yang terkait. Muaranya mewujud berupa tahapan yang disepakati bersama dan diaplikasikan melalui rumusan program kebijakan. Di level hilir, KNPI yang mewadahi entitas organisasi kepemudaan menjadi elevator dan kolaborator potensi kaum muda. Semoga catatan kecil ini semakin menguatkan keyakinan dan optimistik kita bersama untuk memperkuat peran organisasi kepemudaan di masa yang akan datang.

Penulis: Muhammad Rifai Darus

Ketua Umum DPP KNPI 2015-2018




sumber

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply