» » » Indonesia Butuh Pemimpin Muda


Dalam dunia politik usia dianggap sebagai sebuah tolak ukur kemapanan seseorang untuk memimpin. Buktinya, demografi pemimpin di Indonesia saat ini  didominasi oleh generasi dengan rentang usia 50 - 70 tahun. Padahal, negara-megara maju di dunia mulai memperhitungkan masuknya generasi muda di berbagai bidang kerja, termasuk politik.

Lihat saja Bill Gates,  seorang tokoh bisnis, investor, filantropis, penulis asal Amerika Serikat, serta mantan CEO yang saat ini menjabat sebagai ketua Microsoft, berhasil menduduki peringkat pertama orang terkaya di dunia selama 14 tahun berturut-turut. Ia mendapatkan predikat tersebut pada 1995 dalam usia yang relatif masih muda, yaitu 40 tahun.

Pendiri Facebook, Mark Zuckerberg baru menginjak 33 tahun, pada tahun 2017 ini. Forbes.com mencatat, nilai kekayaan Zuckerberg pada tahun 2017 menembus angka 55,5 miliar dolar AS atau sekitar Rp750 triliun. Zuckerberg yang terkenal berkepribadian sederhana, pertama kali mencatatkan nama dalam jajaran anak muda terkaya di dunia dalam usia sangat belia yaitu 23 tahun.

Bill Gates dan Mark Zuckerberg memberikan perubahan yang sangat besar pada bidang ekonomi, sosial dan teknologi di dunia. Lihatlah hasil karya mereka, yakni microsoft dan Facebook,yang kini hampir dimiliki setiap orang. Jika dua orang tersebut tidak ada, mungkin dunia tidak seperti sekarang. Atau bahkan tulisan ini pun tidak bisa diakses dan dibaca oleh anda.

Dalam dunia politik, Indonesia sebenarnya pernah punya pemimpin muda, yakni Presiden pertama RI Sukarno. Ia mendeklarasikan kemerdekaan RI pada usia 44 tahun. Padahal usia tersebut dianggap masuk golongan tua oleh kelompok muda saat peristiwa penculikan Rengasdengklok.

Presiden Ri ke-2 Soeharto menjabat pada usia relatif muda, yakni 47 tahun. Presiden RI ke-3 BJ. Habibie bahkan mulai berpolitik pada usia jauh lebih muda, yaitu 37 tahun saat diminta menjabat sebagai Menteri Negara Riset dan Teknologi.

Usia produktif secara statistik berusia antara umur 35 -- 44 tahun dan usia 45 -- 54 tahun. Usia terseut adalah usia produktif potensial, yakni sebagai tenaga kerja produktif, mulai sebagai tenaga kerja produktif sampai tenaga yang menduduki manajer sampai dengan leadership yang akan menjadi pemimpin di negeri ini.

Indonesia diprediksi akan memasuki masa emas pada tahun 2045, yaitu di usia 100 tahun kemerdekaan. saat ini Indonesia tengah mengalami bonus demografi di mana jumlah usia produktifnya sangat banyak.

Untuk memenuhi Indonesia emas di 2045, Indonesia harus memenuhi tiga aspek: Indonesia harus aman dan damai, Indonesia harus adil dan sejahtera, Indonesia harus maju dan mendunia. Penyiapan sumber daya manusia adalah hal yang teramat penting.

Negara Korea Selatan menjadi besar seperti saat ini sama seperti Indonesia, pernah terpuruk dan hancur. Tahun 60-an PDB Korea Selatan berada di bawah Indonesia, tapi dalam waktu singkat mereka bisa menguasai dunia melalui inovasi-inovasinya. Masyarakat Korea Selatan pun dididik untuk mencintai negaranya melalui program wajib militer.

Mereka disiplin melalui wajib militer, tetapi di saat yang bersamaan mereka juga bangsa yang inovatif melalui pendidikan sumber daya manusianya. Indonesia memiliki anak-anak muda yang penuh semangat dan memiliki sifat pejuang. Anak-anak muda punya will power, dedikasi yang tidak mudah patah. Anak muda memiliki segala energi dan waktu yang banyak untuk mewujudkan itu semua.

Akan sayang rasanya jika tekad dan ambisi generasi muda ini tidak dimanfaatkan untuk kemajuan bangsa. Sangat pantas dirasa jika generasi muda ini memimpin, melihat potensi mereka yang ada. Presiden RI ke-3 BJ Habibie dalam berbagai kesempatan sering mendorong kaum muda untuk ambil alih kepemimpinan, dan menyarankan kepada kaum tua untuk menyudahi ambisinya lalu menjadi negarawan yang baik.

Habibie bahkan menetapkan rangeusia pemimpin yang potensial, yakni pada usia 40 sampai 65 tahun. Namun dengan catatan, pemimpin tersebut harus bisa merangkul semua pihak, tidak hanya pihak tertentu.

Masa depan sebuah bangsa sangat ditentukan oleh generasi muda Bangsa ini. Kaum Muda Indonesia adalah masa depan Bangsa ini. Untuk mewujudkan cita-cita bangsa dan juga mempertahankan kedaulatan Bangsa, generasi muda menjadi penerima tongkat estafet dari generasi sebelumnya.

Dalam upaya mewujudkan cita-cita dan mempertahankan kedaulatan bangsa ini tentu akan menghadapi banyak permasalahan, hambatan, rintangan dan bahkan ancaman yang harus dihadapi. Masalah-masalah yang harus dihadapi tentu beraneka ragam. Banyak masalah yang timbul sebagai warisan masa lalu, masalah yang timbul sekarang maupun masalah yang timbul di masa depan negara kita.

Dengan masalah-masalah yang sudah ada maupun yang akan datang, penting bagi rakyat Indonesia, terutama kaum pemuda untuk membiasakan diri dalam meningkatkan dan memperbaiki produktifitas kita sebagai Bangsa Indonesia.



sumber

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply